dr. Indah Juliana, Sp.P, M.Kes – Dua bulan terakhir dunia digegerkan dengan isu mewabahnya Virus Corona. Seperti yang telah diberitakan pada tanggal 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Tanggal 7 Januari 2020, China mengidentifikasi kasus pneumonia tersebut sebagai jenis baru coronavirus (novel coronavirus, 2019-nCoV), kemudian tanggal 11 Februari diumumkan nama resmi baru untuk Virus Corona yaitu Corona Virus Disease (Covid-19). Penambahan jumlah kasus Covid-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan bahkan negara lain. Data ter-update tanggal 18 Februari dan diumumkan secara resmi, sudah ada 71.541 kasus, mengalami perbaikan 10.615, meninggal dunia 1.775, dan telah menyebar di 32 negara.

Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) (2012) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV) (2003). Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia.

Novel coronavirus adalah virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Novel coronavirus juga merupakan virus zoonosis, ditularkan antara hewan pada manusia, kemudian berkembang menjadi penularan dari manusia ke manusia.

Badan Kesehatan Dunia / WHO menyatakan Virus Corona sebagai darurat internasional. WHO akan mengumumkan langkah-langkah penanganan lebih lanjut.

Jika dirunut secara jelas, Virus Corona memiliki beberapa pengertian dan perkembangannya.

Virus Corona atau Novel Coronavirus (2019-nCoV) ini berasal dari Wuhan, Cina. Bentuk virus yang masih bersaudara dengan penyebab SARS dan MERS ini persis seperti mahkota. Bentuk mahkota ditandai protein S berupa sepatu yang tersebar di sekeliling permukaan virus, korona artinya mahkota.

Berikut pengertian serta perkembangan Virus Corona :

  1. Corona Virus adalah keluarga / family dari wronaviridac, genus Beta coronavirus.
  2. Merupakan RNA Virus, bersirkulasi pada hewan seperti unta, kelelawar, kucing sehingga disebut virus zoonotic. Hewan dengan Corona Virus dapat berkembang dan menginfeksi manusia seperti kasus out breaks, MERS, SARS dan saat ini 2019-nCoV.
  3. nCoV-2019 disebut Novel karena merupakan virus jenis baru, yang belum pernah teridentifikasi pada manusia. Kode genetik 2019-nCoV mirip SARS – like kelelawar dan mungkin bermutasi sebelum menginfeksi manusia dan setelah diteliti lebih lanjut mirip coronavirus di ular (ular makan kelelawar). Ular dan kelelawar dijual di pasar tradisional Wuhan, Cina.
  4. Untuk transmisi / penularannya :
  • Menyebar melalui udara saat batuk / bersin / bicara dalam 6 kali droplet. Atau kontak dekat dengan orang terpapar (menyentuh / jabat tangan) atau menyentuh mulut, hidung, mata tidak mencuci tangan.
  • Diduga juga melalui kontaminasi feses, dan masih terus dilakukan penelitian.
  • Terdapat kasus 1 pasien suspected super spreader diduga telah menularkan ke – 15 staf RS (1 dokter meninggal).

5.  Per tanggal 11 Februari 2020, WHO mengumumkan nama resmi baru untuk Virus Corona yatu Corona Virus Disease – 19 (CoViD-19).

Super Sreader merujuk kepada kasus penularan dari 1 pasien indeks (yang pertama tertular) ke lebih dari 8 pasien secondary. Pada epidemic SARS, 1 pasien bisa menular ke lebih dari 50 pasien lain.

Adapun gejala klinis Virus Corona jika menyerang manusia, manifestasi klinis dalam masa inkubasi 2 – 14 hari setelah paparan, bisa mulai dari ringan sampai dengan berat.

  1. Gejala pada umumnya (didasarkan pada 41 pasien pertama CoViD-19, yang masuk ICU 13 pasien non ICU 28 pasien :
  • Demam (98%)
  • Batuk (76%)
  • Fatis / mylesia (44%)
  • Sesak napas (55%)
  • Produksi sputum / dahak (28%)

Gejala lain :

  • Sakit kepala (8%)
  • Hemoptisis / batuk darah (5%)
  • Diare (3%)
  • Pilek / nyeri tenggorokan

Gejala berat :

  • Pneumonia berat
  • Gagal organ

Dilihat dari timeline / waktunya : semua pasien datang pada hari ke – 7 onset, hari ke – 8 sesak, dan rata-rata hari ke 10 masuk ICU.

Dilihat dari sebaran komurbid, terdapat 13 pasien : 8 orang diabetes, 6 orang CHF, 6 orang hipertensi, infeksi virus bersifat ringan bisa sembuh, karena virus sifat self limited diseases : penyembuh sendiri jika sistem imunitas tubuh bagus. Angka kematian : untuk COVIS-19 berdasarkan data terbaru hanya 2,4%, SARS 10%, MERS 37%. Artinya, angka kematian lebih kecil dari SARS, MERS, masyarakat tidak perlu panik namun harus tetap waspada.

Untuk tandanya :

Frekuensi nafas lebih dari 24 kali / menit.

Foto dada / rontgen thorax : kedua paru terifeksi 98%.

Leukosit / sel darah putih dominan normal 45%, dan dominan neutropenia.

Perhatian juga bahwa perlu waspada pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas.

Tidak ada demam, tidak mengeksklusi infeksi virus. Kita harus waspada dengan COVID-19, jika infeksi saluran nafas akut dengan demam (suhu ≥ 38˚ C) serta batuk / pilek / nyeri tenggorokan, pneumonia ringan sampai dengan berat.

Jadi hoax jika disebutkan penyebab buah-buah impor, tatapan mata, sinyal HP, dan barang-barang buatan Cina. Tidak tepat juga jika disebut penyebaran udara terbuka, virus yang suka berpindah-pindah, karena droplet saluran nafas daya jangkau  besar 1 – 1,8 m.

Virus bisa mati jika suhu lebih dari 60˚C.

Virus bisa aktif jika berada di udara dingin dengan kelembaban 30 – 50%.

  1. Berdasarkan gejala dan atau gambaran radiologis serta memiliki faktor risiko :
  • Riwayat perjalanan ke China atau wilayah / negara terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum timbul gejala.
  • Riwayat kontak erat dengan kasus terkonfirmasi COVID-19.
  • Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 termasuk petugas kesehatan.
  • Riwayat kontak dengan hewan penular (jika hewan penular sudah teridentifikasi).

Lalu jika ada pertanyaan, bagaimana mencegah Virus Corona. Menurut rekomendasi standar dari WHO untuk mencegah penyebaran infeksi Virus Corona, antara lain :

  1. Cegah diri sendiri dari penyakit :

Hindari dari kontak langsung tanpa memproteksi dengan orang sakit saluran nafas dan hewan peliharaan atau hewan liar.

Terapkan hand hygine atau cuci tangan secara teratur dengan air dan sabun minimal 20 detik, atau pencuci tangan yang minimal mengandung 60 persen alkohol.

2.  Cegah orang lain tertular / sakit :

–      Tutup hidung dan mulut dengan tisu atau jika ketika batuk / bersin.

–      Buang tisu ke tempat sampah tertutup.

–      Cuci tangan setelah batu / bersin / kontak dengan orang sakit dengan menerapkan hand hygiene atau cuci tangan secara teratur dengan air dan sabun minimal 20 detik, atau pencuci tangan yang minimal mengandung 60 persen alkohol.

–      Hindari berpergian jika sakit.

–      Gunakan masker jika sakit.

3.  Masak makanan yang matang dan higienis.

4.  Ketika berbelanja ke pasar :

–      Cuci tangan setelah menyentuh hewan / produk hewan.

–      Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut.

–      Hindari kontak dengan hewan sakit dan daging berpenyakit.

–      Hindari kontak dengan kandang hewan dan limbah air dari pasar.

5.  Ketika bekerja di pasar :

–      Gunakan proteksi tubuh, sarung tangan dan wajah ketika memegang produk hewan.

–      Lepaskan baju pelindung setelah belanja, cuci setiap hari.

–      Hindari keluarga terpapar pakaian kerja.

–      Sering cuci tangan, terutama setelah memegang produk hewan.

–      Desinfektan tempat kerja sehari sekali.

Bagaimana dengan penggunakan masker dan pemberian vaksin?

  • Untuk masyarakat gunakan masker bedah (warna hijau dan putih). Untuk masker N95 hanya digunakan untuk petugas kesehatan ruang isolasi.
  • Cara penggunaan masker bedah :

Hijau di depan, putih dibelakang menutup mulut dan hidung.

–      Masker bedah terdiri dari 3 lapisan :

Hijau sifatnya water proof, sehingga menahan cairan saluran napas.

–      Lapisan tengah ada komponen F1HG2.

–      Putih untuk menyerap air, bisa untuk menyerap cairan saluran nafas.

•      Untuk vaksin, yang baru beredar vaksin pneumonia untuk mikroorganisme yang lain. Sampai saat ini, belum tersedia vaksin COVID-19.