dr. Lucky Taufika Yuhedi,  Sp.Onk.Rad (Ka. Tim Vaksinasi SARS COV-2 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten) – Vaksinasi COVID-19 saat ini sudah mulai menyasar para lansia, pemerintah  melalui Kementerian Kesehatan sebelumnya telah memprioritaskan tenaga kesehatan dan pejabat publik untuk mendapatkan vaksinasi dalam tahap awal saat ini. Vaksin yang digunakan adalah Vaksin Sinovac yang merupakan produk dari Sinovac Biotech China. Pemberian vaksinasi Sinovac yang dianjurkan sebanyak 2 (dua) dosis dengan selang waktu 14 hingga 28 hari. Diharapkan paska penyuntikan vaksin tubuh dapat membentuk antibodi yang diperlukan untuk pertahanan terhadap infeksi virus SARS COV-2 (COVID-19). Kekebalan  aktif akan terbentuk 2 (dua) minggu paska penyuntikan kedua.

Dalam setiap pelaksanaan vaksinasi terdapat meja edukasi dimana edukator menyampaikan reaksi lokal dan sistemik yang mungkin muncul paska pemberian vaksinasi Sinovac. Reaksi lokal berupa nyeri pada bekas lokasi penyuntikan, kemerahan, bengkak, pegal, sedangkan reaksi sistemik berupa demam, nyeri otot dan sendi, badan terasa lemah serta sakit kepala. Reaksi yang sifatnya ringan akan berangsur hilang dalm 1 sampai 2 hari.

Selain reaksi lokal dan sistemik, penerima vaksin harus waspada terhadap reaksi alergi berupa kemerahan (urtikaria) dan reaksi anafilaktik (syok) dan pingsan. Jika penerima vaksin mengalami hal-hal tersebut disarankan segera mendatangi fasilitas layanan kesehatan terdekat. Pada saat pelaksanaan vaksinasi edukator akan memberikan informasi berupa konsumsi obat pereda demam dan nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen dan banyak minum air putih serta kompres air hangat pada lengan yang disuntik.

Reaksi lokal, sistemik dan lainnya seperti yang disampaikan di atas merupakan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Beberapa hal yang menarik dari pengalaman para tenaga kesehatan dan karyawan di lingkungan RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten kebanyakan mengeluhkan lapar dan mengantuk paska divaksin.

Pada Peraturan Menteri Kesehatan No.12 tahun 2017 menyebutkan perihal KIPI, KIPI adalah semua kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, dan menjadi perhatian dan diduga berhubungan dengan imunisasi.

KIPI sendiri dapat dibagi menjadi 2, KIPI Serius dan Non Serius.

KIPI Serius adalah setiap kejadian medik setelah imunisasi yang menyebabkan rawat inap, kecacatan dan kematian serta menimbulkan keresahan di masyarakat. Hal ini perlu segera dilaporkan setiap ada kejadian secara berjenjang untuk kemudian dilakukan penyelidikan oleh petugas kesehatan penyelenggara vaksinasi untuk dilakukan kajian serta rekomendasi oleh Komda atau Komnas KIPI yang terdiri dari ahli epidemiologi dan profesi.

KIPI Non Serius adalah kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi dan tidak menimbulkan risiko potensial pada kesehatan si penerima. Dilaporkan rutin setiap bulan bersamaan dengan hasil cakupan imunisasi penyelenggara vaksin.

Komnas KIPI melaporkan lebih dari 60% kasus KIPI muncul karena kecemasan penerima vaksin, kecemasan tersebut memunculkan reaksi lemas, sesak dan pingsan serta keluhan lainnya. Kejadian tersebut dikelompokkan dalam immunization stress release respond. Suatu keadaan yang memunculkan keluhan sebagai respon kecemasan terhadap produk vaksin yang akan diterima.

Klasifikasi penyebab yang spesifik antara lain :

  1. Adanya reaksi yang berkaitan dengan produk vaksin, misalnya demam.
  2. Adanya reaksi yang berkaitan dengan adanya penurunan kualitas / cacat vaksin, misal vaksin generasi awal dari produsen.
  3. Adanya reaksi berkaitan kekeliruan prosedur pemberian imuniasi, misal vial multidosis yang terkontaminasi.
  4. Adanya reaksi yang berkaitan dengan kecemasan yang berlebihan yang berhubungan dengan suntikan vaksin, misalnya pingsan setelah divaksin.
  5. Adanya kejadian koinsiden (coincidental event), misalnya demam setelah imunisasi tapi ternyata akibat infeksi virus demam berdarah.

Pengawasan adanya KIPI sangat penting, penyelenggara vaksin umumnya menyertakan narahubung pada kartu vaksinasi yang dapat dihubungi pada saat penerima vaksin menjumpai KIPI. Terkait vaksinasi COVID-19 ini, pengawasan KIPI sangat penting karena berkaitan dengan pengumpulan data karena vaksinnya masih baru dan penggunaanya secara massal juga masih terbatas serta untuk memperkuat data keamanan vaksin.

Kegiatan vaksinasi untuk warga +62 ini akan berlangsung hingga tahun 2022, peran serta masyarakat sangat diharapkan untuk terciptanya herd immunity, untuk memutuskan rantai penularan penyakit, mencegah keparahan penyakit serta dapat memulihkan perekonomian bangsa. Meskipun telah mendapatkan vaksinasi dan tidak ada keluhan KIPI, semua orang senantiasa wajib menjalankan protokol kesehatan yang ada, Ingat 5M! memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. AYO VAKSIN!