Tim Promkes RSST – Manusia dalam kehidupan sehari-hari memerlukan sumber tenaga yaitu makan dan minum. Salah satunya adalah kebutuhan akan air minum. Diketahui bahwa 70% bagian yang ada di dalam tubuh manusia berbentuk cairan. Oleh karenanya, manusia membutuhkan supply air yang cukup untuk menjaga kesegaran dan kebugaran jasmani. Air minum merupakan unsur gizi yang sama pentingnya dengan karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Tubuh membutuhkan air mineral untuk dikonsumsi sebanyak 1 sampai 2,5 liter atau setara dengan 6-8 gelas setiap harinya. Mengkonsumsi air mineral yang baik dan cukup bagi tubuh dapat membantu proses pencernaan, mengatur metabolisme,mengatur zat-zat makanan dalam tubuh dan mengatur keseimbanagan tubuh (Asmadi, 2011 : 7).

Konsumsi air mineral sangat penting bagi setiap orang dalam mencukupi kebutuhan cairan tubuh dalam pengaturan keseimbangan tubuh, dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang konsumsi air putih diabaikan dan dianggap sepele, dan lebih memilih minuman instan yang nyatanya sangat berpengaruh negatif bagi kesehatan. Dan kita ketahui produk minuman instan saat ini relatif lebih banyak variannya, dan saat ini banyak yang secara tidak langsung beralih konsumsi minuman instan sebagai pengganti konsumsi air putih. Kita ketahui bahwa minuman instan sebagian besar banyak digemari oleh anak-anak sekolah, yang mungkin secara tidak langsung banyak dijual di kantin-kantin sekolah, sehingga konsumsi minuman instan lebih digemari daripada konsumsi air putih yang nyatanya lebih menyegarkan dan dibutuhkan oleh tubuh.

Berdasarkan sebuah hasil pengalaman dan pengamatan KKN PPL Mahasiswa UNY 2013 di Sekolah Dasar Negeri Keputran A Yogyakarta, tepatnya di Jl. Patehan Kidul No. 8 Yogyakarta di wilayah Kecamatan Kraton. Disana terlihat siswa sekolah dasar saat istirahat lebih memilih memgkonsumsi minuman instan yang dianggap kurang sehat daripada mengkonsumsi air mineral. Minuman-minuman instan dan berbagai es tersebut akan berdampak negatif tehadap tubuh kita seperti batuk, sakit kepala, radang tenggorokan, muntah-muntah. Masih rendahnya kesadaran siswa tentang pentingnya mengkonsumsi air mineral bagi kesehatan. Ironisnya lagi, budaya tidak sehat tersebut sudah dilakukan sejak masih Sekolah Dasar. Melihat kondisi yang demikian menjadikan perhatian bagi kita semua khususnya pihak sekolahan dan orang tua pada umumnya untuk memberikan tingkat pengetahuan terhadap siswa tentang pentingnya mengkonsumsi air mineral bagi tubuh.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa,dan raba. Pengetahuan manusia sebagian besar diperoleh oleh mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Soekidjo Notoatmojdo, 2007 : 139).

Menurut Soekidjo Notoatmodjo, (2007 : 140) sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu : 1) Awareness (Kesadaran), 2) Interest (Merasa Tertarik), 3) Evaluation (Menimbang-nimbang), 4) Trial, 5) Adoption. Kesimpulan dari pendapat di atas, pengetahuan adalah hasil dari tahu yang setelah mengalami penginderaan terhadap objek, yakni melalui pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Apabila penerima perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, tertarik, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

Djoko Pekik Irianto (2006 : 11) menyatakan “Air merupakan komponen terbesar dari struktur tubuh manusia kurang lebih 60 – 70 % berat badan orang dewasa berupa air sehingga sangat diperlukan air minum oleh tubuh terutama bagi yang berolahraga atau kegiatan berat yaitu air mineral”. Menurut Mary E. Beck (2000 : 46) menyatakan “air menjadi bagian kurang lebih 60 hingga 70 persen dari berat total tubuh. Menurut Asmadi dkk (2011 : 7), tubuh manusia membutuhkan air untuk dikonsumsi sebanyak 2,5 liter atau setara dengan delapan gelas setiap harinya. Sedangkan Menurut Juli Soemirat Slamet (1994 : 110), syarat-syarat air minum adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak mengandung kuman patogen yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Air minum juga tidak mengandung zat kimia yang dapat mengubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis, dan dapat merugikan secara ekonomis.

Keseimbangan cairan pada tubuh adalah keseimbangan cairan masuk dan keluar tubuh. Melalaui mekanisme keseimbangan tubuh berusaha agar cairan tetap atau konstans setiap waktu. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidarasi (kehilangan air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan dari makanan. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan dari urin, air dalam feses dan keringat. Menurut Sunita Almatsier (2009 : 223) keseimbangan akan air meliputi pengaturan konsumsi air dan pengaturan pengeluaran air.

Lingkungan sekolah turut memberikan andil dalam penentuan seseorang mengambil suatu sikap / tindakan. Lingkungan sekolah yang dimaksud adalah guru, siswa, dan pihak kantin serta seluruh masyarakat sekolah yang terlibat di dalamnya. Siswa seringkali mengkonsumsi minuman instan dan berbagai es yang dijajakan disekolah dikarenakan dorongan atau pengaruh dari teman bermain dilingkungan sekolah tersebut. Hal lain yang turut berperan dalam penentuan sikap / tindakan mengkonsumsi minuman instan dan berbagai macam es yang dijajakan adalah karena kurangnya pengawasan dari pihak guru dan sekolah. Guru atau pihak sekolah sering kali mengabaikan jenis dan macam apa saja makanan dan minuman instan yang dijajakan dilingkungannya. Kurangnya pengawasan dari pihak sekolah dan tidak tersedianya kantin sehat menyebabkan salah satu kendala siswa dalam menanamkan sikap / tindakan untuk mengkonsumsi air mineral.

Pengetahuan tentang pentingnya mengkonsumsi air mineral bagi anak sebagai salah satu pendekatan promotif untuk meningkatkan konsentrasi dalam setiap aktivitas yang dijalankan, berfikir lebih cepat dan menghindari dehidarsi, penyakit seperti sakit kepala, kandung kemih dan ginjal serta agar tetap segar bugar. Dengan adanya pengetahuan yang tinggi tentang pentingnya mengkonsumsi air mineral, anak akan termotivasi untuk membiasakan minum air mineral setiap harinya 6 sampai 8 gelas. Secara tidak langsung hal ini dapat menyebabkan meningkatkan konsentrasi dalam beraktivitas, berfikir lebih cepat,dan terhindar penyakit serta tetap segar bugar pada siswa itu sendiri. Sehingga dengan konsumsi air putih menjadi sebuah perilaku yang sederhana mempunyai manfaat yang luar biasa.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Asmadi dkk. (2011). Teknologi Pengolahan Air Minum. Yogyakarta : Gosyen Publishing.
  2. Soekidjo Notoatmodjo.(2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rieneka Cipta.
  3. Djoko Pekik Irianto. (2006). Gizi Olahraga. Yogyakarta : UNY.
  4. Juli Soemirat Slamet. (1994). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
  5. Sunita Almatsier. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.