Tim Promkes RSST – Telinga merupakan salah satu panca indra utama pada tubuh manusia. Telinga memiliki fungsi utama sebagai indra pendengaran yang sangat diperlukan dalam memudahkan komunikasi antar manusia. Proses mendengar dalam telinga manusia melibatkan mekanisme yang kompleks dimulai dari gelombang suara memasuki liang telinga dan menggetarkan membran timpani yang kemudian akan meneruskan getaran untuk melewati 3 (tiga) tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Gelombang suara ini kemudian ditansmisikan ke otak dan diterjemahkan menjadi suara yang kita dengar sehari-hari. Intensitas frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia meliputi rentang sekitar 20 Hz sampai 20 kHz. Selain memiliki fungsi pendengaran, telinga juga memiliki peranan penting dalam keseimbangan. Mengingat pentingnya fungsi telinga dalam tubuh manusia maka diperlukan perhatian khusus dalam menjaga kesehatan telinga dan pendengaran.

Gangguan pada telinga dan pendengaran dapat mengakibatkan beberapa kelainan, seperti penyakit infeksi telinga, masalah keseimbangan hingga gangguan pendengaran permanen. Gangguan pendengaran dapat terjadi diakibatkan oleh penyebab genetik, komplikasi saat lahir, penyakit menular tertentu, infeksi telinga kronis, penggunaan obat-obatan tertentu, paparan bising yang berlebihan dan pertambahan usia.

Di Indonesia gangguan pendengaran dan ketulian merupakan masalah yang masih banyak dihadapi oleh masyarakat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, prevalensi gangguan pendengaran pada usia 5-14 tahun dan 15-24 tahun masing-masing 0,8%, serta prevalensi ketulian pada usia yang sama yaitu masing-masing 0,04%. Prevalensi responden dengan gangguan pendengaran pada perempuan cenderung sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yaitu masing-masing 2,8% dan 2,4%, begitu pula dengan prevalensi ketulian pada perempuan sebesar 0,10% sedangkan pada laki-laki sebesar 0,09%. Berdasarkan tempat tinggal terdapat perbedaan prevalensi ketulian dan gangguan pendengaran antara daerah perkotaan dengan pedesaan. Pada daerah perkotaan, prevalensi gangguan pendengaran sebesar 2,2 % dan prevalensi ketulian sebesar 0,09%. Sedangkan prevalensi gangguan pendengaran di pedesaan cenderung sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 3% dan prevalensi ketulian sebesar 0,1%.

Seperti hal nya indera yang lain, telinga juga sangat penting untuk dijaga dan dilindungi kesehatannya. Berikut tips melindungi telinga antara lain :

  1. Disarankan menggunakan headset / speaker di telinga dengan volume 60% dari volume maksimal.
  2. Hindari menggunakan headset dari handphone yang sedang dilakukan pengisian baterai.
  3. Hindari makanan yang mengiritasi tenggorokan seperti makanan pedas, asam dan berminyak.
  4. Perbanyak konsumsi air putih (bila tidak memiliki penyakit tertentu).
  5. Hindari lingkungan bising atau lebih dari 80 dB.

Sebaiknya kondisikan agar anda mendengar suara 60 dB atau setara dengan orang berbicara normal agar telinga tetap terlidungi. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Martanegara Ilman Fathony, Wijana, Sally Mahdiani. 2020. Tingkat Pengetahuan Kesehatan Telinga dan Pendengaran Siswa SMP di Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan – Bedah Kepala Leher, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, Bandung. JSK Volume 5 Nomor 4. Hlm 140- 141. Website : http://jurnal.unpad.ac.id.
  2. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/
  3. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id