Pemeriksaan Laboratorium Pada COVID-19

dr. Wahid Syamsul Hadi, M.Sc, Sp.PK – Pada Bulan Desember 2019, wabah penyakit Virus Corona baru (COVID-19) yang disebabkan SARS-CoV-2 dimulai di China dan telah menjadi pandemi di seluruh dunia. Sebagai penyakit menular yang baru muncul, beberapa upaya awal telah dilakukan dengan mengidentifikasi virus, menggambarkan karakteristik epidemiologi, perjalanan klinis, prognostic untuk kasus kritis, dan pengobatan. Di antara COVID-19, kasus yang dilaporkan di daratan Cina terdiri atas 3 spektrum penyakit, yaitu 81% ringan, 14% berat,dan 5% kritis. Estimasi tingkat kematian (CFR) di Cina adalah 2,3% dimana 49 % di antaranya kasus kritis.

Di Indonesia sendiri kasus COVID-19 mulai masuk sekitar Bulan Februari 2020. Data epidemiologi kasus COVID-19 di Indonesia pertanggal 20 April 2020 terdapat jumlah kasus terkonfirmasi 6760 kasus, dimana 5.423 kasus (80.22%) dalam perawatan, 747 kasus (11.05%) dinyatakan sembuh dan 590 (8.72%) dinyatakan meninggal dunia.

Coronavirus masuk dalam, ordonodovirales, keluarga coronaviridae. Ada empat jenis (genus) coronavirus :

  1. Alpha coronavirus (dapat menyerang manusia).
  2. Beta coronavirus (dapat menyerang manusia).
  3. Delta coronavirus (dapat menyerang hewan).
  4. Gamma coronavirus (dapat menyerang hewan).

Dari keempat genus Corona tersebut yang biasanya menginfeksi manusia yaitu Alpha coronavirus (229E dan NL63) serta Beta coronavirus (OC43 dan HKU1). Dengan makin meningkatnya penyebaran kasus COVID-19 ini maka diperlukan pemeriksaan penunjang (laboratorium) untuk mendiagnosis penyakit COVID-19 ini. Berikut ini merupakan beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mendukung tatalaksana kasus COVID-19  :

  1. Skrining

Pada tahap skrining dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium hematologi, rapid tes serta pemeriksan Molekuler. Parameter hematologi yang mendukung COVID-19 adalah penurunan jumlah lekosit / lekopenia, yaitu jumlah lekosit / sel darah putih < 4000 / ul); hitung netrofil absolute > 2500 / ul, hitung limfosit absolute / ALC : < 1500 / ul, netrofil limfosit rasio (NLR) : > 3,13 dan CRP : > 10 mg / L. Pemeriksan rapid tes dapat menggunakan rapid tes antigen atau antibody. Sedangkan pemeriksaan Molekuler terdiri dari Tes Cepat Molekuler (TCM) atau Real Time PCR.

  1. Diagnosis

Untuk pemeriksaan diagnosis selain pemeriksaan laboratorium perlu diperhatikan klinis pasien, serta riwayat kontak atau terpapar dengan orang yang terkonfirmasi positif COVID-19. Pemeriksaan yang diperlukan untuk mendukung diagnostik COVID-19, dapat berupa pemeriksaan hematologi, kombinasi antara rapid tes antigen dan antibody dengan pemeriksaan molekuler (RT PCR atau Tes cepat Molekuler).

Penggunaan rapid tes terutama rapid tes antibody ini banyak digunakan di indonesia. Tes ini digunakan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap COVID-19  ini. Antibody ini akan timbul pada hari ke 7 pasca infeksi / gejala, sehingga perlu strategi dalam penggunaan rapid tes antibody.

IgM biasanya muncul pada hari ke 7, meningkat sampai hari ke 28 dan mulai menurun pada hari ke 42. Sedangkan IgG muncul di hari ke 10, meningkat sampai hari ke 49. Kadar IgG dan IgM lebih tinggi pada pasien dengan klinis berat dibandingkan dengan klinis ringan. Tes Ag yang mendeteksi bagian dari virus memang dapat lebih cepat reaktif dalam beberapa hari pertama infeksi (fase virus bereplikasi di nasofaring) sedangkan antibody yang merupakan reaksi imunologik dari tubuh timbul lebih lambat, baru setelah harike 6-8 atau bahkan lebih lambat lagi.

Hasil negatif pada pemeriksaan rapid tes antigen yang sudah terpapar COVID-19, kemungkinan sudah mulai terbentuk antibody, sehingga kadar antigen menurun, maka perlu dikonfirmasi dengan rapid tes antibody 7-10 hari kemudian. Bila status ODP, maka tetap dianggap masih berisiko sebelum terbukti dengan hasil pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan jika didapatkan hasil reaktif (positif) pada pemeriksaan rapid antigen, kemungkinan sudah terpapar COVID-19, pada fase awal sebelum mulai terbentuk antibody, dan tetap perlu dikonfirmasi dengan PCR.

Hasil non reaktif (negatif) pada pemeriksaan rapid tes antibody ada beberapa kemungkinan jika belum terpapar COVID-19 yaitu belum sakit atau belum memiliki kekebalan (antibody), sehingga perlu menjaga diri, diulang lagi 7-10 hari, sedangkan jika sudah pernah terpapar tahap awal COVID-19 kemungkinannya belum terbentuk antibody, sehingga perlu diulang 7-10 hari kemudian, posisi masih dianggap berisiko, belum aman, dan tetap harus isolasi mandiri serta jaga diri.

Hasil reaktif (positif) pada pemeriksaan rapid antibody COVID-19, kemungkinan sudah terpapar COVID-19, untuk membuktikan benar-benar ada COVID-19, harus dikonfirmasi PCR. Hasil invalid tidak nampak garis pada zona control (C), meskipun dapat / tidak diikuti dengan penampakan garis pada zona test (T). Disarankan untuk dilakukan pengulangan pemeriksaan menggunakan reagen lain.

Dengan segala keterbatasan pada pemeriksaan metode rapid, sehingga perlu memperhatikan beberapa keterbatasan pada pemeriksaan rapid tes baik antigen maupun antibody :

Negatif palsu yaitu keadaan sebenarnya sakit tetapi hasil pemeriksaan negatif, dimana saat dilakukan pemeriksaan belum terbentuk antibody, atau kadarnya masih rendah (window periode) dan juga pada keadaan tubuh tidak cukup membuat antibody (keadaan immunocompromised, misalnya penderita dalam pengobatan kanker, penderita penyakit autoimun, AIDS, penyakit kronis, transplantasi organ, dan orang usia lanjut), atau ada pengaruh obat-obatan atau zat tertentu, serta saat antigen sudah menghilang.

Positif palsu yaitu keadaan bukan merupakan penyakit COVID-19, tetapi hasil pemeriksaannya positif dimana terdeteksi antibody, tapi sebenarnya penyebabnya bukan COVID-19 (ada virus lain yang menimbulkan antibody yang mirip) sehingga bisa menyebabkan reaksi silang, misalkan dengan virus dengue (demam berdarah), atau infeksi Virus Corona yang lain.

Kriteria orang yang memerlukan pemeriksaan rapid tes antibody adalah Orang Tanpa Gejala (OTG) terutama mempunyai riwayat setelah kontak erat dengan kasus positif COVID-19 minimal 10 hari atau memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Dengan keterbatasan pemeriksaan rapid tes tersebut maka perlu dikonfirmasi dengan metode biomolekuler (RT PCR atau TCM) dan diulang secara interval waktu (tes antibody 7-10 hari kemudian). RT PCR merupakan pemeriksaan Gold Standar pada penyakit COVID-19 ini. Sampel yang digunakan pada pemeriksan dengan metode RT.

PCR ini dapat berupa : swab nasofaring, swab orofaring, sputum, BAL. Namun pada pemeriksaan dengan RT PCR ini memerlukan tempat, peralatan, sumber daya manusia dan persiapan yang khusus. Sehingga dalam pengerjaan baik itu metode rapid antibody maupun PCR perlu memperhatikan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode.

Dengan banyaknya parameter untuk mendukung baik itu skrining maupun diagnostik, maka diperlukan peralatan untuk melakukan pemeriksaan tersebut beserta keamanannya. Berikut beberapa peralatan yang dapat digunakan untuk mendukung pemeriksaan laboratorium COVID-19 :

Hematology Analyzer

Pemeriksan hematologi dengan menggunakan alat hematology analyzer yang dilakukan di RSST, selain lebih cepat juga ada beberapa paremeter tambahan untuk membantu mendukung diagnosis COVID19, seperti HFLC (High Fluorescent Lymphocyte Count), hitung Limfosit Absolute / ALC, Netrofil Limfosit Rasio (NLR).

Rapid Tes Antibody

Rapid tes antibody tidak membutuhkan peralatan yang khusus. Selain itu hasil juga dapat dibaca dalam waktu 15-20 menit. Reagen rapid tes antibody ini ada yang berupa antibodi total dan ada juga yang berupa IgG dan IgM secara terpisah. Kedua tipe jenis reagen ini juga digunakan di laboratorium RSST. Tes immunoassay / sero-imunologik untuk mendeteksi Antigen (Ag) atau  Antibody (Ab) dinamakan rapid test adalah karena caranya mudah dan cepat namun akurasi masih rendah.

TCM (Tes Cepat Molekuler)

Tes cepat berbasis molekuler ini mampu mendeteksi COVID19 secara qualitative. Dengan target gen : multiple region of viral genom. Bahan sampel yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah swab nasofaring. Alat TCM yang digunakan di RSST adalah GeneXpert dengan 4 modul.

RT PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction)

Teknik PCR merupakan gold standar pada pemeriksaan COVID-19 ini, dengan cara medeteksi adanya gen virus COVID-19. Teknik yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah dengan memperbanyak atau mereplikasi RNA virus secara enzimatik. Pemeriksaan PCR ini merupakan pemeriksaan spesifik untuk COVID-19. Kalau hasilnya positif, maka dapat dipastikan ada virus SARS CoV-2. Namun perlu juga temuan dan analisa klinis yang lainnya untuk mengkonfirmasi infeksi COVID-19. Sebaliknya kalau PCR negatif, tidak boleh disimpulkan, harus ada pemeriksaan dengan sampel kedua. Diambil dihari berikutmya. Bila sudah 2 kali negatif, baru dapat disimpulkan bahwa PCR negatif.

Keamanan

Dalam melakukan pemeriksan Laboratorium COVID19, harus menggunakan alat pelindung diri serta peralatan untuk keselamatan diri. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal upaya melindungi dari dari infeksi Virus Corona dalam melakukan pemeriksaan, antara lain : kelengakapan alat BSC level 2 untuk pemeriksaan laboratorium non-swab dan BSC level 3 untuk pemeriksaan dengan sampel swab. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah APD (Alat Pelindung Diri) minimal menggunakan level 3 yang terdiri dari Google, Masker N-95, handshcoen, cover all jumpsuits dan boots. Serta akses keluar masuk laboratorium COVID harus dibatasi.