dr. Wisnu Baskoro, Sp.BS, FINSS, FINPS (Spine & Pain) – Kasus tumor spinal (tulang belakang) berkisar 15% dari keseluruhan tumor saraf pusat. Meskipun tumor di daerah spinal merupakan kasus yang cukup jarang terjadi bila dibandingkan dengan tumor otak, namun demikian tumor spinal dapat mengancam jiwa dan mengakibatkan kecacatan yang permanen jika tidak segera dilakukan penanganan yang tepat. Hal ini dikarenakaan struktur anatomi ruangan (kanal) spinal yang pada dasarnya kecil dan terdapat susunan saraf (spinal cord dan nerve roots) di dalamnya.

Tumor spinal dapat dibedakan berdasarkan derajat keganasan dan anatomi letak tumornya. Berdasarkan derajat keganasannya tumor spinal ada yang jinak dan ganas (kanker). Sedangkan berdasarkan anatomi letak tumornya, tumor spinal bisa berada di Ekstraduramater (ED), IntraduramaterEkstramedullary (IDEM), dan IntraduramaterIntramedullary (IDIM). Tumor spinal yang jinak paling banyak adalah jenis meningioma dan schwanomma, sedangkan yang ganas paling sering akibat metastase dari tumor primer di payudara, paru, prostat,  dan ginjal. Perbedaan derajat keganasan dan lokasi tumor spinal ini sangat penting, karena menentukan tatalaksana dan prognosis dari pasien.

Gambar 1.  Contoh kelainan tumor spinal yang ditangani di RSST :  a) Meningioma (Tumor IDEM) Kranioservikal. b) Tumor IDIM Conus Medullaris, c) Tumor Ekstraduramater (ED) Metastasis Thorakal 1-2

Gejala dari tumor spinal pada umumnya tidak spesifik yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi.  Gejala awal (early onset) yang paling sering adalah nyeri punggung (back pain) terutama di malam hari, dan kemudian dapat terjadi gangguan sensoris berupa kebas dan mati rasa, gangguan motorik berupa kelemahan / kelumpuhan otot  serta  pada onset yang lama terjadi gejala fungsi saraf otonom berupa gangguan BAB dan BAK. Pasien dengan nyeri punggung saat istirahat dan di malam hari, disertai dengan penurunan berat badan yang drastis yang tidak diketahui, serta ada riwayat tumor ganas pada organ lain harus dicurigai adanya suatu keganasan tumor spinal.

Pemeriksaan diagnosis gold standar penunjang radiologi untuk tumor spinal adalah MRI spinal dengan kontras untuk menentukan lokasi tumor (ED, IDEM, IDIM), karakteristik tumor dan hubungannya dengan jaringan sekitarnya (kompresi spinal cord / nerve roots, adanya syringomyelia, kerusakan cropus dan pedikel tulang belakang). CT Scan Spinal (Vertebrae) tidak rutin dilakukan pada tumor spinal, hanya pada kasus tertentu pada pasien yang kontraindikasi dilakukan MRI, misalnya pasien dengan riwayat pemakainan pace maker jantung. CT Scan spinal terutama dikerjakan untuk evaluasi tulang vertebrae secara detail derajat kerusakan osteolitik tulang vertebrae.

Gambar 2. MRI Serviko-Torakal dengan kontras pada tumor spinal C6-C7

Terapi tumor tulang belakang meliputi pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Hal ini berdasarkan dari jenis tumor dan lokasi tumor, serta kondisi umum pasien berdasarkan KPS (Karnofsky Performance Scale). Walaupun perkembangan pengobaan tumor spinal telah banyak mengalami kemajuan, akan tetapi tidak semua tumor spinal dapat diangkat seluruhnya, seperti pada kasus tumor IDIM yang difusse atau tumor metastase spinal di beberapa tempat vertebrae. Sehingga diperlukan radioterapi dan kemoterapi tambahan selain pembedahan. Pemilihan kemoterapi dan radioterapi juga tergantung dari jenis tumor spinal dan grading tumor, serta seberapa banyak tumor spinal yang dapat didapatkan saat operasi (total, subtotal, atau eksisi biopsi).

Gambar 3. Operasi Minimally Invasive Spine Surgery (MISS) : a) Endoscopic Spine Surgery b) Microsospic Surgery

Trend terapi pembedahan pada tumor tulang belakang saat ini sudah banyak dilakukan melalui pendekatan operasi minimal invasif menggunakan mikroskop atau endoskopi, sehingga sayatan operasi lebih kecil, perdarahan operasi lebih minimal, kerusakan jaringan otot dan tulang juga minimal dan tidak memerlukan pemasangan implan / screw, komplikasi infeksi operasi minimal dan lama perawatannya setelah operasi lebih cepat. Pendekatan operasi minimal invasif, operasi tumor pada tulang belakang juga memerlukan monitoring saraf intraoperatif (IOM), sehingga cedera saraf karena operasi tumor spinal yang dilakukan bisa dihindari dan juga bisa menilai kualitas saraf spinal yang terkena tumor spinal sebelum dilakukan operasi eksisi tumor spinal.