dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG (K) – Setiap tanggal 1 – 7 Agustus, dunia internasional memperingati World Breastfeeding Week atau Pekan ASI Sedunia. Hal ini merupakan salah satu cara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) mendukung ibu menyusui di seluruh dunia untuk terus berusaha memberikan ASI eksklusif.

WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan pertama. Ibu menyusui sebaiknya melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2 (dua) tahun, disertai dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Alasannya adalah karena ASI merupakan sumber utama nutrisi bayi. ASI mengandung lemak, protein, gula, enzim, antibodi, dan sel-sel darah putih yang dibutuhkan oleh tubuh bayi untuk membangun sistem imunitas atau sistem kekebalan tubuh agar kuat melawan berbagai virus, penyakit, dan infeksi.

ASI mengandung immunoglobulin, faktor antiviral, sitokin dan leukosit yang membantu bayi mempertahankan diri dari serangan virus atau bakteri patogen dan meningkatkan sistem imun bayi. Kandungan ini semakin bertambah seiring pertambahan usia balita. Hormon oksitosin yang distimulir oleh kegiatan menyusui dapat mengurangi stress pada ibu dan membantu menjaga kesehatan mental. ASI merupakan sumber makanan bayi yang aman dan terjamin kualitas dan ketersediaannya bahkan pada krisis global dan merupakan cara yang hemat tanpa membebani anggaran rumah tangga.

ASI juga dilaporkan dapat meningkatkan jumlah immunoglobin (antibodi) pada saluran napas dan kelenjar ludah bayi usia 4 hari. Hal ini dibuktikan dengan lebih rendahnya kejadian penyakit radang telinga tengah, pneumonia, penyebaran bakteri ke bagian tubuh lainnya, meningitis (radang selaput otak), dan infeksi saluran kemih pada bayi yang mendapat ASI dibanding bayi yang mendapat susu formula. Fakta ini lebih nyata pada 6 (enam) bulan pertama dan dapat terlihat sampai tahun kedua. Demikian pula angka kematian bayi yang mendapat ASI lebih rendah dibanding bayi yang mendapat susu formula.

ASI mengandung nutrisi dan faktor bioaktif yang dapat mencegah infeksi dan peradangan serta mendukung imunitas tubuh dan kematangan organ). Ini menegaskan bahwa pemberian ASI eksklusif sangat penting dalam mendukung pertumbuhan anak yang optimal. Kandungan nutrisi dari menyusui, seperti asam lemak rantai panjang seperti asam Docosahexaenoic (DHA) dan Asam Arakidonat (AA) dan pengaruhnya terhadap perkembangan otak.

WHO tetap merekomendasikan aktivitas menyusui karena memiliki manfaat yang melebihi risiko. Bahkan pada kondisi jika ibu terkonfirmasi COVID-19, masih harus terus melanjutkan untuk menyusui bayinya. Setelah persalinan, kegiatan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) yakni kontak kulit ke kulit yang dilanjutkan dengan menyusui, dapat terus dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk menjaga suhu tubuh bayi dan menurunkan angka kematian bayi baru lahir.

Bagi ibu yang dinyatakan terjangkit COVID-19 dan ingin menyusui harus selalu menjaga kesehatan pernapasan dan menggunakan masker saat menyusui, mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi, serta rutin membersihkan permukaan untuk membasmi kuman dan permukaan puting sebelum dan sesudah menyusui. Permukaan puting dapat dibersihkan dengan mandi lebih sering atau melalui pengolesan ASI di area puting sebelum dan sesudah menyusui.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. https://aimi-asi.org/layanan/lihat/panduan-menyusui-di-masa-pandemi-covid-19.
  2. https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/covid-19-and-breastfeeding.html.
  3. https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2722/edukasi-dan-pemberdayaan-ibu-hamil-dan-menyusui-penting-di-masa-pandemi.
  4. https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/menyusui-pada-masa-wabah-virus-corona-covid-19.
  5. https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/breastfeeding-and-covid-19.
  6. https://covid19.go.id/edukasi/ibu-dan-anak/panduan-menyusui-dalam-situasi-pandemi-covid-19.
  7. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-kekebalan-tubuh.
  8. Erna Julianti, Elni. Determinants of Stunting in Children Aged 12-59 Months. Nurse Media Journal of Nursing, 10 (1), 2020, 36-45.