dr. Arif Budiwan, Sp.THT-KL – Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang secara awam disebut juga penyakit congek merupakan suatu penyakit radang infeksi kronik pada telinga tengah dengan perforasi atau robekan gendang telinga. Gejala peyakit ini yaitu telinga keluar sekret atau cairan (otore)  lebih dari 2 bulan, baik terus menerus ataupun hilang timbul. Pada OMSK sekret atau cairan yang keluar dari telinga bervariasi dari encer sampai kental, berwarna bening sampai berupa nanah, tidak berbau sampai berbau busuk.

Prevalensi OMSK di Indonesia secara umum sebesar 3,9 %, dan merupakan 25% dari  pasien yang berobat di poliklinik THT-KL RSCM Jakarta pada tahun 2001. Sedangkan berdasarkan data tahun 2014 sampai dengan 2016 kasus OMSK dan OMK sebanyak 978 (48,3%) kasus dari 2024 jumlah kunjungan atau menduduki peringkat ke-3 dari 10 diagnosis terbanyak di SMF THT-KL RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten Jawa Tengah. Otitis media supuratif kronik dibagi menjadi 2 tipe yaitu tipe jinak dan tipe bahaya. Tipe jinak proses peradangannya terbatas di telinga tengah dan jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya, sedangkan tipe bahaya bisa menyebabkan erosi tulang.

Diagnosis OMSK ditegakkan dengan pemeriksaan telinga baik dengan menggunakan otoskop maupun endoskopi, yang dilengkapi dengan pemeriksaan timpanometri, audiometri nada murni maupun tutur, dan pencitraan dengan menggunakan foto polos atau CT scan. Pemeriksaan mikrobiologi sekret telinga bisa dilakukan untuk menentukan antibiotika yang tepat, walaupun terapi empirik lini pertama tidak harus menunggu pemeriksaan ini.

Tata laksana OMSK disesuaikan sesuai tipenya, pada tipe aman dilihat apakah termasuk fase tenang atau aktif. Pada OMSK tipe aman fase tenang maka bisa dilakukan stimulasi epitelialisasi tepi gendang telinga yang robek dengan harapan gendang telinga bisa menutup secara alamiah. Bila gendang telinga tetap berlubang maka indikasi untuk dilakukan operasi timpanoplasti atau penutupan gendang telinga. Pada OMSK tipe aman fase aktif maka dilakukan pemberian obat antibiotika topikal yang bisa dikombinasikan dengan antibiotika sistemik dan pencucian telinga secara periodik. Bila otore berhenti maka bisa diperlakukan seperti OMSK tipe aman fase tenang, sedangkan bila otore menetap >1 minggu perlu dilakukan pemeriksaan mikrobiologi sekret telinga untuk menentukan jenis antibiotika yang tepat. Dan bila otore masih terjadi > 3 bulan maka indikasi untuk dilakukan operasi mastoidektomi dan timpanoplasti.

Tata laksana OMSK tipe bahaya satu satunya adalah tindakan operasi mastoidektomi radikal ataupun mastoidektomi radikal kombinasi dalam rangka eradikasi kolesteatoma yang bisa menyebabkan destruksi tulang, diikuti dengan rekonstruksi gendang telinga dan dinding belakang liang telinga. Pengobatan konservatif dengan cara pembersihan lokal melalui liang telinga masih bisa dilakukan pada kolesteatoma yang terbatas atau pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menjalani operasi baik dengan menggunakan anestesi lokal maupun anestesi umum.

Pada sejumlah kasus, OMSK berpotensi menjadi serius karena komplikasinya dapat mengancam jiwa, yang dibagi menjadi komplikasi intratemporal dan intracranial. Komplikasi intratemporal meliputi abses sub-periosteal, labirintitis, petrositis, dan paresis fasial. Komplikasi intra kranial meliputi meningitis, encephalitis, abses otak, abses ekstra dura, abses perisinus, dan thrombophlebitis sinus lateral.

Bedah mikroskopik telinga tengah untuk kasus OMSK mencakup tindakan ringan yang terbatas pada rekonstruksi perforasi membran timpani sampai tindakan yang besar yaitu mengeradikasi penyakit dimanapun di tulang temporal dan sekitarnya serta merekonstruksi kelainan yang diakibatkan baik oleh penyakitnya maupun kerena tindakan operasi.

Mastoidektomi adalah tindakan membuka kortek mastoid dari arah permukaan luarnya, membuang jaringan patologis seperti pembusukan tulang atau jaringan lunak, menemukan antrum mastoid dan membuka aditus ad antrum bila tersumbat. Timpanoplasti adalah setiap tindakan yang menyingkap sisa membran timpani dari posisinya di liang telinga dalam rangka untuk rekonstruksi membrane timpani tersebut. Timpanoplasti bisa dilakukan bersama dengan mastoidektomi yang disebut dengan timpano-mastoidektomi dan bila dilakukan bersama dengan manipulasi tulang pendengaran disebut dengan timpano-osikuloplasti. Apabila tindakan hanya terbatas pada rekonstruksi membran timpani tanpa menyingkapnya terlebih dahulu dan tanpa adanya manipulasi pada tulang pendengaran dan atau telinga tengah maka disebut miringoplasti.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Djaafar ZA. Kelainan Telinga Tengah. Dalam : Supardi E, Iskandar N, Editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : FKUI; 2001.p.49-62.
  2. WHO. Chronic Suppurative Otitis Media Burden Off Illness and Management Option. Child and Adolescent Health and Development Prevention of Blindness and Deafness. WHO Geneva, Switzerland 2004.
  3. Djaafar ZA. Diagnosis dan Pengobatan OMSK. In : Helmi, Kurniawan AN, Editors. Pengobatan Non Operative Otitis Mediasupuratif. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 1990.p.46-56.
  4. Goycoolea MS, Paparela MM, luhn SK, Paul GO. Otitis Media With Perforation of The Tympanic Membrane : A Longitudinal Experimental Study. Laryngoscope 1980; 90:2037-2045.
  5. Sheehy J. Chronic Tympanomastoiditis. In : Gates G, Editor. Current Therapy In Otolaryngology-Head and Neck Surgery -4. Philadelphia : BC. Decker Inc.; 1990.
  6. THT RSCM. Data poliklinik THT RSCM 2001.
  7. THT RSUP Soeradji Tirtonegoro. Data Poliklinik THT RSST 2016.
  8. Lee KJ, Pensak ML. Background Information of Mastoidectomy. Comprehensive Surgical Atlases In Otolaryngology and Head And Neck Surgery. Grune & Stratton, New York : 1983.p.199-204.