Tim Promkes RSST – Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM), juga faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini, terjadinya gagal jantung serta penyakit gangguan otak. Hipertensi dikenal sebagai the killer disease dan the heteregeneous group of disease. Hipertensi didefinisikan sebagai penyakit dengan peningkatan tekanan darah secara menetap (Dipiro, dkk., 2011). Penyakit Hipertensi di Indonesia menjadi masalah yang potensial selain karena prevalensinya tinggi, juga penyakit yang diakibatkannya sangat fatal seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan lain-lain.

Umumnya, seseorang dikatakan mengalami Hipertensi jika tekanan darah berada di atas 140/90 mmHg. Hipertensi dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yakni Hipertensi primer (esensial) dan Hipertensi sekunder. Hipertensi dipicu oleh beberapa faktor risiko, seperti faktor genetik, obesitas, kelebihan asupan natrium, dislipidemia, kurangnya aktivitas fisik, dan defisiensi vitamin D (Dharmeizar, 2012). Tingkat prevalensi Hipertensi diketahui meningkat seiring dengan peningkatan usia dan prevalensi tersebut cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah atau masyarakat yang tidak bekerja (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Penyakit Hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Setiap peningkatan 20 mmHg tekanan darah sistolik atau 10 mmHg tekanan darah diastolik dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke (Chobanian, dkk., 2003). Terkontrolnya tekanan darah sistolik dapat menurunkan risiko kematian, penyakit kardiovaskular, stroke, dan gagal jantung.

Hipertensi telah lama diketahui sebagai penyakit yang melibatkan banyak faktor baik faktor internal seperti jenis kelamin, umur, genetik dan faktor eksternal seperti pola makan, kebiasaan olahraga dan lain-lain. Untuk terjadinya Hipertensi perlu peran faktor risiko tersebut secara bersama-sama (common underlying risk factor) dengan kata lain satu faktor risiko saja belum cukup menyebabkan timbulnya Hipertensi. Oleh karena itu, seberapa besar angka prevalensi penyakit ini akan sangat dipengaruhi oleh gambaran faktor-faktor tersebut di suatu populasi masyarakat. Saat ini terdapat kecenderungan pada masyarakat perkotaan lebih banyak menderita Hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan risiko Hipertensi seperti stres, obesitas (kegemukan), kurangnya olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.

Hipertensi bisa terjadi tanpa gejala, untuk itu bisa digolongkan pada penyakit yang berbahaya. Pada umumnya Hipertensi tidak disertai dengan gejala atau keluhan tertentu. Namun keluhan tidak spesifik pada penderita Hipertensi adalah :

  • Sakit kepala,
  • Pusing
  • Jantung berdebar-debar
  • Rasa sakit di dada
  • Gelisah
  • Penglihatan kabur
  • Mudah lelah, dan lain-lain

Jika gejalanya baru muncul setelah Hipertensi makin parah dan sampai mengancam nyawa, jika gejala yang dapat muncul pada kondisi tersebut antara lain :

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit kepala
  • Mimisan
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Gangguan penglihatan
  • Telinga berdenging
  • Gangguan irama jantung
  • Darah dalam urine

Sehingga, untuk mencegah Hipertensi diperlukan upaya-upaya sebagai berikut :

  • Mengurangi konsumsi garam (jangan melebihi 1 sendok teh per hari).
  • Melakukan aktivitas fisik teratur (seperti jalan kaki 3 km/ olahraga 30 menit per hari minimal 5x/minggu).
  • Tidak merokok dan menghindari asap rokok.
  • Diet dengan gizi seimbang.
  • Mempertahankan berat badan ideal.
  • Menghindari minum alkohol.

Gunakan cara PATUH untuk mengendalikan Hipertensi, yaitu :

  • Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter.
  • Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur.
  • Tetap diet dengan gizi seimbang.
  • Upayakan aktivitas fisik dengan aman.
  • Hindari asap rokok, alkohol dan zat karsinogenik.

Jika sudah terkena Hipertensi, pengobatan Hipertensi dapat dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama/Puskesmas, sebagai penanganan awal dan kontrol.

Pengobatan Hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan seumur hidup, harus minum obat secara teratur seperti yang dianjurkan oleh Dokter meskipun tak ada gejala. Hal-hal yang harus diperhatikan, antara lain :

  • Cara minum obat, dosis yang digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
  • Mengetahui perbedaan antara obat-obatan yang harus diminum untuk jangka panjang (yaitu obat tekanan darah) dan pemakaian jangka pendek yaitu untuk menghilangkan gejala (misalnya untuk mengatasi mengi).

Melakukan pengecekan secara berkala di rumah bisa dilakukan, yaitu dengan metode CERAMAH (Cek Tekanan Darah di Rumah). Hal yang perlu dilakukan sebelum pengecekan :

  • Usahakan tubuh dengan posisi duduk selama 2-5 menit.
  • Tidak diperkenankan untuk meminum kopi.
  • Tidak mengkonsumsi obat sebelum pengecekan.
  • Tidak menahan buang air kecil.

Pengecekan sebaiknya dilakukan 2 – 3 kali dengan jangka waktu 1 (satu) menit untuk mendapatkan data variasi tekanan darah.

Alat ukur tekanan darah yang paling dianjurkan adalah jenis digital, gunakan alat pengukuran yang sudah tervalidasi. Lebih baik gunakan alat ukur yang menggunakan manset dan dililitkan pada lengan (brachial bloodpressure). (Lt)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Erica Kusuma Rahayu Sudarsono, Julius Fajar Aji Sasmita, Albertus Bayu Handyasto, Stefanus Sofian Arissaputra, Natalia Kuswantiningsih. Peningkatan Pengetahuan tentang Hipertensi Guna Perbaikan Tekanan Darah pada Anak Mudadi Dusun Japanan, Margodadi, Sayegan, Sleman, Yogyakarta. Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
  2. Artik, RM. Suryadi Tjekyan, M. Zulkarnain. Faktor-faktor Risiko dan Angka Kejadian Hipertensi pada Penduduk Palembang. Dinas Kesehatan Kota Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
  3. Rika Lisiswanti dan Dea Nur Aulia Dananda. Upaya Pencegahan Hipertensi. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2017, 8(3):180-191.
  4. www.p2ptm.kemkes.go.id