Tim Promkes RSST – Masyarakat modern yang saat ini sudah terintegrasi, dapat ditemui sebuah publik komunikasi yang besar. Besar kecilnya jaringan biasanya tergantung pada perkembangan media yang ada. Sebuah jaringan komunikasi dapat mencapai dan melibatkan semua anggota masyarakat. Supaya disebut dengan jaringan komunikasi maka harus terdapat alat yang digunakan untuk mengirim dan penerima pesan, pertukaran pesan tersebut harus aktif, yang mana dari setiap kelompok masyarakat secara aktif berpartisipasi dalam sebuah jaringan komunikasi (Morissan et al., 2013).

Gadget merupakan alat elektronik yang tercipta khusus di era modern dengan tujuan untuk membantu segala sesuatu menjadi lebih mudah dan praktis terutama dalam kegiatan berkomunikasi. Gadget membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan manusia di berbagai bidang. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh pola kehidupan manusia baik dari segi pola pikir maupun dari segi perilaku. Menjadi tech savvy atau pengemar teknologi yang baik dapat menguntungkan personal kita, salah satunya dapat membantu bekerja di lingkungan tempat kerja yang sering menggunakan teknologi yang maju. Dengan begitu dapat mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara online. Maka dari itu, penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya mempengaruhi kehidupan orang dewasa, anak-anak juga mendapat pengaruh dari gadget (Witarsa et al., 2018).

Sebuah survei mengungkapkan bahwa anak-anak mulai usia 4 tahun sudah memlilki perangkat mobile sendiri tanpa adanya pengawasan orang tua. Karena pemikiran orang tua saat ini adalah memberikan gadget merupakan sebuah piranti untuk “pengasuh” anak mereka. Di Amerika juga terdapat sebuah data statistik yang menyebutkan, sekitar 60 persen orang tua memanfaatkan tablet atau gadget, sebagai alat untuk menjaga anak-anak mereka. Dengan demikian, teknologi sebagai ragam manfaat yang diperoleh orang tua untuk anak-anak, benda-benda teknologi terutama perangkat bergerak, pun memiliki beragam kegunaan bagi mereka. Akan tetapi, penggunaan teknologi tersebut patut diwaspadai adanya dampak buruk yang mungkin akan ditimbulkan seperti halnya televisi yang menjadi favorit keluarga diyakini berdampak akan berkurangnya interaksi anak dengan orangtua (Fajrina, 2015).

Sedangkan di Indonesia sebuah survei menemukan sebanyak 50,1% ibu menyebutkan bahwa anak sering uring-uringan jika dipisahkan dengan gadget. Tetapi orang tua masih berhasil mengalihkan perhatian anak ke lain hal. Sementara sebanyak 46,1 persen anak tidak memberikan respons sama sekali ketika gadget diminta sementara waktu. Akan tetapi, 3,7 persen di antaranya mengaku kesulitan menghadapi anak-anak mengamuk gara-gara gadget yang tidak lagi dibawanya. Stimulasi antara anak dengan orang tua harus dilakukan dua arah. Memberikan gadget dalam usia dini akan berdampak pada anak, karena memberikan gadget membuat komunikasi akan berjalan satu arah (Sinaga, 2019: 171).

Sejak gadget menjadi sebuah keharusan yang harus dimiliki masyarakat banyak orang menjadi sedikit individualis, bahkan di suatu tempat atau perkumpulan akan manjadi sunyi tanpa adanya percakapan antar individu hanya karena adanya gadget. Semenjak munculnya gadget interaksi berubah menjadi online menggantikan interaksi secara langsung. Seperti kecanduan, kita sangat sulit untuk mengendalikan dan mengatasi untuk menggunakan gadget. Kadang juga dapat menunda-nunda aktivitas atau pekerjaan hanya karena sedang bermain gadget (Salehah, 2019: 2).

Pemakaian gadget bagi anak sudah sepantasnya dibatasi. Terutama anak anak sebelum usia sekolah, membutuhkan interaksi fisik untuk membangun bagian parietal cortex di otak mereka. Parietal cortex adalah bagian dari otak yang melakukan proses visual-spasial dan dapat membantu anak-anak memahami sains dan matematika. Gadget tentu tidak sebanding dengan masa depan anak-anak kelak saat mereka memasuki usia dewasa. Orang tua harus memberi keputusan tegas demi masa depan anak-anak mereka sendiri (Zaenudin, 2017).

Oleh karenanya intensitas anak dalam penggunaan gadget di masa pandemi COVID-19 saat ini meningkat dengan pesat, seiring dengan keragaman tugas sekolah yang mengharuskan anak untuk berinteraksi dengan gadget selama dipergunakan untuk mengerjakan tugas yang  diberikan oleh pihak sekolah, mungkin masih dirasakan sebagai hal yang wajar. Namun ketika alih fungsi dari gadget yang dipergunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat kemungkinan dampak yang ditimbulkan semakin besar.

Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut, maka akan berpengaruh pada perkembangan sosial anak. Saat orang tua lebih memberikan gadget kepada anak usia dini, supaya anak tersebut diam di rumah dan orang tua tidak susah untuk melakukan pengawasan. Di sisi lain hal ini ternyata sangatlah menganggu perkembangan sosial anak, anak tidak akan mengetahui bagaimana situasi di luar rumah, tidak akan berinteraksi dengan teman sebaya, dan anak akan memiliki kepercayaan diri rendah karena kurangnya interaksi ke sesama. Apalagi hal ini juga dipengaruhi dengan adanya pandemi COVID-19 yang juga mengharuskan untuk menghindari kerumunan ataupun mengurangi mobilitas seseorang, meskipun demikian seharusnya pengggunaan gadget pada anak tetaplah dibatasi, dan interaksi sosial anak dengan yang lainnya tetap berjalan walaupun mengharuskan penerapan protokol kesehatan COVID-19 saat ini, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan maupun mengurangi mobiltas yang tidak perlu. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Fajrina, H. N. 2015. Tingkat Kecanduan Gadget di Usia Dini Semakin Mengkhawatirkan.
  2. Morissan, Andy Corry Wardhani, Farid Hamid U, & Sikumbang, R. 2013. Teori Komunikasi Massa : Media, Budaya, dan Masyarakat. Ghalia Indonesia.
  3. Witarsa, R., Hadi, R. S. M., Nurhananik, & Haerani, N. R. 2018. Pengaruh Penggunaan Gadget Terhadap Kemampuan Ineraksi Sosial Siswa Sekolah Dasar.
  4. Sinaga, D. 2019. Anak-anak “Generasi Gadget” dan Tantangan Pola Asuh.
  5. Salehah, M. 2019. Dampak Penggunaan Gadget terhadap Interaksi Sosial.
  6. Zaenudin, A. 2017. Risiko Kecanduan Gawai Pada Anak-anak.
  7. S, G., & Broto, D. 2014. Kementerian Komunikasi dan Informatika.
  8. Dewi Aqlima. 2020. Pengaruh Intensitas Penggunaan Gadget Terhadap Perubahan Interaksi Sosial Pada Anak. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri.