dr. Sudaryanto, Sp.OT – Wabah penyakit Virus COVID-19 baru di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 menandai awal penyebaran penyakit global yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menyebabkan hampir terganggunya atau terancamnya sistem perawatan kesehatan di sebagian besar negara yang terkena. Pada Januari 2020, penyakit ini dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat berskala internasional oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dan telah dinamai COVID-19 pada Februari 2020 dengan SARS-CoV-2 sebagai virus penyebabnya.

Sehingga dengan adanya pandemi COVID-19 ini penting untuk memastikan kemampuan ahli bedah dan profesional spesialis untuk bisa melewati pandemi COVID-19 ini dengan aman. Operasi ortopedi elektif pada masa pandemi COVID-19 aman untuk dilakukan dan tidak berpotensi menjadi sumber penularan Virus Corona selama protokol kesehatan diterapkan dengan ketat, dimana diperlukannya jalur klinis yang direkomendasikan untuk pasien positif COVID-19 yang membutuhkan perawatan bedah akut yang tidak dapat ditangguhkan. Sehingga semua rumah sakit harus menyelenggarakan protokol khusus dan pelatihan tenaga kerja sebagai bagian dari upaya menghadapi pandemi saat ini.

Pelaksanaan operasi di masa COVID-19 tentu membutuhkan beberapa penyesuaian agar tetap aman bagi pasien dan tenaga kesehatan. Operasi harus dilakukan seefisien mungkin dengan jumlah personil dalam ruang operasi dibatasi. Protokol mengenai alur pasien dan staf masuk keluar ruang operasi juga dibuat khusus untuk mengurangi risiko transmisi. Pasien-pasien tersebut juga diharuskan menjalani skrining COVID-19 terlebih dahulu di poliklinik.

Semua pasien yang diketahui atau diduga positif COVID-19, yang memerlukan intervensi bedah harus diperlakukan sebagai positif sampai terbukti sebaliknya, untuk meminimalkan penyebaran infeksi. Jalur protokol yang didefinisikan dengan jelas harus tersedia bagi petugas pelayan kesehatan yang merawat pasien ini, semua staf harus dilatih secara khusus untuk mengenakan, melepaskan, dan membuang perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) termasuk masker (level 2 atau 3 filtering face piece tergantung pada tingkat risiko yang menghasilkan aerosol), pelindung mata, tutup kepala, penutup sepatu, sarung tangan, gaun, topi, kaus kaki.

Pasien bedah dalam perjalanan yang melalui ruang persiapan tidak boleh berhenti di ruang anestesi, ruang pemulihan, atau tempat lain selain ruang operasi khusus COVID (OR). Mereka harus dibawa langsung ke ruang operasi khusus COVID-19 yang ditunjuk, cukup ditandai dengan tanda pintu yang terlihat jelas. Jika prosedur pembedahan terjadwal tidak memerlukan anestesi umum dan jika situasi klinis memungkinkan, pasien harus terus memakai masker pelidung selama prosedur berlangsung. Pintu OR harus selalu tertutup setiap saat untuk mencegah tidak ada keluar masuk personil yang memasuki ruangan secara tidak perlu ke ruang OR selama operasi. Sedangkan perangkat dan permukaan elektromedis harus digunakan dengan tutup pelindung yang memadai dan disanitasi secara memadai diakhir pengopersian.

Ruang Operasi (OR) tekanan negatif akan ideal untuk meminimalkan risiko infeksi. Namun OR biasanya dirancang untuk memiliki sirkulasi udara bertekanan positif. Tingkat siklus pertukaran udara yang tinggi (≥25 siklus/jam) berkontribusi untuk secara efektif mengurangi viral load dalam OR. Peralatan yang disimpan disetiap atau harus diminimalkan menjadi yang benar diperlukan berdasarkan kasus per kasus. Setelah operasi dimulai dan diusahakan untuk para tim medis yang berkerja meminimalkan staf keluar masuk OR, untuk meminimalkan risiko infeksi.

Penting untuk digaris bawahi bagaimana semua pasien non COVID-19 harus dilindungi. Jalur terpisah yang ditetapkan harus ada untuk menjaga pasien yang dicurigai / terinfeksi dipisahkan dari pasien non COVID-19. Alat pelindung diri atau setidaknya masker harus diberlakukan untuk semua pasien non COVID selama semua pemindahan di rumah sakit untuk meminimalkan risiko infeksi jika mereka berpapasan atau berada di dekat pasien COVID-19. Perencanaan yang cermat dan pemisahan pasien yang terinfeksi dapat membantu meminimalkan staf tidak terkena virus yang tidak terkontrol ini.

Selama masa pandemi COVID-19 ada peningkatan penekanan pada strategi non-bedah. Pasien yang membutuhkan penaganan ortopedi yang mendesak, seperti cedera traumatis yang serius atau tumor, akan ditangani sesuai dengan standar perawatan yang umum. Pandemi COVID-19 akan secara lebih serius mempengaruhi pekerjaan dimana terkait dengan prosedur elektif dan tindak lanjut selanjutnya. Perubahan dalam praktik klinis ini diikuti dengan 3 (tiga) prinsip yaitu :

  1. Urgensi klinis
  2. Keselamatan pasien dan petugas kesehatan
  3. Perlindungan atau konservasi sumber daya Kesehatan

Menurut Liang et.al dari Singapura mempublikasikan pengalaman mereka dalam menangani pasien ortopedi selama pandemi. Dimana perlunya keseimbangan antara perawatan berkelanjutan dan keselamatan untuk pasien, keluarga dan petugas kesehatan. Mereka menyimpulkan bahwa prosedur one day care dapat dilanjutkan, mengingat dampaknya yang terbatas pada sumber daya perawatan kesehatan, terutama memungkinkan pergantian cepat tempat tidur rumah sakit yang berpotensi diperlukan untuk rawat inap. Selain itu, kepulangan pada hari yang sama meminimalkan risiko pasien dan keluarga dari pajanan nosokomial terhadap COVID-19.

Dalam studi yang dilakukan oleh Luca Ambrosio mengatakan dengan adanya pandemi terjadinya perubahan dalam pelayanan harian praktik ortopedi. Oleh sebab itu, sebagian besar operasi elektif, yang mencakup sebagian besar aktivitas ortopedi, telah ditangguhkan untuk memastikan bahwa perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD), tempat tidur Unit Perawatan Intensif (ICU), dan tenaga kerja tambahan akan didistribusikan ulang untuk menangani keadaan darurat COVID-19. Di sisi lain, kondisi termasuk trauma berat, tumor muskuloskeletal dan infeksi, masih memerlukan perawatan segera dan tidak bisa ditunda. Karena pembedahan memerlukan kerja di ruang tertutup dalam kontak dekat dengan pasien, risiko penularan infeksi selama prosedur dan umumnya dalam konteks perawatan pasien, cukup tinggi. Oleh karena itu, rutinitas ortopedi harus dibentuk kembali sesuai dengan indikasi pembedahan yang sesuai dan indeks kecurigaan COVID-19, dengan efek yang cukup besar dari manajemen rawat inap dan penjadwalan ulang kunjungan rawat jalan. Sehingga diperlukannya guideline dalam menyikapi masa pandemi ini, dimana beberapa asosiasi bedah dunia menyepakati guideline untuk pembedahan yang dapat diterapkan di tiap negara seperti sebagai berikut :

  1. Pasien akut merupakan prioritas utama kemungkinan COVID-19 sehingga harus diperhatikan dengan anamnesis riwayat, tes COVID-19, CT toraks (dalam 24 jam terakhir) atau minimal foto toraks.
  2. Semua pasien yang direncanakan untuk operasi elektif harus dievaluasi COVID-19 dan mendapat persetujuan untuk risiko operasi yang lebih besar.
  3. Penggunaan APD lengkap bagi tim medis.
  4. Dalam ruang operasi hendaknya jumlah staf dibatasi dan menggunakan APD lengkap.
  5. Situasi risiko pembedahan termasuk penggunaan pelindung mata pada pasien batuk ataupun pemasangan NGT sebagai salah satu prosedur berisiko.

Salah satu contoh rekomendasi lain yang bisa dilakukan di ruang operasi adalah sebagai berikut :

  1. Minimalkan personal dalan ruangan perawatan.
  2. Hindari aliran laminar.
  3. Gunakan masker N95 dan kacamata.
  4. Gunakan pelindung wajah tambahan.
  5. Jangan gunakan lavage pulsa.
  6. Batasi tim diruang operasi selama periode berisiko tinggi – intubasi / ekstubasi.
  7. Gunakan elektrokauter dengan evakuator asap.
  8. Gunakan jahitan yang dapat diserap sebanyak mungkin.
  9. Gubakan balutan bening.
  10. Hidari dressing PICO.
  11. Gunakan belat dan gips yang dapat dilepas.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. World Health Organization. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Situation Report – 70. World Health Organization [serial online]. 30 Maret 2020 [diakses 31 Maret 2020]. Diunduh dari : https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200330-sitrep-70-covid- 19.pdf?sfvrsn=7e0fe3f8_2.
  1. Federicco C., Gennaro P., Massimo C., Francesco D., dkk. 2020. Surgery In COVID-29 Patients : Operational Directives. https://doi.org/10.1186/s13017-020-00307-2.
  2. Jama. April 14, 2020. Presumed Asymptomatic Carrier Transmission of COVID-19. Volume 323, Number 14.
  3. Kaye E., Paprottka F., Escudero R., Casabona G., dkk. Elective April 24, 2020. Non-Urgent Procedures and Aesthetic Surgery in The Wake of SARS-COVID-19 : Considerations Regarding Safety, Feasibility and Impact on Clinical Management. https://doi.org/10.1007/s00266-020-01752-9.
  4. Farrell S., Emily K., Kishore M., AAOS. Recommendations for The Case of Pediatric Orthopaedic Patiens During The COVID-19 Pandemic. 1-10 DOI:10.5435/JAAOS-D-20-00391.
  5. De Caro Francesca., Hirschmann T., Verdonk P. April 20, 2020. Returing to Orthopaedic Business as Usual After COVID-19 : Strategies and Options. https://doi.org/10.1007/s00167-020-06031-3.
  6. Kamal A.F., Widodo M.W., Kuncoro I.W.A.M., Kaerda Y., Prabowo, dkk. Oktober 15, 2020. Doed Elective Orthopaedic Surgery In Pandemic Era Icrease Risk of Developing COVID-19? A Combined Analysis of Retrospectife and Prospective Study at Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia. Annal of medicine and surgery, volume 60, desember 2020. pages 87-91.
  7. Ni gusti Ayu, Agung Malik, Yuinati W., Novianto P.A. Strategi Pembedahan di Era Pandemi COVID-19. DOI:https://doi.org/10.24843/JBN.2020.v04.is01.p03.
  8. Luca Ambrosio, Gianluca V., Fabrizio R., Rocco nP., Vincenzo D. May 2020. The Role of the Orthopaedic Surgeon in the COVID-19 Era : Cautions and Perspectives. DOI:10.1186/s40634-020-00255-5.