Tim Promkes RSST – Kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari dan adaptasi terhadap pembebanan fisik tanpa menimbulkan kelelahan berlebih dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang maupun pekerjaan yang mendadak serta bebas dari penyakit. (Depkes 2014) Makin tinggi kemampuan fisik seseorang maka produktivitas orang tersebut makin tinggi. (Depkes 1987) Perkembangan teknologi yang serba canggih menjadi salah satu penyebab beralihnya aktivitas dinamis menjadi statis diperkirakan menjadi penyebab menurunnya tingkat kebugaran jasmani seseorang. (Junaidi S, 2011)

Pada anak dan remaja kebugaran jasmani ini seringkali terlupakan. Padahal kebugaran jasmani ini sangat bermanfaat untuk menunjang kapasitas kerja fisik anak yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan prestasinya. Daya tahan kardiovaskular yang baik akan meningkatkan kemampuan kerja anak dengan intensitas lebih besar dan waktu yang lebih lama tanpa kelelahan. Daya tahan otot akan memungkinkan anak membangun ketahanan yang lebih besar terhadap kelelahan otot sehinggga mereka dapat belajar dan bermain untuk jangka waktu lebih lama. (Trowbridge C. dan Am J. Physol, 1997)

Salah satu gangguan perasaan adalah kecemasan yang timbul akibat adanya respon terhadap kondisi stres atau konflik. Pada masa remaja, individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku. Oleh karena itu, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan  yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial. (Jumariah L. P.9)

Individu yang aktif dan bugar memiliki denyut jantung yang rendah pada saat istirahat dan latihan, dan volume stroke yang lebih tinggi Individu yang aktif akan mempunyai kebugaran kardiovaskular yang baik. Kebugaran kardiovaskular (VO2max) ini akan mencapai puncak pada umur 18 dan 20 tahun pada laki-laki serta 16 dan 17 tahun pada anak perempuan. VO2max menggambarkan kemampuan otot untuk mengkonsumsi oksigen dalam metabolisme yang dikombinasikan dengan kemampuan sistem kardiovaskular dan respirasi untuk menghantarkan oksigen ke dalam mitokondria otot. (Sharkey B. J., 2003)

Peningkatan tingkat kebugaran kardiovaskular disebabkan karena adaptasi jantung dan paru terhadap aktivitas olahraga. Pada sistem kardiovaskular terjadi peningkatan curah jantung yang bertujuan untuk mempertahankan otot-otot rangka yang sedang bekerja sehingga terjadi peningkatan aliran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan sel-sel otot serta membawa karbonmonoksida dan sisa metabolisme ke tempat pembuangan. (Andriani R., 2016)

Tujuan utama dari sistem respirasi adalah menyediakan oksigen untuk jaringan dan mengeliminasi karbondioksida. Selama melakukan aktivitas fisik, sistem respirasi bekerja lebih banyak karena konsumsi oksigen, ventilasi pulmonal dan alveolar serta kapasitas difusi oksigen meningkat untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang tinggi terutama pada otot rangka. Karena kebutuhan oksigen yang diperlukan pada otot selama melakukan aktifitas fisik meningkat, maka sistem kardiovaskuler pun harus meningkatkan tekanan darah, volume sekuncup (stroke volume), denyut jantung (heart rate), dan cardiac output untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang diperlukan oleh jaringan otot.

Agar hal tersebut terpenuhi, maka pada saat yang sama, tubuh mengurangi aliran darah ke organ-organ yang tidak terlalu aktif selama melakukan latihan fisik, seperti ginjal, hati dan organ-organ pada saluran pencernaan. Latihan fisik yang dilakukan secara teratur akan membuat sistem kardiovaskuler lebih efisien dalam hal memompa darah dan mengantarkan oksigen ke otot-otot yang dipergunakan saat berolahraga. (Sulaeman I 2012; 13(1)

Kebugaran jasmani yang baik bisa didapatkan salah satunya melalui olahraga yang rutin. Olahraga berguna dalam mencegah penyebab stres menjadi lebih berbahaya karena dapat mengurangi produksi hormon-hormon pencetus stres. Olahraga rutin akan menurunkan tingkat epineprine dan kortisol. Adanya peningkatan hormon tersebut merupakan akibat dari rangsangan stresor. (Triantoro S, 2009)

Sehingga terdapat hubungan cukup kuat dengan korelasi yang positif antara tingkat aktivitas fisik dan tingkat kebugaran jasmani pada anak remaja, dan tidak dipungkiri bahwa di dalam tubuh yang bugar merupakan sebuah anugerah sang pencipta yang patut disyukuri oleh setiap manusia, dari korelasi yang positif didapatkan dengan mempunyai kebugaran jasmani seseorang dapat melakukan aktifitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan kebugaran jasmani yang menurun. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Andriani R. Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan Volume Oksigen Maksimum. Surakarta : Fakultas Ilmu Kesehatan UMS; 2016.
  2. Departemen Kesehatan Pedoman Pengukuran Kesegaran Jasmani. Jakarta; 1994.
  3. Departemen Kesehatan. 1987. Petunjuk Teknis Kesehatan Olahraga Bagian Pertama Jakarta.
  4. Junaidi S. Pembinaan Fisik Lansia Melalui Aktivitas Olahraga Jalan Kaki. Jurnal Media Ilmu.
  5. Jumariah L. Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Kelas VII dan VIII yang Mengalami Pubertas di SMP Budi Luhur – Cimahi. Jurnal Kesehatan Kartika : p. 9.
  6. Keolahragaan Indonesia. 2011;1(1) : p. 17-21.
  7. Sharkey B.J. Fitness and Health Nasution ED, Editor. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada; 2003.
  8. Sulaeman I, Hadi R. Hubungan Status Gizi, Status Kesehatan dan Aktivitas Fisik Dengan Kebugaran Jasmani Atlet Bulutangkis Jaya Raya Jakarta. Jurnal Ekologia. 2012; 13(1).
  9. Trowbridge C., Gower B., Nagy T., Hunter G., Treuth M., Goran M. Maximal Aerobic Capacity in African-American and Caucasian Pre-Pubertal Children. Am J. Physiol. 1997; 273: p. 809-814.
  10. Triantoro S., Saputra N.E. Manajemen Emosi. Jakarta : Bumi Aksara; 2009.