Tim Humas RSST – Pemerintah memutuskan untuk memperbolehkan sekolah melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di daerah zona kuning, atau yang berisiko rendah Virus Corona, secara bertahap. Demikian hasil revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 (Empat) Menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka di zona kuning diperbolehkan, akan tetapi bukan memaksakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Keputusan ini disambut beragam oleh guru dan orang tua murid. Beberapa mengaku membolehkan anak mereka kembali bertatap muka dengan guru di sekolah dengan berbagai alasan, termasuk kesulitan membeli pulsa. Ada pula orang tua yang masih khawatir dengan situasi pandemi saat ini.

Pembukaan kembali sekolah di zona kuning ini, antara lain, didasarkan kepada persoalan, kendala dan tantangan yang dihadapi anak didik, guru, serta orang tua, selama masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selain itu, pemerintah menyiapkan kurikulum darurat bagi sekolah yang masih menerapkan proses PJJ.

Disebutkan juga, bahwa keputusan ini didasarkan berbagai masukan dari masyarakat terkait tantangan, kendala dan masalah PJJ selama beberapa bulan belakangan. Dijelaskan apabila pemerintah daerah atau kepala dinas “merasa belum siap” atas keputusan pemerintah saat ini, maka mereka “tidak harus melaksanakannya”.

Dan apabila masing-masing kepala sekolah dan komite sekolah menyatakan belum siap, maka mereka dibolehkan tidak menggelar pembelajaran tatap muka.

Adapun keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah, juga menuai sambutan yang beragam dari orang tua siswa, ada yang setuju dengan pelajaran tatap muka langsung dengan mengedepankan protokol kesehatan, hal ini karena PJJ memberatkan untuk membeli kuota internet.

Apa saja syarat yang harus dipenuhi dalam kegiatan belajar dengan tatap muka langsung?

Seperti yang berlaku pembelajaran tatap muka di zona hijau, semua otoritas pendidikan harus memenuhi persyaratan protokol kesehatan.

  1. Sekolah harus memiliki sarana sanitasi, cuci tangan, dan lain-lain.
  2. Sekolah juga harus memiliki akses kepada layanan kesehatan.
  3. Tiap sekolah juga harus mewajibkan siswa serta guru untuk memakai masker.
  4. Mereka juga harus memiliki alat untuk mengecek suhu.
  5. Sesuai aturan protokol kesehatan, seandainya ada peserta didik memiliki kondisi medis atau sakit, maka dilarang masuk sekolah.
  6. Untuk orang tua yang masuk kategori rentan berpotensi terpapar COVID-19, juga dilarang mengantar anaknya ke sekolah.

Walaupun demikian keputusan tetap dikembalikan lagi kepada orang tua siswa, jika dalam pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan dirasakan ada ketidaknyamanan maka siswa tetap bisa melakukan belajar dari rumah. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. https://covid19.go.id/FG
  2. bbc.com