drg. Dimas Cahya Saputra, Sp.KG – Karies gigi adalah penyakit yang paling umum terjadi dan diderita oleh penduduk dunia, menurut The Global Burden of Disease Study dalam rilisnya tahun 2016, karies gigi adalah penyakit yang dialami hampir setengah populasi penduduk dunia (3,58 milyar jiwa). Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Menurut hasil Riskesdas 2018, sebanyak 45,3 persen masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak / berlubang / sakit dimana karies gigi berperan dalam proses gigi rusak / berlubang / sakit tersebut.

Sebagian besar dari masyarakat masih memiliki pandangan bahwa kesehatan gigi dan mulut tidak begitu penting jika dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, survei Riskesdas 2018 sedikit banyak menunjukkan hal tersebut walaupun tentu saja sangat memprihatinkan mengingat kerugian yang ditimbulkan cukup besar baik secara individu maupun komunitas. Permenkes Nomor 89 Tahun 2015 bahkan menyoroti dengan menyebut bahwa kondisi gigi dan mulut yang tidak sehat tersebut dapat berdampak pada produktifitas sosial dan ekonomi.

Salah satu dari sekian banyak penyebab karies gigi adalah kelengahan dari upaya edukasi kesehatan gigi dan mulut yang telah dilakukan selama ini. Jika diamati, promosi kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan baik di tingkat masyarakat (UKGM) dan sekolah (UKGS) selalu dititikberatkan pada cara menyikat gigi yang baik dan benar. Semua pihak seolah-olah tersihir dan merasa cukup dengan memberikan penekanan hanya pada cara menyikat gigi. Tentu saja menyikat gigi dengan baik dan benar sangat penting dan harus diajarkan dan disebarluaskan namun pengalaman klinis penulis selama praktik sejak dokter gigi umum maupun spesialis ada sebuah keprihatinan yang terus mengundang tanya, apa yang salah selama ini. Berdasarkan dari pengalaman praktik penulis yang masih seumur jagung dan pengalaman yang masih sehijau pucuk daun teh ini, hampir 70 persen  kasus yang berhubungan dengan matinya pulpa (saraf gigi) yang terkait karies bermula dari bagian interdental atau sela-sela gigi.

Interdental (sela antar gigi) pada gigi yang tersusun dengan kontak rapat tidak terjangkau oleh upaya menyikat gigi terbaik sekalipun. Hal ini kadang diperparah dengan iklan komersial yang cenderung menyesatkan, dengan kandungan “ajaib” dari pasta gigi merk tertentu dikatakan mampu membersihkan sampai ke sela gigi, disertai dengan visualisasi yang sangat meyakinkan. Gigi dirancang dengan celah yang walaupun rapat namun karena pergerakan individual dari gigi saat proses pengunyahan maka sangat mungkin terjadi selipan sisa makanan di antara gigi. Sisa makanan tersebut menjadi substrat yang akan diolah oleh bakteri kariogenik (penyebab karies gigi) yang menyebabkan proses demineralisasi. Proses tersebut ketika tidak diimbangi oleh proses remineralisasi maka terjadi kavitas yang pada akhirnya akan membuat jaringan keras gigi rusak.

Karies dikenal sebagai “silent killer”nya gigi, mengapa demikian? Karena jamak diketahui bahwa lapisan terluar gigi (email) sangat keras sehingga ketika sudah ada kavitas / lubang yang kecil maka proses karies akan berlanjut di lapisan yang lebih lunak (dentin), sehingga ketika pasien sudah mengeluh linu dan datang ke dokter gigi biasanya akan dijumpai kavitas luas di bawah kavitas yang terlihat kecil. Atau skenario lainnya adalah, pasien datang ke dokter gigi mengeluh giginya pecah padahal selama ini giginya nampak utuh dan hanya tampak permukaannya yang tambah gelap.

Kembali ke masalah lubang yang bermula dari celah gigi, perlu upaya masif untuk mempopulerkan upaya membersihkan celah gigi, upaya masif sebagaimana dilakukan untuk mempopulerkan upaya menyikat gigi. Sebagai contoh mungkin perlu penambahan agenda WOHD (World Oral Health Day) dimana biasanya diadakan sikat gigi massal, upaya itu tetap hanya ditambah dan digencarkan dengan Flossing massal. Dengan demikian akan ada peningkatan pengetahuan masyarakat bahwa membersihkan celah gigi sama pentingnya dengan upaya menyikat gigi dengan baik dan benar.