dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Sebanyak 3013 orang dilaporkan meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri dan terjadi di luar rumah sakit, seperti yang dilansir oleh Lapor COVID-19 dari 1 Juni 2021 hingga tanggal 7 Agustus 2021. Jumlah tersebut merupakan hasil pendataan dari semua provinsi di Indonesia. Adapun angka kematian isolasi mandiri tersebut paling banyak terjadi di Provinsi DKI Jakarta, diikuti Provinsi Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dengan banyaknya jenazah COVID-19 tentu harus diikuti dengan pengelolaan jenazah dengan tepat. Pemerintah telah menetapkan protokol atau langkah-langkah perawatan jenazah hingga pemakaman jenazah penderita COVID-19 untuk memastikan tidak adanya kemungkinan penularan dari jenazah ke orang yang masih hidup.

Penanganan Kematian di Rumah

Jika terdapat kejadian kematian di rumah yang diduga akibat COVID-19, keluarga / RT / RW / kelurahan / kecamatan setempat melaporkan kepada Puskesmas guna dilakukan langkah penapisan untuk melihat tubuh jenazah atas kemungkinan adanya tanda-tanda kekerasan / kematian tidak wajar. Bila ditemukan tanda-tanda kekerasan / kematian tidak wajar, segera lapor kepolisian dan masuk pada protokol kematian tidak wajar. Pihak Puskesmas membuat surat keterangan kematian akibat COVID-19 dan menyertakan bukti hasil pemeriksaan COVID-19 serta mencatat dan melaporkan sesuai ketentuan.

Dalam hal terdapat lonjakan kasus kematian akibat COVID-19, pemulasaraan jenazah dapat dilakukan di Puskesmas atau tempat yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat oleh tim pemulasaraan dari Puskesmas setempat atau tim yang dibentuk dinas kesehatan setempat. Tim pemulasaraan jenazah harus memberikan penjelasan kepada keluarga mengenai tata laksana pada jenazah yang meninggal dengan COVID-19. Pemulasaraan jenazah dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Tim pemulasaraan jenazah menggunakan APD lengkap sesuai ketentuan APD.
  2. Selain tim pemulasaraan jenazah, tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan.
  3. Tidak dilakukan suntik pengawet dan tidak dibalsem.
  4. Lakukan disinfeksi pada jenazah menggunakan cairan disinfektan.
  5. Tidak menekan dada dan perut jenazah, ataupun memindahkan jenazah sebelum jenazah dibungkus dengan plastik erat.
  6. Tutup semua lubang tubuh menggunakan kapas yang sudah dibasahi dengan klorin 0,5%. Jika terdapat bekas luka akibat tindakan medis atau lainnya, maka dilakukan penutupan dengan plester kedap air.
  7. Bungkus badan jenazah dengan plastik bening. Pakaian jenazah tidak perlu dilepaskan. Dalam hal akan dilakukan pemandian jenazah, maka dilakukan sesuai dengan agama yang dianut jenazah. Bila jenazah beragama islam, mengikuti langkah-langkah yang telah ditetapkan dalam Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang Terinfeksi COVID-19.
  8. Setelah dimandikan, jenazah dibungkus kembali dengan plastik dan diikat erat serta dipastikan tidak ada cairan maupun udara yang keluar. Setelah itu dilakukan disinfeksi pada bagian luar plastik dengan cairan disinfektan.
  9. Setelah jenazah dibungkus dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 7) dan 8), jenazah dapat dimasukan kembali ke dalam plastik yang terdapat pegangan untuk memudahkan memasukan jenazah ke liang lahat atau dimasukan dalam kantong jenazah atau peti jenazah.
  10. Pindahkan jenazah ke atas brankar jenazah, lalu ditutup dan dimasukkan ke dalam kendaraan / sarana untuk mengangkut jenazah.
  11. Tangani sisa-sisa cairan yang ada di tempat pemulasaraan dengan menggunakan spill kit yang telah disiapkan sebelumnya.
  12. Lakukan tindakan disinfeksi lingkungan dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke daerah tempat pemulasaraan maupun daerah yang ditemukan ada tumpahan cairan.
  13. Petugas melepaskan APD di lokasi, lalu menggantinya dengan APD yang sesuai ketentuan

Pemakaman Jenazah COVID-19

Sebelum adanya pemakaman di wilayah setempat, pihak kecamatan wilayah setempat atau tokoh masyarakat yang dapat didampingi petugas Puskesmas atau Satgas COVID-19 setempat, telah lebih dahulu memberi penjelasan secara bijak kepada masyarakat setempat tentang tempat penguburan (bahwa jenazah COVID-19 yang telah dikuburkan tidak lagi menularkan penyakitnya).

Jenazah hendaknya disegerakan untuk dikubur atau dikremasi sesuai dengan agama dan kepercayaannya yang dianutnya dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sejak dinyatakan meninggal. Dalam hal terjadi lonjakan jenazah COVID-19, maka sebelum jenazah dibawa ke pemakaman terlebih dahulu dapat ditempatkan pada tempat transit jenazah yang disediakan oleh Pemerintah Daerah setempat. Penyediaan tempat transit jenazah dapat memanfaatkan bangunan kosong atau menyediakan tenda darurat pada lokasi pemakaman.

Pemakaman dapat dilakukan di pemakaman umum mana saja yang memenuhi syarat. Pemakaman jenazah dilakukan dengan cara memasukan jenazah beserta petinya ke dalam liang lahat tanpa harus membuka peti, plastik dan kantong jenazah. Pemakaman beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan pada kondisi darurat. Sebelum melakukan pemakaman jenazah, dilakukan identifikasi dan dokumentasi terhadap jenazah.

Pemakaman dan upacara pemakaman dapat dihadiri oleh keluarga dekat dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dan bagi keluarga yang sedang sakit, tidak disarankan untuk menghadiri acara tersebut.

Alat Pelindung Diri yang Digunakan

Penggunaan alat pelindung diri merupakan salah satu cara untuk mencegah dan melindungi tubuh dari paparan COVID-19. Pada dasarnya penggunaan alat pelindung diri disesuaikan dengan masing-masing kegiatan atau prosedur yang dilakukan, baik dalam evakuasi jenazah maupun pemulasaraan dan pemakaman jenazah COVID-19. Alat pelindung diri yang dapat digunakan pada saat melakukan evakuasi jenazah dan pemulasaraan jenazah adalah sebagai berikut :

  1. Sarung tangan
  2. Masker bedah
  3. Gown tangan panjang kedap air
  4. Face shield

Pada pelaksanaan pemakaman jenazah, bagi petugas sopir mobil jenazah dan petugas pemakaman cukup menggunakan sarung tangan dan masker bedah saja.

Sebelum dan sesudah melakukan kegiatan pemulasaraan dan pemakaman jenazah, disarankan untuk melakukan kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.

Pengelolaan Limbah Saat Pemulasaraan Jenazah dan Pemulasaraan

Barang berharga jenazah dengan COVID-19 seperti perhiasan dilepaskan dan dilakukan dekontaminasi atau dicuci dengan air dan sabun. Alat pelindung diri yang telah selesai digunakan oleh petugas pemulasaraan dan pemakaman jenazah, dilakukan dekontaminasi lalu dimasukan ke plastik kuning medis atau kantong plastik khusus yang diberi label infeksius. Kemudian dikumpulkan pada tempat khusus di TPU, selanjutnya diangkut ke pihak pengolah limbah B3 melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten / Kota.

Pengelolaan Limbah Cair

Air limbah sebaiknya ditampung pada bak khusus dan lakukan desinfeksi dengan membubuhkan larutan disinfektan, selanjutnya air limbah dapat diresapkan ke tanah atau dibuang ke badan air, secara teknis dapat berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup  Kabupaten / Kota.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. https://covid19.who.int/
  2. https://laporcovid19.org/data/kematian-isoman/
  3. Republik Indonesia. 2020. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
  4. Republik Indonesia. 2021. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4838/2021 tentang Protokol Penatalaksanaan Pemulasaraan dan Pemakaman Jenazah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).