Jumlah kasus kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak di Indonesia masih tinggi. Data Komnas Perempuan menunjukkan pada tahun 2014, tercatat 4.475 kasus kekerasan seksual pada perempuan, tahun 2015 tercatat 6.499 kasus, dan tahun 2016 telah terjadi 5.785 kasus.

Dari data tersebut, 73% atau paling besar terjadi di Pulau Jawa, diikuti Sumatera (13%), Papua (5%), Bali-NTB-NTT (4%), Sulawesi (3%) dan Kalimantan (2%). Kekerasan seksual paling besar terjadi di rumah yakni 37%. Dari data tersebut disimpulkan bahwa tindakan kekerasan kerap dilakukan orang-orang terdekat korban. Sedangkan kekerasan seksual yang terjadi di sekolah sekitar 11% dan 10% di hotel.

Banyaknya kasus tersebut menunjukkan betapa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang sopan santun tetapi jumlah kasus kekerasan seksual cukup tinggi. Kondisi ini membuat edukasi seksual sejak dini sangat diperlukan.

Kasus kekerasan seksual di Indonesia seperti fenomena gunung es yang hingga kini masih mengkhawatirkan. Oleh sebab itu dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk mulai melaksanakan budaya melapor ketika mengalami atau menemukan kasus kekerasan seksual.

Selain permasalahan kekerasan seksual, permasalahan HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV/AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS. (Kemenkes RI)

Penyebaran HIV/AIDS dapat dicegah dengan cara antara lain :

A   : ABSEN (tidak berhubungan seks pada saat jauh dari pasangan).

B   : BE FAITHFUL (setia / tidak bergonta-ganti pasangan).

C   : CONDOM (menggunakan kondom pada saat berhubungan).

D   : DRUGS (tidak menggunakan Narkoba).

E   : EDUCATION (aktif mencari informasi yang benar).

Sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap semakin meningkatkan angka kasus kekerasan seksual khususnya pada perempuan dan anak serta angka kasus penyebaran HIV/AIDS, dalam hal ini RSUP dr. Soeradji Tirtongeoro (RSST) melalui Unit Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Humas melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan / edukasi dengan mengusung tema “Pendidikan Seks pada Remaja, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Mengenal HIV/AIDS” pada sekolah sekitar. Setelah dilaksanakan di SMK Negeri 3 Klaten pada Bulan Februari 2019, pada Bulan April 2019 ini dilaksanakan di SMP N 6 Klaten. Kegiatan ini diikuti sejumlah 200 siswa jenjang kelas VII dan VIII. Sebagai narasumber yaitu dr. Kanina Sista, Sp.F yang menyampaikan materi Pencegahan Kekerasan Seksual; Dra. Karni (Tim P2TP2A Kab. Klaten) dengan materi Pendidikan Seks pada Remaja; dan Anggit Dwi Satiti, AM.Keb (Tim VCT RSST) dengan materi Mengenal HIV/AIDS.

Tim RSST mendapatkan sambutan yang sangat baik dari pihak sekolah. Sebelum kegiatan dimulai, Bapak Kristiyono (Perwakilan dari Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Klaten) memberikan sambutan dan ucapan selamat datang kepada Tim Pelaksana dari RSST. Pada saat kegiatan berlangsung, Ibu Sri Munarsih, S.Pd serta beberapa guru / tenaga pengajar juga turut serta mendampingi sampai dengan acara ditutup.

Kegiatan ini juga merupakan salah satu wujud aksi nyata Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan sebagai kontribusi yang diberikan dalam aspek promotif serta preventif kepada siswa sekolah sekitar. Melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan dampak besar bagi para siswa untuk tidak menjerumuskan diri pada pergaulan / seks bebas dan Narkoba yang dapat mengakibatkan tertularnya HIV-AIDS.