Tim Promkes RSST – Seperti kita ketahui, konsumsi makanan masyarakat saat ini tidak hanya makanan pokok tapi juga termasuk jajanan yang ditemukan hampir di setiap daerah baik perkotaan maupun pedesaan. Bahkan banyak juga dari keluarga khususnya di perkotaan yang karena keterbatasan waktu menjadikan jajanan sebagai sumber makanan yang paling mudah untuk dikonsumsi. Selain praktis, keanekaragaman pilihan dan tersedia di banyak tempat, juga harga yang cenderung masih terjangkau.

Dan kita ketahui juga bahwa masalah kesehatan yang paling utama pada masa lampau adalah penyakit menular, tapi tidak untuk sekarang dan masa-masa yang akan datang. Diperkirakan bahwa semakin hari akan terjadi peningkatan penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif ini banyak dipengaruhi oleh gaya hidup, pola konsumsi makanan, kualitas aktifitas fisik yang menurun, dan kemudahan berbagai macam akses yang membuat orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan aktifitas dunia maya. Terjadi banyak perubahan dan perkembangan konsumsi pangan, baik dari jenis makanan, pola makan dan bahan-bahan makanan yang akan diolah. Sebagai sumber gizi yang akan menunjang kehidupan manusia kebutuhan akan makanan itu sendiri akan meningkat dan beraneka ragam. Selain itu jumlah pendapatan keluarga akan mempengaruhi sumber makanan dan jenis makanan yang dikonsumsi.

Masyarakat Indonesia pada umumnya menyukai makanan yang digoreng. Proses pengolahan yang mudah serta menimbulkan efek gurih menjadikan makanan yang digoreng senantiasa menjadi pilihan. Jajanan gorengan yang dalam pengolahannya dengan metode deep frying dimana seluruh makanan terendam minyak pada saat penggorengan sehingga makanan menjadi renyah. Proses deep frying ini akan menyebabkan berbagai reaksi kimia antara lain : hidrolisis, oksidasi, siklisasi dan polimerasi minyak. (Chalid et. al. 2008)

Makanan jajanan yang dijual oleh pedangan kaki lima atau dalam istilah lain disebut “street food”, menurut FAO (Food Assosiation Organisation) didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003, makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan / restoran, dan hotel. Dari definisi di atas bahwa jajanan merupakan makanan dan minuman yang dijual di tempat-tempat umum, keramaian, yang biasanya disajikan dalam waktu singkat dengan harga relatif murah dan terjangkau. Jajanan dapat banyak ditemui di sekitar sekolah-sekolah dengan beraneka ragam dan harga yang relatif murah.

Kebiasaan mengkonsumsi jajanan gorengan juga akan dapat menyumbang peningkatan lemak dalam tubuh. Lemak yang berlebihan akan didistribusikan ke bagian upper dan lower body sehingga menimbulkan obesitas. Konsumsi gorengan yang cenderung tinggi kalori akan menyebabkan terjadinya lipogenesis. Selain faktor genetik, asupan makanan yang berlebih dan kurangnya aktifitas fisik dapat menyebabkan terjadinya peningkatan deposit lemak yang berlebih pada jaringan tubuh.

Apabila anak-anak terlalu sering dan menjadikan mengkonsumsi makanan jajanan menjadi kebiasaan akan berakibat negatif seperti menurunkan nafsu makan, makanan yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit, sering menjadi penyebab obesitas pada anak, kurang energi protein karena jajanan cenderung tidak seimbang komposisi yang dibutuhkan oleh tubuh, dan juga termasuk pemborosan (Irianto, 2007). Kriteria makanan sehat yang termasuk jajanan anak antara lain :

  1. Kuantitas cukup yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang sesuai dengan jenis dan lama kerja, berat badan, jenis kelamin, serta usia.
  2. Proporsional yaitu jumlah makanan yang dikonsumsi harus sesuai dengan proporsi makan sehat berimbang yakni karbohidrat 60%, lemak 25%, protein 15%, serta cukup vitamin, mineral dan air.
  3. Kualitas cukup, dimana makanan bukan hanya sekedar membuat perut kenyang namun perlu mempertimbangkan zat gizi di dalamnya.
  4. Sehat dan higienis. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menciptakan makanan yang sehat dengan proses pengolahan yang bersih dan memasaknya dengan suhu tertentu.
  5. Makanan segar alami, dimana sayur dan buah lebih menyehatkan jika dibandingkan dengan makanan olahan pabrik dan fastfood ataupun junkfood.
  6. Memakan makanan dari golongan nabati.
  7. Memasak makanan dengan cara yang tidak berlebihan misalnya terlalu lama dan berulang-ulang.
  8. Teratur dalam penyajian yaitu makan secara teratur untuk menghindari munculnya gangguan pencernaan.
  9. Frekuensinya 5 (lima) kali dalam sehari, dimana 3 (tiga) kali makanan utama dan sebanyak 2 (dua) kali makanan jajanan atau snack.

Obesitas

Obesitas merupakan suatu kondisi abnormal atau akumulasi lemak berlebihan pada jaringan adiposa yang meluas sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas juga dapat diartikan apabila adanya ketidakseimbangan antara kalori yang masuk ke dalam tubuh dengan jumlah kalori yang keluar. (WHO, 2016)

Obesitas juga dapat disebabkan oleh aktifitas yang rendah yang berhubungan dengan teknologi antara lain kemajuan di bidang transportasi yang membuat orang mengurangi aktifitas berjalan kaki, meningkatnya gaya hidup sedetarian. Kontribusi energi dari jajajan dan aktifitas fisik merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja, dimana remaja dengan kontribusi makanan jajanan kurang dari 300 kkal/hari dan aktifitas fisik ringan mempunyai risiko 3,2 kali dan 5,1 kali lebih besar mengalami obesitas dibandingkan remaja yang mengkonsusmsi jajanan kurang dari atau sama dengan 300 kkal/hari dan melakukan aktifitas sedang. (Pramono dan Sulchan, 2017)

Sehingga untuk mendapatkan tubuh yang sehat sudah selayaknya kita mengkonsumsi makan makanan yang banyak mengandung gizi, dan juga diimbangi dengan aktifitas yang bermanfaat misalnya dengan berolahraga yang cukup. Dengan demikian tubuh terlihat sehat dan bugar.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Chalid, Yadial, Sri, Muawanah, Anna, Jubaedah, Ida. 2008. Analisa Radikal Bebas Pada Minyak Gorengan Pedagang Kaki Lima. Jurnal Valens Volume 1 No 2 Mei 2008.
  2. Depkes RI. 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003/ tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan, Jakarta.
  3. Rianto, DP. 2007. Pedoman Gizi Lengkap : Keluarga dan Olahragawan. Yogyakarta : CV. Andi offset.
  4. Pramono, A dan Sulchan, M. 2014. Kontribusi Makanan Jajan dan Aktifitas Fisik Terhadap kejadian Obesitas Pada Remaja di Semarang. Jurnal Gizi 83 Indon 2014, 37 (2) : 129 – 136. Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran universitas Diponegoro.
  5. WHO. 2016. Obesity and Overweight. www.who.int diakses 30 Juli 2018.