Tim Promkes RSST – Radang amandel atau tonsilitis adalah kondisi di mana amandel mengalami peradangan atau inflamasi. Meski umumnya dialami oleh anak-anak usia 3 sampai 7 tahun, radang amandel juga dapat terjadi pada orang dewasa. Amandel atau tonsil merupakan dua kelenjar kecil yang ada di tenggorokan. Organ ini berfungsi untuk mencegah infeksi, khususnya pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh semakin kuat sehingga fungsi amandel mulai tergantikan. Ketika fungsinya tergantikan, amandel secara perlahan akan menyusut.

Penyebab Radang Amandel

Radang amandel atau tonsilitis dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, penyebab yang paling sering adalah infeksi virus dan oleh infeksi bakteri. Disamping itu ada beberapa faktor yang dapat mempercepat timbulnya radang amandel, di antaranya adalah :

  1. Faktor makanan, makanan yang mengandung bahan pengawet, perasa, pemanis buatan dan pewarna kimia menjadi salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan peradangan.
  2. Kurangnya konsumsi vitamin C. Perlu diketahui, dalam 1 hari minimal tubuh membutuhkan vitamin C sebanyak 500 miligram, dan diseimbangkan dengan komponen gizi lainnya.
  3. Terlalu sering mengkonsumsi makanan pedas.
  4. Kurangnya konsumsi air putih. Tubuh membutuhkan cairan setara dengan minimal 8-10 gelas air putih/hari, atau sama dengan 1,5-2 liter per hari.
  5. Kurang sadar dengan kebersihan ketika sebelum dan menyentuh makanan, misalnya mencuci tangan.
  6. Kebiasaan merokok
  7. Menderita penyakit asam lambung.

Gejala

Radang amandel terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang sedang menurun yang ditandai dengan membengkaknya amandel dan muncul rasa sakit di tenggorokan. Selain itu, radang amandel juga dapat menimbulkan gejala lain, seperti :

  1. Sakit pada tenggorokan

Gejala amandel yang cukup umum terjadi ialah nyeri atau pun sakit pada tenggorokan. Hal ini terjadi karena amandel sendiri berada pada area tenggorokan. Oleh sebab itu, saat amandel mengalami pembengkakan akibat infeksi, gejala amandel yang bisa kamu rasakan ialah sakit tenggorokan.

  1. Sakit saat menelan

Gejala amandel lainnya ialah kamu akan mengalami sakit saat sedang menelan makanan atau minuman. Hal ini karena makan dan minuman yang kamu telan mengenai amandel yang sedang terinfeksi. Selain itu, jika mengalami sakit dan sulit untuk menelan, maka kemungkinan kamu terkena peradangan pada amandel pun semakin besar.

  1. Demam

Dikarenakan menurunnya sistem kekebalan pada tubuh, maka kamu pun bisa dengan mudah terkena demam. Demam sendiri bisa menunjukan gejala amandel yang dialami. Apalagi jika kamu demam dan juga sakit tenggorokan selama 1 atau 2 hari. Tentu saja kemungkinan kamu bisa juga mengalami radang amandel.

  1. Sakit kepala

Sakit kepala yang diakibatkan oleh radang amandel ini disebabkan karena adanya kenaikan pada suhu tubuh. Apalagi jika asupan makanan pun kurang terpenuhi karena sakit pada tenggorokan yang mengakibatkan susah menelan. Tentu saja energi tubuh pun akan berkurang dan kamu bisa terserang sakit kepala.

  1. Batuk

Meskipun batuk bukan merupakan gejala amandel secara umum, akan tetapi beberapa orang bisa juga mengalami batuk saat peradangan amandel. Hal ini karena radang amandel tersebut telah menyebar sampai ke paru-paru. Selain itu, batuk kering secara terus menerus pun bisa menyebabkan peradangan pada amandel.

  1. Suara serak
  2. Bau mulut

Jika kamu telah mengalami ciri-ciri gejala amandel di atas apalagi sering berulang, ada baiknya segera lakukan pengobatan / periksa ke dokter.

Pengobatan Radang Amandel

Penanganan radang amandel dapat dilakukan dengan pemberian obat, dan cukup dengan perawatan rumah atau bahkan dengan operasi. Dokter akan menentukan metode penanganan yang sesuai dengan hasil pemeriksaan kondisi pasien.

Komplikasi

Apabila radang amandel tidak mendapatkan penanganan yang tepat, hal itu berpotensi menimbulkan komplikasi. Komplikasi radang amandel meliputi :

  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Apnea tidur
  • Muncul nanah di amandel
  • Penyebaran infeksi ke organ lain (Pt)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Ni Made Putri Rahayu, dkk. 2013. Profil Pembesaran Tonsil Pada Tonsillitis Kronis yang Menjalani Tonsilektomi. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali.
  2. Sri Wahyu Basuki dkk. 2019. Tonsilitis. Fakultas kedokteran UMS Surakarta.
  3. Rusmarjono. 2016. Faringitis, Tonsilitis dan Hipertropi Adenoid. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
  4. Soepardi EA, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan Leher. Edisi 6, Fakultas Kedokteran UI Jakarta.
  5. Stelter, K. 2014. Tonsillitis and Sore Throat in Children. GMS.
  6. Gupta, RC. 2016. Kids Health. Tonsillitis.
  7. NHS Choices. 2017. Health A-Z. Tonsillitis.
  8. Mayo Clinic .2018. Conditions & Diseases. Tonsillitis.
  9. McCoy, K. Everyday Health. 2010. Treating Tonsillitis.
  10. Pietrangelo, A. Nall, R. 2016. Healthline. Tonsillitis.
  11. Hayes, K. Verywell Health. 2018. Chronic and Recurrent Tonsillitis : What to Know.