I. Dewa Nyoman Suci Anindya M., Sp.OT – Usia tua merupakan salah satu faktor risiko terjadi OA. Hampir semua orang di atas usia 70 tahun mengalami gelaja OA ini, dengan tingkat nyeri yang berbeda-beda. Sebelum usia 55 tahun perbandingan OA pada pria dan wanita sebanding, namun pada usia di atas 55 tahun lebih banyak pada wanita. Paling sering pasien RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) yang mengalami OA di atas 50 tahun.

Selain diakibatkan oleh aus, OA juga dapat disebabkan oleh karena trauma atau akibat dari penyakit sendi yang lain (sekunder). Tulang rawan yang terdapat di antara sendi berfungsi sebagai bantalan pada saat sendi dipakai, namun karena bagian ini rusak maka permukaan tulang pada sendi tersebut saling beradu sehingga timbul rasa nyeri, bengkak, dan kaku.

Faktor risiko lain adalah riwayat keluarga dengan OA, berat badan berlebih, pekerjaan yang membutuhkan jongkok atau berlutut lebih dari 1 jam/hari. Pekerjaan mengangkat barang, naik tangga atau berjalan jauh juga merupakan risiko. Sedangkan olahraga yang mengalami trauma pada sendi seperti sepak bola, basket atau voli juga meningkatkan risiko OA.

Gejala Klinis

Keluhan yang dirasakan pasien OA adalah nyeri pada sendi, terutama sendi yang menyangga berat tubuh (seperti sendi lutut atau pinggang). Nyeri terutama dirasakan sesudah beraktivitas menggunakan sendi tersebut, dan berkurang jika istirahat. Jadi nyeri tidak terasa terus-menerus, tapi konsisten dalam jangka waktu yang panjang. Kadang-kadang memang timbul rasa kaku di sendi tersebut pada pagi hari sesudah bangun tidur, berlangsung kurang dari 30 menit. Kaku ini akan membaik setelah digerak-gerakkan beberapa saat. Bila digerakkan bisa terdengar bunyi “krek” krepitus. Setelah beberapa waktu kemudian penyakit ini dapat memberat sehingga terasa nyeri juga pada saat sedang istirahat. Penekanan pada beberapa bagian tertentu di sekitar sendi yang nyeri akan terasa sakit. Gerak sendi juga menjadi terbatas karena nyeri.

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat menegakkan diagnosis OA, namun pemeriksaan radiologi / rontgen dapat membantu. Pada rontgen dapat terlihat gambaran celah sendi yang menyempit, tumbuh tulang kecil (osteofit) dan terjadi sklerosis (pengapuran) di sekitar sendi yang terkena tersebut.

Terapi

OA tidak dapat disembuhkan. Penyakit ini biasanya makin lama makin memburuk sejalan dengan usia. Tetapi keluhan OA dapat dikontrol sehingga penderita OA dapat beraktivitas seperti biasa dan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa rasa nyeri. Beberapa obat dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Selanjutnya jika tetap nyeri walaupun sudah menjalani semua prosedur pengobatan maka pilihan terakhir adalah operasi. Pemasangan sendi palsu pada sendi yang rusak itu dapat membantu pasien-pasien yang sudah parah.

Terapi Non Farmakologis

Pertama-tama penderita OA harus mengerti dulu apa yang terjadi pada sendinya, mengapa timbul rasa sakit dan apa yang perlu dilakukan, sehingga pengobatan OA dapat berhasil. Pada saat beraktivitas terasa nyeri dan jika istirahat nyeri hilang, sehingga banyak penderita memilih diam, seminimal mungkin melakukan aktivitas agar tidak nyeri, hal ini kurang tepat karena otot-ototnya akan menjadi lemah kalau jarang digunakan, selanjutnya beban ke sendi akan menjadi lebih berat dan pada saat  berjalan / bangun dari duduk nyeri semakin hebat.

Jika sendi sedang bengkak maka pilihannya adalah kompres dingin, dan jika sudah teratasi atau rasa kaku maka pilihannya adalah kompres hangat. Penting pula memperhatikan berat badan. Jika berat badan berlebih harus diturunkan sampai BB ideal. Berat badan yang berlebih akan menjadi beban bagi sendi-sendi yang menopang tubuh, sehingga semakin nyeri.

Selama ini banyak mitos yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa makan sayur-sayuran hijau atau kacang-kacangan dapat menyebabkan nyeri sendi, hal ini tidaklah tepat. Tidak ada makanan tertentu yang menyebabkan nyeri sendi pada OA, namun makan yang berlebihan sehingga berat badan meningkat akan menambah nyeri, karena menambah beban pada sendi untuk menopang berat badan.

Terapi Farmakologis

Penggunaan obat-obatan pereda nyeri, mulai dari parasetamol, obat anti inflamasi non steroid, suplemen, suntikan hyaluronat (suntikan langsung ke dalam rongga sendi, berfungsi sebagai pelumas dan menambah cairan sendi) dan suntikan kortikosteroid jika keadaan sendi meradang atau bengkak. Selain itu penderita harus hati-hati menggunakan obat-obat “stelan” atau beberapa macam “jamu” yang dijual bebas dengan promosi “dapat menghilangkan rematik atau asam urat”. Campuran yang terdapat dalam obat-obat ini kadang dapat berbahaya bagi pasien yang mengkonsumsinya.

Terapi Bedah

Operasi atau tindakan bedah merupakan alternatif terapi bagi penderita OA yang sudah tidak respon dengan terapi farmakologi maupun non farmakologi di atas. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain adalah : artroskopi, sinovektomi, osteotomi, dan penggantian sendi (operasi mengganti sendi yang rusak dengan sendi baru yang terbuat dari bahan metal).

Salah satu cara menunda datangnya penyakit ini adalah olahraga teratur sesuai kemampuan dan menjaga asupan nutrisi yang seimbang. Makanan yang baik untuk dikonsumsi untuk menunda OA, antara lain anggur merah, wortel, bayam, salmon, telur, susu, hingga kacang-kacangan. Sedangkan jenis makanan yang perlu dihindari antara lain makanan olahan, makanan yang mengandung lemak jenuh, dan karbohidrat olahan. Minum susu juga membantu menumbuhkan mineral cadangan sel-sel tulang. Latihan fisioterapi untuk menguatkan otot-otot di sekitar lutut dan panggul juga sangat direkomendasikan.