dr. Roy Jansen S., Sp.OG – Data dari BKKBN, hingga akhir tahun 2020 angka kehamilan tidak direncanakan meningkat hingga 400.000 kehamilan saat pandemi COVID-19. Angka ini akan terus meningkat di tahun 2021. Angka yang terus meningkat ini tentunya akan menjadi permasalahan baik dilihat dari sisi sosial-ekonomi dan sisi kesehatan. Pertama, jika dilihat dari sisi sosial-ekonomi, peristiwa baby booming di masa pandemi akan meningkatkan jumlah penduduk dan juga permasalahan ekonomi individu. Permasalahan ekonomi ini diakibatkan oleh kebutuhan pra, saat dan pasca persalinan yang tentunya meningkat dihadapkan dengan fakta bahwa di masa pandemi, pendapatan perkapita masyarakat di Indonesia justru menurun. Kedua, kondisi ini juga akan membawa permasalahan di bidang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dengan kondisi pandemi saat ini, secara tidak langsung akan menurunkan cakupan ANC (Antenatal Care). Mengapa? Hal ini disebabkan oleh dua faktor : faktor ibu hamil yang menghindari pusat kesehatan oleh sebab mencegah terpapar virus COVID-19 dan karena banyak petugas medis yang membatasi pasien ANC di masa pandemi. Pemerintah sendiri mulai tahun 2020 mencanangkan ANC terpadu wajib minimal 6 (enam) kali dilakukan selama kehamilan. Jumlah yang lebih banyak dari program ANC wajib sebelumnya yang hanya 4 (empat) kali. Menurunnya angka cakupan ANC ini ikut meningkatkan angka morbiditas ibu dan janin di masa pandemi terutama pada Kehamilan Risiko Tinggi (RISTI). Ibu hamil cenderung untuk datang ke pusat layanan kesehatan jika sudah terjadi tanda-tanda kegawatan : perdarahan, pecah air ketuban, gerakan janin lambat, nyeri perut, kejang dan muntah hebat (saat awal kehamilan). Akibatnya kehamilan dengan risiko tinggi ditangani saat sudah terjadi komplikasi yang berat. Hal ini tentunya tidak optimal, karena prinsip preventif dan promotif harusnya diutamakan.

Adapun gejala COVID-19 pada ibu hamil dapat berupa gejala ringan sampai gejala berat. Gejala ringan dapat berupa : demam, batuk kering, kelelahan, rasa tidak nyaman, nyeri tenggorokan, diare, konjungtivitis, sakit kepala, hilangnya indera perasa atau penciuman, ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki. Sedangkan gejala berat kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan pada dada dan hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak. Menurut Nature, dari sebuah penelitian kohort yang diterbitkan pada September 2020 dijelaskan bahwa wanita hamil termasuk dalam kelompok risiko tinggi terjadi perburukan jika terinfeksi COVID-19. penelitian tersebut mencakup data dari lebih dari 11.400 wanita dengan konfirmasi atau dugaan COVID-19 dan yang dirawat di rumah sakit selama kehamilan. Kemungkinan wanita hamil dengan diagnosis COVID-19 dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) adalah 62% lebih tinggi daripada wanita tidak hamil usia reproduksi, dan kemungkinan membutuhkan ventilasi invasif adalah 88% lebih tinggi. Sebuah studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mempublikasikan temuan ini. Penelitian ini melibatkan lebih dari 400.000 wanita dengan tes positif dan gejala COVID-19, 23.434 wanita tersebut di antaranya hamil. Studi tersebut menemukan peningkatan serupa dalam persentase wanita hamil masuk ICU dan kebutuhan ventilasi invasif.

Dari sisi obstetri, wanita hamil dengan COVID-19 memilki komplikasi tersendiri. Data di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa wanita hamil dengan COVID-19 memiliki tingkat kelahiran prematur yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak terinfeksi. Dua belas persen wanita hamil dengan COVID-19 di Inggris melahirkan sebelum 37 minggu. Sedangkan di Amerika Serikat, 15,7% wanita dengan COVID-19 mengalami kelahiran prematur di mana angka ini lebih tinggi 5.7 % dari angka kelahiran prematur pada wanita yang tidak terinfeksi COVID-19. Menurut analisis penelitian yang dilakukan Thangaratinam, wanita hamil dengan COVID-19 memiliki peluang tiga kali melahirkan prematur dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak terinfeksi. COVID-19 sejauh ini belum dikaitkan dengan peningkatan yang jelas dalam tingkat kematian janin atau pertumbuhan janin terhambat. Satu hal yang tidak diketahui di awal pandemi hingga saat ini adalah apakah SARS-CoV-2 dapat menular dari ibu ke janin melalui transplasental. Belum ada kejelasan mengenai kekebalan ibu yang ditransfer ke bayinya. Sebuah penelitian menemukan antibodi terhadap SARS-CoV-2 dalam darah tali pusar wanita yang telah terinfeksi. Akan tetapi belum jelas seberapa besar perlindungan yang diberikan pada janin. Sebuah issue terbaru menunjukkan bahwa infeksi virus yang berat pada ibu hamil telah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan depresi dan gangguan spektrum autisme pada anak-anak yang dilahirkan. Para peneliti bertanya-tanya apakah virus SARS-CoV-2 juga dapat memiliki efek ini. Belum ada bukti bahwa infeksi SARS-CoV-2 pada ibu dapat mempengaruhi bayi mereka dengan cara ini, dan komplikasi semacam itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Sebuah penelitian oleh Baud menunjukkan bahwa dalam sejumlah kecil kasus COVID-19 pada wanita hamil, respon peradangan – pertahanan tubuh terhadap virus merusak jaringan plasenta. Kondisi ini mirip seperti jaringan paru-paru yang rusak. Dalam 3 (tiga) kasus, ia mengamati, bayi yang ibunya menunjukkan perubahan plasenta ini lahir dengan kerusakan otak.

Lantas, apa solusi yang tepat untuk mencegah terjadinya permasalahan tersebut? Jawaban yang tepat ialah kontrasepsi. Kontrasepsi, menurut BKKBN,  berasal dari kata kontra yang artinya mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma. Kontrasepsi bertujuan mencegah kehamilan akibat pertemuan sel telur dan sel sperma tersebut. Dengan demikian, mencegah terjadinya masalah yang timbul akibat kehamilan di masa pandemi COVID-19. Ada beberapa tipe kontrasepsi yang dikenal saat ini, berikut merupakan jenis-jenis kontrasepsi dan seberapa efektif mencegah kehamilan :

  1. Kontrasepsi permanen :
  • Steriliasi pria (vasectomy) : angka kegagalan 0.15 %
  • Sterilisasi wanita : angka kegagalan 0.5 %
  1. Kontrasepsi non-permanen :
  • Implant : angka kegagalan 0.05 %
  • IUD (Intrauterine Device ): tipe LNG (angka kegegalan 0.2 %) dan tipe Copper-T (angka kegagalan 0.8%)
  • KB suntik : angka kegagalan 6 %
  • KB pil : angka kegagalan 9 %
  • Patch : angka kegagalan 9 %
  • Ring : angka kegagalan 9 %
  • Diapraghma : angka kegagalan 12 %
  • Kondom pria : angka kegagalan 18 %
  • Kondom wanita : angka kegagalan 21 %
  • Coitus interruptus / with drawl : angka kegagalan 22 %
  • KB kalender (fertility awareness-based method) : angka kegagalan 24 %
  • Spermatisida : angka kegagalan 28 %

Berdasarkan tipe dan efektifitas kontrasepsi yang ada, tentunya direkomendasikan untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang dengan efektifitas untuk mencegah kehamilan yang tinggi (angka kegagalan yang rendah). Teknik sterilisasi sepertinya sulit dijangkau di masa pandemi saat ini mengingat harus dilakukan di kamar operasi dengan anastesi, dan hal ini meningkatkan risiko penularan COVID-19. Di samping itu, kontrasepsi ini hanya diperuntukkan untuk wanita sudah merasa cukup dengan jumlah anak yang dimiliki. Kontrasepsi implant dan IUD merupakan pilihan yang tepat, karena kedua jenis kontrasepsi ini merupakan kontrasepsi jangka panjang dengan angka kegagalan yang sangat rendah. Di samping itu, pemasangan IUD maupun implant tentunya tidak serumit tindakan sterilisasi, sehingga risiko penularan COVID-19 saat dilakukan tindakan pemasangan kontrasepsi tersebut, tidak terlalu besar. Namun untuk beberapa daerah dengan angka penyebaran COVID-19 yang sangat tinggi, sebaiknya digunakan metode kontrasepsi lainnya yang tidak membutuhkan tenaga medis / paramedis untuk pemakaiannya, seperti pil kontrasepsi.

Penundaan kehamilan dengan kontrasepsi jangka panjang merupakan pilihan yang tepat di masa pandemi COVID-19 saat ini. Dengan hal ini, meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas ibu di masa pandemi COVID-19 dapat dicegah.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. CDC. 2021. Investigating The Impact of COVID-19 During Pregnancy.
  2. Effectiveness of Family Planning Methods. 2011. CDC.
  3. Ferreira-filho, E. S., Melo, N. R. De, Esposito, I. C., Bahamondes, L., Dos, R., Simões, S., et al. 2020. Expert Review of Clinical Pharmacology Contraception and Reproductive Planning During the COVID-19 Pandemic. Expert Rev. Clin. Pharmacol. 13 : 615-622.
  4. Friday, P. 2021. Coronavirus (COVID-19) Infection in Pregnancy 1-98.
  5. https://www.bkkbn.go.id
  6. Lim, L. M., Li, S., Biswas, A., Choolani, M. 2020. Special Report and Pregnancy. Am. J. Obstet. Gynecol. 222: 521-531.
  7. Subbaraman, B. N. 2021. How Does COVID Affect Mother And Baby? Nat. Publ. Gr.