dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Penambahan kasus konfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia melonjak sebanyak 8.369 kasus baru pada Kamis (3/12/2020). Banyaknya kasus baru COVID-19 ini membuat banyak orang harus menjalani karantina ataupun isolasi mandiri. Ketika seseorang menjalani karantina atau isolasi mandiri disarankan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak bepergian ke ruang publik serta tidur di kamar terpisah dan menjaga jarak dari anggota keluarga lain. Hal ini mengakibatkan interaksi fisik dengan orang lain sangat minimal serta terganggunya aktivitas sehari-hari untuk sementara waktu yang dapat berdampak pada psikologis seperti munculnya stres dan cemas. Gangguan stres dan kecemasan yang terjadi dikhawatirkan menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat apabila tidak diatasi. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dijalankan untuk menghindari atau meminimalisir stres dan kecemasan selama menjalani karantina atau isolasi mandiri.

  • Berpikir Positif

Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik dan gangguan mental berat. Salah satu cara untuk mengatasi stres adalah dengan melakukan manajemen stres dimana terdapat upaya yang rasional, terarah dan efektif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kholidah dan Alsa (2012) dapat diketahui bahwa pelatihan berpikir positif efektif menurunkan tingkat stres.

Cara lain untuk mendapatkan energi positif adalah berbahagia dan mengembangkan optimisme.

  • Membuat Rutinitas Harian

Membuat rutinitas harian seperti waktu untuk bangun, makan dan tidur yang teratur. Meluangkan waktu untuk beribadah, olah raga dan relaksasi. Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga dapat memicu pengeluaran hormon endorfin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari untuk membantu mengurangi rasa sakit dan sebagai penenang. Olahraga yang dapat dilakukan ketika berada di dalam kamar atau dalam masa isolasi seperti yoga diketahui dapat membantu menghilangkan stres karena melibatkan kekuatan tubuh dan pikiran.

  • Sosialisasi Secara Virtual

Salah satu kebutuhan manusia adalah bersosialisasi, dimana ketika seseorang menjalin interaksi sosial dengan orang lain dapat menimbulkan rasa bahagia dan menstimulus otak untuk memunculkan ide-ide baru. Namun, kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan dengan leluasa di masa pandemi COVID-19 karena setiap orang harus menjaga jarak atau ketika menjalankan karantina / isolasi mandiri. Cara teraman yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aktivitas atau kunjungan sosial secara virtual. Bersosialisasi secara virtual tentu tidak sama dengan bersosialisasi secara langsung, tetapi hal ini dapat meningkatkan suasana hati dan menurunkan risiko stres.

  • Membatasi Sosial Media

Lamanya aktivitas di sosial media secara signifikan berhubungan menyebabkan gejala depresi seperti yang ditemukan dalam penelitian Twenge et al (2017). Hal ini dimungkinkan terjadi akibat banyaknya konten negatif dalam sosial media yang diterima. Konten negatif itu sendiri dapat juga memperlambat kerja otak dalam mengatasi stres seperti yang dikutip dari Susanne Babbel dalam CNN. Kemudian Hunt et al (2018) menemukan bahwa membatasi penggunaan sosial media menjadi 30 menit per hari dapat meningkatkan kesejahteraan dengan signifikan. Mengurai durasi penggunaan sosial media dianggap merupakan pilihan yang realistis jika dibandingkan harus tidak menggunakannya sama sekali.

  • Mendengarkan Musik

Dalam masa pandemi COVID-19, musik berperan penting dalam memperbaiki suasana hati serta menurunkan stres dan kecemasan. Mendengarkan musik dapat mengaktivasi otak untuk melakukan regulasi emosi serta memberikan dampak positif pada sistem imun (Porshi, 2020). Dalam penelitian Perez et al (2010) menunjukkan bahwa kelompok orang yang diberikan terapi musik klasik mengalami penurunan gejala depresi jika dibandingkan dengan kelompok orang yang dilakukan terapi perilaku konduktif. Perpaduan antara musik dan membayangkan menjadi media untuk relaksasi sehingga dapat mengurai stres.

Jika dalam masa karantina atau isolasi mandiri, merasa stres atau cemas, jangan biarkan larut terlalu lama. Segera lakukan sesuatu untuk membuat diri menjadi merasa lebih baik. Apabila tidak sanggup mengatasinya, konsultasikan lebih lanjut pada orang terdekat atau psikolog atau psikiater.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Kholidah, E.N., Alsa, A. 2012. Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis. Jurnal Psikologi, 39 (1), 67-75.
  2. Hunt, M.G., Marx, R., Lipson C., Young, J. 2018. No More Fomo : Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37 (10). 751-768. https://guilfordjournals.com/doi/pdf/10.1521/jscp.2018.37.10.751.
  1. Porshi, J. M. 2020. Music Reliefs Stress & Anxiety during COVID 19 Pandemic. Asian Research Journal of Arts & Social Sciences, 11(4), 38-42. https://doi.org/10.9734/arjass/2020/v11i430178.
  1. Sergio Castillo-Pérez, Virginia Gómez-Pérez, Minerva Calvillo Velasco, Eduardo Pérez-Campos, Miguel-Angel Mayoral. 2010. Effects of Music Therapy on Depression Compared With Psychotherapy. The Arts in Psychotherapy. 37 (5), 387-390. https://doi.org/10.1016/j.aip.2010.07.001/.