PKRS RSST – Nyeri kepala merupakan keluhan yang umum dialami oleh masyarakat. Nyeri kepala atau headache adalah suatu rasa nyeri atau rasa yang tidak enak pada daerah kepala, termasuk meliputi daerah wajah dan tengkuk leher (Perdossi, 2013). Menurut WHO (2012), sekitar 47% populasi dewasa di dunia setidaknya pernah mengalami satu kali nyeri kepala dalam satu tahun. Nyeri kepala dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban ekonomi (WHO, 2012). Nyeri kepala dapat menurukan produktivitas kerja, mengganggu aktivitas sosial, mengganggu aktivitas pekerjaan rumah tangga, bahkan dapat mengganggu hubungan antar anggota keluarga.

Secara umum, nyeri kepala dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder.

Nyeri kepala primer merupakan nyeri kepala yang dialami oleh seseorang tanpa adanya kelainan yang mendasarinya.

Sedangkan nyeri kepala sekunder terjadi sebagai akibat adanya kelainan, seperti akibat trauma kepala.

Nyeri kepala primer lebih sering terjadi daripada nyeri kepala sekunder. Empat kelompok besar nyeri kepala primer berdasarkan Klasifikasi Internasional Nyeri Kepala edisi ke-2 yang dibuat oleh Komite Klasifikasi Nyeri Kepala International Headache Society (IHS) adalah nyeri kepala tipe tegang (tension-type headache), migrain, nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal-otonomik lainnya, serta nyeri kepala primer lainnya (Perdossi, 2013). Nyeri kepala primer umumnya terjadi pada kelompok usia 18-65 tahun (Gorelick et al., 2014). Faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya nyeri kepala, antara lain stres emosional, menstruasi, kurang tidur, kelelahan, perubahan cuaca, dan makanan (Iliopoulos et al., 2015).

Menurut penelitian nyeri kepala tipe tegang merupakan nyeri kepala yang paling banyak dialami oleh masyarakat. Lifetime prevalence nyeri kepala tipe tegang adalah 46% (Stovner et al., 2007).

Jenis nyeri kepala primer terbanyak ke-2 adalah migrain. Lebih dari 10% penduduk dunia berusia 18-65 tahun yang menderita nyeri kepala dilaporkan menderita migrain (WHO, 2011). Data WHO mengenai migrain tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Stovner et al. (2007) yang menyatakan bahwa lifetime prevalence migrain adalah 14%. Wanita tercatat lebih banyak menderita migrain daripada pria, dengan perbandingan 3 : 1. Kelompok usia 18-65 tahun paling banyak mengalami nyeri kepala ini daripada kelompok usia lainnya (Gorelick et al., 2014).

Migrain merupakan gangguan nyeri kepala berulang, dengan serangan berlangsung selama 4-72 jam dengan karakteristik berlokasi unilateral, nyeri berdenyut (pulsating), intensitas sedang atau berat, diperberat oleh aktivitas fisik rutin, dan berhubungan dengan mual dan/atau fotofobia serta fonofobia (Headache Classification Subcommittee of The International Headache Society, 2004). Gejala migrain biasanya disertai gejala mual, muntah, atau peka terhadap cahaya. Pada banyak orang, migrain menyebabkan rasa berdenyut yang terjadi hanya pada satu sisi kepala (Jasmin dkk).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa migrain adalah nyeri kepala sedang hingga parah yang terasa berdenyut yang umumnya hanya mengenai sebelah sisi kepala saja.

Penyakit ini lebih sering diidap wanita dibandingkan dengan pria. Menurut hasil penelitian WHO, dari total populasi manusia berusia 18-65 tahun yang melaporkan pernah mengalami sakit kepala, sekitar 30 persen merupakan sakit kepala migrain.

  • Pada sebagian orang, serangan migrain dapat muncul hanya beberapa kali dalam setahun.
  • Akan tetapi, pada penderita lainnya, migrain dapat muncul hingga beberapa kali dalam seminggu.
  • Pada kasus tertentu, nyeri dapat muncul di kedua sisi kepala dan bahkan menyerang leher penderita.

Namun perlu diwaspasai juga bahwa ada sakit kepala tertentu juga dapat merujuk kepada penyakit serius lainnya, seperti stroke atau meningitis. Adapun gejala-gejala yang perlu diwaspadai, antara lain :

  • Sakit kepala sangat parah yang terjadi secara tiba-tiba dan belum pernah dirasakan sebelumnya.
  • Lengan dan/atau satu sisi wajah atau seluruh wajah, terasa lemas atau lumpuh.
  • Sakit kepala yang bersamaan dengan demam, leher kaku, kebingungan, kejang, penglihatan ganda, dan ruam kulit.
  • Bicara dan gerak bibir yang sulit dimengerti.

Penyebab migrain masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor berikut diduga berperan menjadi penyebabnya.

  • Faktor hormon. Perubahan hormon menyebabkan sebagian wanita merasakan migrain pada masa menstruasi.
  • Anak-anak dengan berat badan berlebih lebih berisiko terkena serangan migrain.
  • Faktor gen. Sekitar setengah pengidap migrain memiliki kerabat dekat yang juga mengalami migrain.
  • Perubahan sementara pada zat kimia, jaringan saraf, otak dan pembuluh darah.
  • Konsumsi makanan dan minuman tertentu. Kafein, coklat, keju, bumbu penyedap masakan (misal : MSG), dan alkohol dapat memicu migrain.

Faktor pemicu lainnya, seperti stres dan kelelahan turut bisa memicu migrain pada sebagian pengidap. (Lt)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Woro Riyadina dan Yuda Turana. Faktor Risiko dan Komorbiditas Migrain. 2014. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/20916-ID-risk-factor-and-comorbidity-of-migraine.pdf.
  2. Harlin, Farhani. Gambaran Nyeri Kepala Primer pada Pasien yang Berobat ke Poliklinik Saraf RSUP Dr. M. Djamil Padang. 2016. Universitas Andalas. Diambil dari http://scholar.unand.ac.id/5218/2/Bab%201%20Pendahuluan.pdf.
  3. http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stroke/adakah-sobat-sehat-yang-pernah-mengalami-migrain.
  4. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stroke/gejala-gejala-migrain-berikut-ini-perlu-diwaspadai.
  5. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stroke/faktor-faktor-penyebab-migrain.