Dian Eka Sari, S.Gz – Geriatri adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit kronis yang umumnya berkaitan dengan proses menua, termasuk penegakan diagnosis dan pengobatan. Sementara itu terapi gizi medis sebelumnya hanya dipraktikkan di rumah sakit / fasilitas perawatan jangka panjang, namun seiring dengan bertambahnya jumlah lansia dan kebutuhan maka pelayanan gizi berkembang ke rumah dan masyarakat yang fokusnya adalah promosi kesehatan, penurunan risiko, dan pencegahan penyakit.

Menurut World Health Organization (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Faktor-faktor perubahan yang mempengaruhi masalah kesehatan pada lansia yang berpengaruh dengan status gizi :

Perubahan Fisiologis

Tubuh manusia mengalami perubahan sesuai dengan masanya. Semakin bertambah usia, akan semakin berkurang fungsi tubuhnya dan terjadi berbagai perubahan baik secara fisik maupun persepsi, penurunan massa tubuh, kecepatan metabolisme basal, dan menurunnya fungsi organ-organ untuk bekerja yang kemudian mempengaruhi kebutuhan gizi lansia.

Perubahan Komposisi Tubuh

Meliputi, terjadinya :

  1. Penurunan massa tubuh (kurus) antara 1% – 2% per tahun dimulai pada usia 30 tahun.
  2. Terjadi peningkatan jaringan adiposa, lemak berkurang di daerah kaki tetapi meningkat sekitar organ dan perut. Peningkatan ini terkait erat dengan tingkat kebugaran lansia dan berat badan.
  3. Penurunan cairan tubuh total (penurunan cairan ekstraseluler dan intraseluler).
  4. Penurunan densitas tulang.

Perubahan Indera Perasa dan Penciuman

Perubahan indera dan persepsi seperti kepekaan terhadap rasa, aroma, bahkan pendengaran dan penglihatan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pemenuhan gizi lansia. Contoh : ketika kemampuan seseorang untuk mengecap rasa berkurang, makanan terasa hambar atau pahit sehingga mempengaruhi bagaimana seseorang memilih jenis makanan dan berpengaruh terhadap jumlah asupan makan lansia.

Papila pengecap mulai mengalami atrofi pada usia 50 tahun, terutama penurunan sensitivitas terhadap rasa manis dan asin. Selain itu muncul glossodyna atau nyeri pada lidah. Namun penurunan indera pengecap juga perlu memperhatikan pengaruh obat-obatan.

Perubahan Gigi dan Mulut Lansia

Penurunan sekresi air liur, kehilangan gigi geligi, penggunaan gigi tiruan dan xerostomia (mulut kering) dapat menyebabkan gangguan mengunyah dan menelan. Sehingga lansia dengan masalah gigi dan mulut lebih menyukai makanan lunak yang lebih mudah dikunyah. Di sisi lain lansia akan membatasi makanan padat gizi seperti biji-bijian, buah segar, sayur-sayuran dan daging. Oleh sebab itu persiapan makanan lansia yang kaya cairan seperti sup, rebusan, dan makanan cincang akan membuat makanan lebih mudah dikunyah dan ditelan.

Selain perubahan di atas kebutuhan gizi dan status gizi lansia juga dipengaruhi oleh faktor komorbid lain seperti perubahan saluran cerna, perubahan pada ginjal, kardiovaskular, neurologis dan masih banyak lagi.

Rekomendasi gizi seimbang untuk lansia :

  1. Jaga keseimbangan energi untuk mencapai dan menjaga berat badan normal. Makan utama dan selingan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan lansia sehingga mencukupi kebutuhan gizinya. Kebanyakan lansia tidak mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak dalam sekali makan, sehingga makanan diberikan porsi kecil namun sering.

Pola makan diutamakan seperti asupan makanan dan minuman padat gizi. Contoh pilih susu dan hasil olahannya yang rendah lemak, seafood, daging has dan unggas, telur, kacang-kacangan dan biji-bijian. Perhatikan cara pengolahannya yang disesuaikan dengan kemampuan dan faktor penyakit lain yang diderita oleh lansia.

  1. Batasi konsumsi gula, karbohidrat sederhana : tepung, garam, dan lemak jenuh.
  2. Pilih sayuran, buah, biji-bijian dan hasil olahannya sebagai sumber kalium, serat makanan, kalsium, dan vitamin D. Makan berbagai macam sayuran terutama yang berwarna hijau, orange.
  3. Biasakan mengkonsumsi sumber kalsium untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tulang dan gigi. Lansia dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang kaya kalsium serta vitamin D seperti ikan, susu. Selain itu terpapar sinar matahari pagi juga dapat membantu pembentukan vitamin D aktif dalam tubuh.
  4. Kebutuhan gizi sebaiknya terpenuhi dari asupan makan. Bila dibutuhkan, makanan yang difortifikasi dan suplemen diperbolehkan pada kondisi khusus sesuai dengan intruksi medis.
  5. Biasakan konsumsi makanan berserat karena lansia sering mengalami sembelit, selain sayur dan buah lansia dapat mengonsumsi produk whole grain yang tinggi serat.
  6. Minum air putih sesuai kebutuhan. Karena Seiring dengan bertambahnya usia, sistem hidrasi lansia menurun sehingga kurang peka terhadap kekurangan atau kelebihan cairan. Sebaiknya lansia mengonsumsi 1500 – 1600 ml sekitar 6 gelas atau 25 – 30 ml/Kg BB per hari. Ini lebih sedikit daripada anjuran konsumsi air untuk orang dewasa yang sebanyak 8 gelas per hari.
  7. Tetap melakukan aktivitas fisik dan kurangi waktu untuk aktivitas sedenter. Lansia dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan santai, bersepeda, berkebun, yoga atau senam lansia.
  8. Dari semua rekomendasi yang telah disebutkan tadi, tentunya bahan makanan yang akan diolah harus disesuaikan dengan penyakit penyerta atau makanan pantangan masing-masing individu, selain itu pengolahan yang tepat sehingga makanan dapat diterima dengan baik oleh lansia.

Selain rekomendasi diet gizi seimbang untuk lansia, berikut ini ada beberapa bantuan terhadap lansia yang dapat dilakukan oleh keluarga saat makan dan minum untuk mencegah terjadinya malnutrisi :

  1. Saat makan harus santai dan tidak tergesa-gesa.
  2. Jika pasien gelisah atau tertekan, jangan paksa mereka untuk makan atau minum. Tunggu sampai tenang sebelum menawarkan makanan atau minuman untuk menghindari risiko tersedak.
  3. Pastikan bahwa pasien nyaman dan duduk tegak. Jika terbaring di tempat tidur, aturlah posisi yang baik sebelum memberikan makanan dan minuman (dudukkan pasien antara 30-45 derajat untuk mrnghindari tersedak).
  4. Berhati-hatilah ketika menawarkan makanan dan minuman panas karena beberapa penderita demensia kehilangan kemampuan untuk menilai suhu.
  5. Jika pasien kesulitan menggunakan sendok dan garpu, bimbinglah tangan mereka ke mulut untuk mengingatkan cara makan.
  6. Pasien dengan kesulitan menelan harus diberikan makanan dengan konsistensi yang dapat mereka toleransi dan harus diberikan oleh keluarganya.
  7. Pasien yang tidak dapat duduk lebih dari 15 menit dapat diberikan makanan ringan antara waktu makan karena pasien sering merasa lapar akibat gelisah.
  8. Pasien demensia stadium akhir memerlukan pemasangan selang makan untuk mempertahankan berat badan.

 

 

 

 

 

Referensi        :

Penuntun Diet dan Terapi Gizi Edisi 4, 2020 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia dan Asosiasi Dietisien Indonesia Jakarta. Krause, 2017.