Tim Promkes RSST – Hampir setiap hari kita mendengar dan melihat peristiwa tragis menimpa orang-orang yang mengkomsumsi alkohol, baik lewat media cetak maupun elektronik. Menenggak alkohol sudah merupakan perilaku biasa dan menjadi tuntutan yang harus dilakukan oleh sekelompok orang dalam mengekspresikan suatu moment, misalnya dalam pesta-pesta, perpisahan tahun, atau dalam acara syukuran. Pesta miras ini banyak menimbulkan korban nyawa bagi para pelakunya. Namun demikian masih banyak yang menyukainya sebagai bagian gaya hidup bagi beberapa orang yang memang sudah terlanjur ketergantungan konsumsi alkohol. Ironisnya minuman ini tidak hanya dikomsumsi oleh orang dewasa, akan tetapi kaum remaja sudah mulai coba-coba mencicipinya. Remaja dengan segala problematika hidup sangatlah rentan terhadap pengaruh alkohol maupun obat-obatan terlarang. Individu yang memasuki masa dewasa awal yang kemudian menjadi pecandu alkohol dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mental.

Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia ingin diterima oleh masyarakat sekitar, atau oleh suatu kelompok yang ingin dimasukinya. Individu yang ingin diterima oleh suatu kelompok, harus mau melakukan apa yang menjadi tradisi atau apa yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Remaja dan dewasa awal cenderung melakukan hal-hal tersebut sebagai wujud dari keikutsertaannya dalam suatu kelompok, misalnya bersedia minum minuman beralkohol, merokok ataupun menggunakan obat-obatan terlarang. Di kota-kota besar, menenggak minuman beralkohol sudah sangat biasa dilakukan oleh remaja dan dewasa. Hal ini tidak bisa lepas dari lingkungan dan pengaruh pergaulan yang dijalaninya.

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial. Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa.

Kita ketahui, tugas utama masa remaja adalah memecahkan “krisis” identitas versus kebingungan identitas, untuk dapat menjadi orang dewasa unik dengan pemahaman akan diri yang dan memahami peran nilai dalam masyarakat. “Krisis” identitas ini jarang teratasi pada masa remaja; berbagai isu berkaitan dengan keterpecahan identitas mengemuka dan kembali mengemuka sepanjang  kehidupan masa dewasa.

Mengajukan 2 (dua) kriteria untuk menunjukkan akhir masa muda dan permulaan dari masa dewasa awal adalah adanya kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan. Tanda umum yang diakui sebagai tanda untuk memasuki masa dewasa adalah ketika seseorang mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang kurang lebih tetap. Masa dewasa dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :

  1. Masa awal dewasa (early adulthood), yaitu periode perkembangan yang berawal pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan berakhir pada usia tiga puluh tahun. Masa ini merupakan masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karier, masa memilih pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga dan mengasuh anak-anak.
  2. Masa pertengahan dewasa (middle adulthood), yaitu periode perkembangan yang bermula pada usia kira-kira tiga puluh lima tahun sampai empat puluh lima tahun dan terentang hingga usia enam puluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial, membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa; dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam karier seseorang.
  3. Masa akhir dewasa (late adulthood), yaitu periode perkembangan yang berawal pada usia enam puluhan atau tujuh puluhan tahun dan berakhir pada kematian.

Pada masa dewasa ini kondisi fisik tidak hanya mencapai puncaknya tetapi juga mulai menurun selama periode ini. Perhatian akan kesehatan meningkat di antara orang dewasa muda, terutama perhatian terhadap masalah diet, berat badan, olah raga dan juga ketergantungan. Semua individu dapat membentuk ketergantungan pada banyak hal, tetapi ketergantungan pada alkohol atau minuman keras merupakan ketergantungan yang paling menonjol dan menyimpang.

Pada masa dewasa awal beberapa individu berhenti berpikir mengenai gaya hidup pribadi mereka akan mempengaruhi kesehatan mereka selanjutnya. Sebagai seorang dewasa muda banyak yang membangun sebuah pola hidup yang tidak sehat, seperti tidak sarapan pagi, tidak makan secara teratur, mengkonsumsi makanan siap saji sebagai makanan utama sehari-hari, merokok, minum minuman keras, tidak berolah raga, tidur dalam waktu yang sedikit setiap malamnya. Gaya hidup pribadi yang buruk ini dapat berpengaruh pada kondisi kesehatan. Beberapa bahaya yang tersembunyi dalam masa puncak kemampuan dan kesehatan pada masa awal dewasa. Pada saat kaum dewasa awal dapat menggunakan sumber daya fisiknya untuk banyak kesenangan, ditambah lagi adanya kenyataan bahwa mereka mudah pulih dari stres fisik dan cedera membuat mereka memaksakan tubuhnya terlalu jauh. Penyalahgunaan tubuh seseorang ini dampak negatifnya mungkin tidak akan langsung terasa di masa dewasa awal, tetapi mungkin akan muncul pada masa dewasa lanjut atau pada masa akhir dewasa.

Alkohol adalah obat psikoaktif yang paling banyak digunakan dan Lebih dari 13 juta orang menganggap dirinya pecandu alkohol (alkoholic). Alkoholisme adalah penyakit menahun yang ditandai dengan kecenderungan untuk meminum lebih daripada yang direncanakan, kegagalan usaha untuk menghentikan minum-minuman keras dan terus meminum minuman keras walaupun dengan konsekuensi sosial dan pekerjaan yang merugikan. Hampir 8% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki masalah dalam penggunaan alkohol. Pria empat kali lebih sering menjadi alkoholik dibanding wanita.

Gejala kecanduan alkohol yang jelas dalam bentuk fisik adalah ketergantungan pada alkohol dan ketidakmampuan untuk berhenti walaupun parah akibat fisik dan psikologis. Beberapa pecandu alkohol dapat bertahan pada tingkat yang dangkal tetapi akhirnya kecanduan menyebabkan gangguan kinerja profesional dan meningkatkan hubungan yang tegang.

Tanda-tanda fisik penyalahgunaan alkohol, yaitu : penurunan berat badan, sakit di perut, mati rasa di tangan dan kaki, bicara  meracau, kegoyangan sementara saat mabuk. Pada orang yang menderita ketergantungan alkohol, yaitu : berkeringat, gemetar, mual muntah, kebingungan dan keadaan yang ekstrem yaitu kejang-kejang, serta halusinasi.

Tanda-tanda mental meliputi peningkatan penyalahgunaan alkohol, antara lain : mudah tersinggung, marah, gelisah, menghindar dari kegiatan yang tidak memberikan kesempatan untuk minum, kesulitan dalam membuat keputusan; oversleeping, berlebihan menampilkan tangisan dan emosional. Orang dewasa dibandingkan dengan pemuda, di kelompok usia yang lebih tinggi menunjukkan kerentanan yang lebih rendah untuk penyalahgunaan alkohol.

Berdasarkan pengakuan salah seorang alcoholic bahwa dirinya tidak kuat bekerja kalau tidak minum-minuman yang memabukkan, sekedar untuk menghangatkan badan dan menambah vitalitas. Hal ini membuktikan bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam minuman beralkohol dapat menyebabkan ketergantungan bagi peminumnya. Empat tahap alkoholisme :

Tahap pertama, minum sebagai pelarian. Minum alkohol digunakan untuk melarikan diri dari kenyataan, alkohol membantu orang “melarikan diri” dari tekanan, ketakutan dan kekhawatiran. Seseorang pada tahap awal kecanduan alkohol telah meningkatkan toleransi terhadap alkohol, dan mungkin tidak muncul mabuk. Alkohol yang sangat awal tahap dicirikan dengan meneguk minuman, menyelinapkan minuman dan penolakan untuk mendiskusikan minuman alkohol.

Tahap kedua, minum menjadi suatu kebutuhan. Seseorang akan didorong untuk minum oleh keinginan batin yang tidak tertahankan. Pada tahap ini seorang pecandu mungkin memiliki periode pantang, tetapi dia akan selalu minum kembali. Orang ini juga mungkin dalam penyangkalan tentang masalahnya melalui rasionalisasi. Keinginan yang kuat untuk minum mulai membuat orang tergantung pada alkohol. Pada tahap ini orang mungkin mengalami pemadaman dan dapat menampilkan perilaku yang agresif.

Tahap ketiga, minum tanpa kendali. Pada dua tahap diawal, walaupun sering minum tetapi masih dapat mempertahankan kontrol, namun pada tahap ketiga ini pecandu tidak lagi mempunyai kuasa atas kebutuhan alkohol. Ini adalah salah satu tahap yang paling mudah untuk dikenali oleh teman ataupun keluarga. Pekerjaannya mulai terbengkalai dan mulai bermasalah dengan hukum.

Tahap keempat, minum karena ketergantungan. Hari-harinya selalu dimulai dengan minum, selain itu juga ditandai dengan tremor, binges dan sering meludah. Tanda-tanda fisik alkoholisme kronis mulai terlihat pada tahap ini, seperti kerusakan otak, penilaian yang rendah, kehilangan memori dan gangguan konsentrasi. Seseorang yang dalam tahap ini memiliki risiko yang sangat tinggi untuk penyakit hati, jantung, kanker mulut atau kerongkongan.

Seorang alcoholic termasuk dalam psikopatologi psikosis, yaitu suatu penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses pikiran, gangguan dalam emosionalitas, disorientasi waktu, ruang dan person, dan dalam beberapa kasus disertai halusinasi, delusi dan ilusi. Bentuk-bentuk psikosis antara lain panic depressive psychosis, paranoia, schizophrenia, paresis, dan alcoholic psychosis.

Dengan demikian, mengkonsumsi alkohol tidak ada sedikitpun manfaatnya kalau toh ada manfaatnyanya kemungkianan besar tidak sebesar dari kerugian yang diperoleh, sebagai contoh ketergantungan terhadap alkohol sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang. Pecandu alkohol cenderung menjadi pribadi yang tidak bisa mengontrol emosinya. Kejahatan-kejahatan akibat alkohol sangat banyak, di antaranya negative thinking, membuat onar, pemerkosaan bahkan pembunuhan. Hal ini disebabkan karena hilangnya kesadaran sebagai manusia yang beradab diakibatkan oleh pengaruh dahsyat dari minuman yang mengandung alkohol.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Mujib Abdul. 2006. Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
  2. Hurlock, B. Elizabeth. 2004. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Surabaya : Erlangga.
  3. Papalia, Diane E, et.al. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Jakarta : Prenada Media Group.
  4. Santrock, J. W. 2002. Perkembangan Masa Hidup (Terjemahan dari Life-Span Development). Edisi 5, Jilid II, Erlangga : Jakarta.
  5. Sitriah Salim Utina. Alkohol dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Mental. Dosen Psikologi IAIN Sultan Amai Gorontalo.