Tim Promkes RSST – Acnevulgaris atau jerawat, adalah penyakit kulit pada unit poli sebasea yang sering terjadi pada masa remaja. Acne sering menjadi tanda pertama pubertas dan dapat terjadi satu tahun sebelum menarche atau haid pertama. Walaupun penyebab dari acne atau jerawat sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi ada dugaan kuat merupakan multifaktorial. Faktor-faktor penyebab jerawat meliputi beberapa faktor di antaranya pola kreatinisasi folikel yang abnormal, produksi sebum yang meningkat, peningkatan jumlah flora folikel, peningkatan hormon, stres, faktor lain yang secara langsung menyebabkan peningkatan patogenesis dari acne vulgaris seperti usia, gen, makanan dan cuaca.

Keberhasilan pengobatan jerawat berhubungan dengan faktor kepatuhan pengobatan, psikis, derajat keparahan lesi, perawatan kulit dan pengaturan pola diet. Diet sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya jerawat masih diperdebatkan. Secara umum dikatakan bahwa makanan yang mengandung banyak lemak, pedas, coklat, susu, kacang-kacangan, keju, alkohol dan sejenisnya dapat merangsang kambuhnya jerawat.

Penderita jerawat memiliki kadar androgen serum dan kadar sebum lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal, meskipun kadar androgen serum penderita jerawat masih dalam batas normal. Berbagai sumber androgen di alam antara lain terdapat dalam tanaman bahan makanan dan salah satu tanaman bahan makanan yang diduga mempunyai kandungan androgen adalah cabai.

Salah satu komponen yang ada dalam cabai dikenal dengan nama capsaicin. Komponen kimiawi dalam makanan tersebut bersifat merangsang atau menstimulasi reseptor saraf di mulut manusia dan mempengaruhi proses persyarafan berikutnya dengan informasi kimiawi bahwa tubuh berada dalam keadaan panas. Hal tersebut selanjutnya akan membuat tubuh seakan berada di tengah panas matahari terik dan pengatur suhu alami tubuh kemudian akan dipicu untuk bereaksi melalui sinyal tubuh untuk mengaktifasi kelenjar keringat. Kulit kemudian akan berkeringat sebagai reaksi lebih lanjut yang juga dikenal sebagai efek diaforetik atau meluruhkan keringat termasuk sisa-sisa metabolisme tubuh. Derajat acne dibagi menjadi minyak, kotoran atau debu, dan keringat yang menempel di wajah dapat menutup dan menyumbat pori-pori sehingga mempermudah terbentuknya acne, dan tentunya memperparah acne yang telah ada.

Dalam sebuah penelitian, dari 90 sampel didapatkan sebanyak 39 (43,3%) mahasiswa sedang memakan cabai, sebanyak 29 (32,2%) mahasiswa suka memakan cabai, sebanyak 14 (15,5%) mahasiswa sangat suka memakan cabai dan sebanyak 8 (8,9%) mahasiswa tidak suka memakan cabai.

Cabai yang dikonsumsi dengan dosis banyak memiliki pengaruh terhadap hormon testosteron dan sel germinal testis dalam dosis rendah maupun tinggi dan zinc pun tidak ikut mempengaruhi terlalu besar, zinc dapat sebagai pemicu atau faktor pembantu di mana apabila kekurangan seng pada pria menyebabkan menurunnya fungsi testikular (testicular hypofunction) yang berdampak pada terganggunya proses spermatogenesis dan produksi hormon testosteron oleh sel-sel Leydig.

Banyaknya makanan yang masuk ke dalam darah mempengaruhi proses metabolisme sel tubuh. Proses tersebut bisa berlangsung cepat jika makanan yang masuk tergolong merangsang. Misalnya, makanan pedas atau makanan bersuhu tinggi. Jika proses metabolisme sel tubuh berlangsung cepat, suhu tubuh meningkat.

Dari uraian di atas tentunya konsumsi cabai sebagai pencetus dari timbulnya jerawat, tentunya masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut lagi. Namun konsumsi cabai yang berlebihan pun tentunya juga perlu sebagai pertimbangan, dikarenakan kemungkinan dapat mempengaruhi kesehatan lainnya.

Referensi                    :

  1. Tranggono RIS. Kiat Apik Menjadi Cantik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 1992 : 103-117.
  2. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999: 231-7.
  3. Djuanda Prof. Dr. dr. Adhi; Hamzah dr. Mochtar; Aisah Prof. Dr. dr. Siti. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta, Badan Penerbit FKUI, 2010. Vol. Edisi Keenam.
  4. Siregar RS. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : Erlangga, 2005 : 55-65.
  5. Zaenglein AL, Graber EM, Thiboutot DM, Strauss JS. Acne Vulgaris and Acneiform Eruption. In : Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wol K, Freedberg IM, Austen K, eds. Dermatology In General Medicine. 7 ed. New York : McGrawHill, 2008:690-703.
  6. Depkes RI. Inventaris Tanaman Obat Indonesia Jilid 1, Jakarta 1985.
  7. Aghnila Fasza Gita Tsuraya, Puguh Riyanto, Widyawati, Bambang Witjahyo. Jurnal Kedokteran Diponegoro Volume 7, Nomor 2, Mei 2018 Online : http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico ISSN Online : 2540-8844. Hubungan Mengkonsumsi Makanan Olahan Cabai terhadap Kejadian Acne Vulgaris pada Mahasiswa.