Tim Promkes RSST – Bagi Anda yang ingin di sunat, tidak perlu khawatir karena prosedur ini tidak akan mempengaruhi kesuburan atau mengurangi kenikmatan saat berhubungan seksual. Manfaat sunat bagi kesehatan antara lain menurunkan risiko terjadinya penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih.

Sunat adalah proses pelepasan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Tidak hanya pada orang dewasa dan anak-anak, sunat atau sirkumsisi juga bisa dilakukan terhadap bayi.

Di Indonesia, proses ini umumnya dilakukan saat anak laki-laki memasuki usia sekolah dasar atau sekitar 6-10 tahun. Semakin tua usia anak laki-laki atau pria yang disunat, semakin bertambah juga risiko, tingkat kerumitan, dan lama proses penyembuhannya.

Beberapa Manfaat Sunat

Dilihat dari sisi medis, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika Anda menjalani prosedur sunat atau khitan, di antaranya :

  • Memberikan kelebihan berupa kebersihan organ vital.
  • Mengurangi risiko penyakit menular seksual saat disunat, kulup yang menyelubungi ujung penis akan dipotong dan dibersihkan. Pemotongan ini membuat anak laki-laki akan terhindar penyakit menular seksual seperti Human papillomavirus atau HPV. Selanjutnya, manfaat sunat juga akan terhindar dari herpes dan sifilis.
  • Menurunkan risiko penularan HIV beberapa penelitian telah menemukan bahwa kegunaan sunat dapat menghindari penularan terhadap HIV. Sementara studi yang dilakukan di Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda mengungkapkan bahwa kelebihan sunat dapat menurunkan risiko pria terinfeksi HIV sebanyak 60 persen.
  • Menghindari risiko fimosis pria yang tidak sunat harus menarik kulupnya ke bawah setiap akan berhubungan badan. Beberapa pria kerap kesulitan menarik bagian itu karena kulup kerap memiliki lubang yang kecil sementara glans atau kepala penis semakin membesar (fimosis). Kebiasaan menarik dan mengembalikan kulup ini membuat penis mengalami balantis yang berupa radang. Sebaliknya, bila pria yang disunat tidak perlu lagi menarik kulup, sehingga manfaat sunat ini dapat memudahkan dalam hal seks dan menghindari fimosis.
  • Menghindari risiko paraphimosis. Paraphimosis adalah ketika kulup tidak bisa ditarik kembali pada posisi semula, sehingga tersangkut di belakang kepala penis dan membatasi aliran darah ke ujung penis. Kondisi ini dapat terjadi ketika mengalami cedera penis, menarik kulup berlebhan saat kencing atau dibersihkan, memiliki kulup ketat, menindik penis atau karena intervensi medis, seperti penggunaan kateter. Paraphimosis adalah keadaan darurat medis. Jika tidak segera diobati, kemungkinan akan menyebabkan gangren (jaringan mati karena infeksi).
  • Menurunkan risiko infeksi kandung kemih. Pria dengan penis masih memiliki kulup akan susah membersihkan bagian glans dengan cepat. Selain itu, urine juga kerap mengotori kulup sehingga peluang bakteri berkembang dan menyebabkan infeksi kandung kemih semakin besar.
  • Menurunkan risiko kanker prostat. Manfaat sunat pada pria akan menurunkan risiko terkena kanker prostat, dan menurunkan risiko kanker serviks pada wanita saat berhubungan badan. Selain itu, pria juga lebih aman dari risiko kanker penis yang berbahaya. Penelitian telah menemukan bahwa pria yang disunat ketika mereka berusia lebih dari 35 tahun menurunkan risiko kanker prostat 45 persen. Sementara pria yang disunat dalam 1 tahun kelahiran, risiko kanker prostat menurun hingga 14 persen.
  • Membuat penis lebih sensitif terhadap rangsangan. Kegunaan sunat membuat ujung kepala penis atau glans lebih sensitif. Saat berhubungan badan, pria akan mendapatkan kenikmatan lebih besar ketimbang mereka yang tidak sunat karena kulup kerap menyelimuti glans yang merupakan titik rangsang pria.
  • Meningkatkan kepuasan seksual. Kelebihan sunat pada pria dapat meningkatkan kepuasan pasangan dan kesehatan seksualnya. Sebuah studi 2011 menemukan bahwa pria dewasa yang disunat cenderung memiliki tingkat infeksi Human papillomavirus (HPV) yang lebih rendah, begitu pula dengan pasangan wanitanya. Karena sunat dapat mengurangi risiko infeksi pada pria, lebih sedikit HPV pula yang ditularkan ke pasangannya. Sekitar 40 persen wanita melaporkan lebih puas secara seksual setelah pasangannya disunat. 10.
  • Menurunkan risiko infeksi. Beberapa penelitian menemukan bahwa anak laki-laki yang tidak disunat lebih mungkin mengalami infeksi saluran kemih daripada anak laki-laki yang disunat. Menurut sebuah studi 2012 yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal, risiko infeksi adalah sekitar 88 persen lebih rendah pada anak laki-laki yang disunat. Jadi, kegunaan sunat dapat mencegah risiko infeksi pada organ intim Anda.
  • Mudah membersihkan penis. Manfaat sunat lebih memudahkan untuk mencuci atau membersihkan penis, sehingga terhindar dari bakteri dan menjaga kesegaran penis. Namun, anak laki-laki yang tidak disunat dapat diajarkan untuk mencuci secara teratur pada bagian kulup.

 

Langkah Perawatan Setelah Sunat

Setelah disunat, penis umumnya akan berwarna merah, memar, dan bengkak. Luka sunat pada bayi memerlukan waktu sekitar 10 hari untuk sembuh, sedangkan luka sunat pada anak-anak dan pria dewasa memerlukan waktu setidaknya dua atau tiga minggu untuk sembuh.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh orang yang baru disunat agar luka bisa cepat sembuh, yaitu :

  • Gunakan celana yang longgar atau sarung untuk menghindari gesekan dengan penis.
  • Rutin kontrol ke dokter untuk merawat luka dan selalu perhatikan kebersihan alat kelamin untuk menghindari infeksi. Anda boleh mandi setelah diperbolehkan dokter, tetapi hindari mandi dengan cara berendam.
  • Konsumsi obat pereda sakit untuk mengurangi nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen. Terkadang, dokter juga akan meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah sunat.
  • Hindari aktivitas atau olahraga berat, misalnya bersepeda, latihan beban, atau joging. Untuk anak yang baru disunat, pastikan ia tidak terlalu banyak bermain atau bergerak terlebih dahulu.
  • Pria dewasa yang melakukan sunat tidak dianjurkan melakukan hubungan seksual selama sekitar 4-6 minggu atau hingga luka sunat sembuh sepenuhnya.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Rini Marlina. 2010. Buku Pedoman Diagnosis dan Terapi Urologi. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya / RS Saiful Anwar Malang.
  2. Dihartawan, dkk. 2020. Bakti Sosial Khitanan Masal. Jurnal Pengabdian Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah, Jakarta.
  3. Fitria. 2014. Peran Sirkumsisi Dalam Infeksi Menular Seksual. Jurnal Kedokteran Universitas Syahkuala, Aceh.
  4. Warees, W.M., Anand, S., & Rodriguez, A.M. NCBI Bookshelf. 2020. Circumcision.
  5. Davis, et al. 2019. Does Voluntary Medical Male Circumcision Protect Against Sexually Transmitted Infections Among Men and Women in Real-world Scale-up Settings? Findings of a Household Survey in KwaZulu-Natal, South Africa. BMJ Global Health, 4(3), pp. e001389.
  6. Douglawi, A. & Masterson, T.A. 2017. Updates on The Epidemiology and Risk Factors for Penile Cancer. Translational Andrology and Urology, 6(5), pp. 785-790.
  7. American Urological Association. 2021. Circumcision.
  8. National Health Service UK. 2018. Health A to Z. Circumcision in Men.
  9. National Institutes of Health. 2020. U.S. National Library of Medicine MedlinePlus. Circumcision. Johns Hopkins Medicine. Circumcision.
  10. Krans, B. Healthline. 2018. Circumcision. HealthXChange Singapore. Circumcision Can Help Prevent Penile Diseases.
  11. Angel, A.A. Medscape. 2018. Drugs & Diseases. Circumcision.
  12. Terlecki, R.P. Medscape. 2018. Drugs & Diseases. Phimosis, Adult Circumcision, and Buried Penis Treatment & Management.