dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG (K) – Pandemi COVID-19 yang masih belum berakhir, membuat sejumlah ibu hamil menjadi khawatir saat mengunjungi pusat kesehatan atau rumah sakit. Akibatnya banyak orang memilih untuk berdiam di rumah saja agar terhindar dari infeksi penyakit. Pelayanan antenatal adalah pelayanan esensial bagi ibu hamil, sehingga ibu hamil harus tetap dimotivasi untuk tetap memantau kehamilannya selama pandemi COVID-19 dengan tetap memperhatikan social distancing.

Menurut pernyataan dari Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG (K), MPH, belum ada bukti saat ini bahwa COVID-19 teratogenik. Bukti terbaru yang menunjukkan kemungkinan virus dapat ditularkan secara vertikal belum dapat ditentukan. Meski demikian, prosedur preventif juga wajib diterapkan untuk mencegah risiko penularan virus. Sehingga pelayanan asuhan antenatal tetap harus tetap dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan ibu dan janin.

Protokol Kesehatan 5 M menjadi aturan baku pada setiap layanan terhadap ibu hamil. Kunjungan pemeriksaan kehamilanpun dilakukan sesuai panduan yang direkomendasikan POGI seperti berikut ini :

Asuhan antenatal penting dilakukan. Ibu yang tidak mendapatkan asuhan antenatal memiliki risiko lebih tinggi kematian maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya. Asuhan antenatal rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada kehamilan seperti anemia, pre-eklamsia, diabetes melitus gestasional, infeksi saluran kemih asimtomatik dan pertumbuhan janin terhambat. Pelayanan asuhan antenatal pun harus memenuhi standar seperti pada kondisi normal menerapkan 10 T, sehingga dapat ditemukan faktor risiko yang mungkin dapat menyebabkan morbiditas bagi ibu maupun janin.

Kondisi pandemi ini “memaksa” kita untuk selalu waspada terhadap penularan yang mungkin terjadi tetapi tidak kita rasakan, sehingga setiap ibu hamil pun dalam pelayanan asuhan antenatalnya perlu dilakukan skrining terhadap COVID-19. Beberapa metode telah beredar di masyarakat berkaitan dengan skrining COVID-19 ini, namun belum ada yang spesifik untuk ibu hamil.

Rekomendasi skrining pada ibu bersalin secara umum tidak dibedakan dengan skrining COVID-19 secara khusus, yaitu dengan melakukan penapisan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap gejala ISPA (demam [>38’C], batuk, sesak dan gejala flu lainnya) serta riwayat kontak erat dan atau riwayat domisili atau perjalanan ke daerah dengan transmisi lokal COVID-19. Sebagai tambahan maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang untuk meningkatkan sensitivitas metode skrining tersebut, meliputi : tes serologis (darah lengkap dan Rapid Test COVID), CT-scan thoraks atau foto thoraks.

Dari hasil skrining pasien dapat dikategorikan sebagai kasus Non-COVID, suspek atau konfirmasi.

ALGORITMA SKRINING & DIAGNOSIS IBU HAMIL DATANG KE RS

Apakah ibu hamil  harus melakukan tes swab RT-PCR sebelum melahirkan?

Sampai saat ini menunjukkan wanita hamil tidak lebih rentan untuk tertular infeksi daripada populasi umum, sehingga wajib dilakukan tes swab jika akan melahirkan atau pada saat akan dilakukan tindakan terhadap kehamilannya.

Tes swab pada ibu hamil yang hendak melahirkan sebaiknya pada minggu ke 38 atau 39 kehamilannya, sehingga status ibu hamil sudah dapat diketahui saat proses persalinan tiba. Setelah tes swab, ibu hamil diharapkan melakukan karantina mandiri di rumah, dan tetap menjaga disiplin protokol kesehatan. Jika dalam 7-10 hari tidak kunjung melahirkan maka harus dilakukan tes swab ulang untuk memastikan ibu hamil terinfeksi Virus Corona atau tidak.

Bisakah melahirkan secara normal di masa pandemi?

Ibu hamil yang tidak memiliki masalah atau risiko kehamilan tetap dapat melahirkan secara vaginal atau normal di masa pandemi dengan mengikuti prosedur yang berlaku, yaitu :

  1. Sudah melakukan skrining COVID-19 dan swab RT-PCR.
  2. Lebih awal menuju ke rumah sakit apabila belum melakukan skrining COVID-19 saat sudah terjadi kontraksi.
  3. Tetap menerapkan protokol kesehatan di ruang bersalin.
  4. Persalinan secara abdominal dengan indikasi tertentu atau tergantung kesiapan dari rumah sakit rujukan.

Jadi, meskipun memang ada himbauan dari PB POGI untuk menunda kehamilan di masa pandemi, jika ada yang ingin hamil atau sudah hamil tetap dapat menjalankan kehamilannya dengan tenang, yang penting mematuhi prosedur dan protokol kesehatan yang berlaku  agar ibu sehat, janinpun sehat.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Rekomendasi Penanganan COVID-19 pada Maternal (Hamil, Bersalin, dan Nifas), Pokja Infeksi Saluran Reproduksi POGI, 2020.
  2. Pelayanan ANC Masa Pandemi COVID-19.
  3. Protokol Tata Laksana COVID-19 eds.2.