Dra.Karni (Psikolog RSST Klaten) – Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat dimana dasar-dasar pengalaman kehidupan manusia tersebut berkembang. Dalam kehidupan manusia pengalaman kebersamaan dan saling berbagi pengalaman sangatlah pola-pola fungsional yang sangat fleksibel harus dapat menyesuaikan diri secara fleksibel pula terhadap berbagai faktor pengaruh baik dari dalam maupun dari luar.

Faktor tersebut terbagi menjadi dua macam. Pertama, faktor internal yaitu berbagai faktor biologis-psikologis anggota keluarga dengan peranannya masing-masing. Kedua, faktor eksternal yakni berbagai faktor budaya, sosial dan ekonomi dari masyarakat.

Di dalam melaksanakan fungsinya keluarga akan senantiasa menghadapi tantangan dan masa-masa krisis. Potensi tantangan-tantangan tersebut antara lain :

  1. Perkembangan kepribadian masing-masing partner.
  2. Adaptasi dalam perkawinan.
  3. Peran sebagai orang tua dan pendidik.
  4. Perkembangan anak.

Sedangkan tantangan akibat tuntutan masyarakat seperti :

  1. Tuntutan berbagai sistem nilai.
  2. Tuntutan tata cara kebiasaan.
  3. Tuntutan kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat.

Tantangan-tantangan itu intensitasnya akan meninggi apabila masyarakat sedang berkembang mengalami modernisasi dan adanya krisis seperti saat ini. Pada gilirannya akan menggoyahkan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga ataupun masyarakat.

 

Fungsi Kehidupan Keluarga

Fungsi kehidupan keluarga meliputi 2 aspek yakni  menjamin dan memenuhi kebutuhan fisik-biologis anggota keluarga dan mengembangkan sifat-sifat manusiawi anggota keluarga dengan jalan, misalnya :

  1. Menyediakan makanan dan perlindungan terhadap bahaya.
  2. Memupuk rasa kebersamaan untuk mengembangkan ikatan-ikatan afeksional dalam hubungan keluarga.
  3. Mengembangkan identitas pribadi dan identitas keluarga untuk kemantapan diri di dalam menghadapi pengalaman-pengalaman baru.
  4. Mengembangkan pola peranan seksual yang matang dan kemantapan untuk berperan seksual di kemudian hari.
  5. Melatih anggota keluarga ke arah integritas peranan sosial dan siap menerima tanggung jawab sosial.

Segala sesuatu yang mengganggu kelangsungan dan kelanggengan kehidupan keluarga, secara potensial dapat mengakibatkan gangguan fungsi keluarga. Gangguan adalah peristiwa-peristiwa di dalam kehidupan yang dapat menimbulkan stres.

Pada umumnya berkisar pada gangguan tersebut diakibatkan oleh :

  1. Perubahan dalam pola-pola kehidupan / kebiasaan / aktivitas seseorang ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk.
  2. Hal-hal yang mengganggu ketentraman hidup.
  3. Hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan.

Kerentanan suatu keluarga terhadap stres ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Faktor stabilitas di dalam keluarga (internal).
  2. Faktor situasi dan kondisi lingkungan (eksternal).
  3. Faktor sifat dan kadar stres.

Stabilitas keluarga mencakup 3 aspek yaitu aspek stabilitas intra individual, aspek stabilitas hubungan interpersonal dan aspek stabilitas identitas keluarga. Aspek-aspek tersebut akan menentukan taraf kemampuan keluarga untuk mempertaruhkan identitas / integritas dalam perspektif waktu. Selain itu, stabilitas ini juga akan menentukan taraf kemampuan keluarga untuk mengendalikan konflik dan fleksibilitas keluarga dalam menerima perubahan serta hal-hal baru.

Dampak Stres terhadap Kehidupan Keluarga

Dampak stres terhadap kehidupan keluarga pada umumnya dapat menjurus pada tiga kemungkinan yaitu :

  1. Kehidupan keluarga tidak mengalami perubahan-perubahan nyata, karena stres di sini dirasakan oleh keluarga sebagaimana adanya atau dapat diselesaikan secara kompromi.
  2. Keluarga akan mengalami pertumbuhan dan pematangan psikososial yang lebih mantap serta menjadi dewasa dengan adanya pengalaman-pengalaman stres yang ada. Tentu keluarga tersebut dapat menyelesaikan dan berkompromi secara positif.
  3. Terjadi perubahan ke arah negatif dalam kesehatan dan fungsi kehidupan keluarga biasanya secara primer mengenai satu atau lebih anggota keluarga yang rentan dimana menimbulkan gangguan yang nyata dalam diri anggota tersebut. Dimana pada gilirannya kemudian mempengaruhi seluruh keluarga sebagai suatu unit.

Di dalam kehidupan ini tidak ada keluarga yang sehat ideal. Secara umum, ada dua jenis keluarga yaitu pda umumnya sehat (predominantly healthy) dan pada umumnya sakit (predominantly sick). Memang, batas antara keluarga yang sehat dan yang sakit tidaklah tegas, tetapi untuk alasan klinis dapat dibuat pembedaan. Secara sederhana, sebuah keluarga disebut sakit apabila secara progresif gagal melaksanakan fungsi-fungsi utama sebagai keluarga. Kegagalan tersebut antara lain berupa kegagalan dalam fungsi pengendalian konflik.

Derajat keberhasilan / kegagalan keluarga dalam melaksanakan fungsi dapat dilihat sebagai suatu kontinum, yaitu :

  1. Keluarga yang sadar dan mengetahui dengan jelas konflik / problematik yang ada dan menghadapinya serta mencapai penyelesaian yang realistik dari konflik-konflik / problem-problemnya.
  2. Keluarga yang tidak segera dapat menyelesaikan.