Tim Promkes RSST – Pasti kamu tidak asing dong dengan singkatan IQ, yang merupakan singkatan dari Intelligence Quotient atau nilai kecerdasan seseorang, EQ (Emotional Quotient), dan juga istilah SQ (Spiritual Quotient). Sebenernya apaan sih itu? Lalu apa bedanya?

IQ – Intelligence Quotient

Sejak bertahun-tahun lamanya, hasil tes IQ menjadi patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Namun seiring berkembangnya zaman, hasil tes IQ bukan lagi satu-satunya penentu kecerdasan. Ada banyak faktor dalam diri seseorang yang menentukan kecerdasan maupun kesuksesannya.

Sebenernya konsep ini sudah ada sejak akhir abad-19, kira-kira di tahun 1890-an, yang pertama kali dipikirin oleh Francis Galton (sepupunya Charles Darwin, Bapak Evolusi). Berlandaskan dari teori sepupunya mengenai konsep survival dari individu dalam suatu spesies, yang disebabkan oleh “keunggulan” sifat-sifat tertentu dari individu yang diturunkan dari orangtua masing-masing, Galton menyusun sebuah tes yang rencananya mengukur intelegensi dari aspek kegesitan dan refleks otot-otot dari manusia. Baru pas awal abad 20, Alfred Binet, psikolog dari Perancis, mengembangkan alat ukur intelegensi manusia yang dipakai oleh orang-orang. Howard Gardner di tahun 1983. Gardner menyebutkan bahwa kecerdasan manusia bukan merupakan sebuah konsep tunggal atau bersifat umum, namun merupakan set-set kemampuan yang spesifik dan berjumlah lebih dari satu, yang semuanya merupakan fungsi dari bagian-bagian dari otak yang terpisah, serta merupakan hasil dari evolusi manusia selama jutaan tahun.

GRAFIK 1 : TINGKATAN RENTANG I.Q.

Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan suatu indikator kecerdasan intelektual, kemampuan menganilisis, atau logika seseorang. IQ ini memiliki keterkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, respon atau tanggapan mengenai hal-hal yang ada di sekitarnya, serta kemampuan mempelajari materi-materi bilangan seperti matematika.

Emotional Quotient / EQ / EI

Sering sekali kita mendengar orang-orang awam mengatakan “percuma IQ tinggi tapi EQ jeblok” atau semacamnya. EQ pertama kali dikonsep oleh Keith Beasley pada tulisannya pada artikel Mensa pada tahun 1987. Tapi, istilah ini baru mendunia (dan berubah menjadi EI) setelah Daniel Goleman pada bukunya “Emotional IntelligenceWhy it can matter more than IQ” yang terbit pada tahun 1995. Walaupun buku ini dianggap bukan sebagai buku akademik, tapi konsep EI yang disusun oleh Goleman membuat para ahli psikologi rame-rame membuat penelitian tentang hal ini.

Kecerdasan emosional, pada intinya adalah kemampuan kita untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengontrol emosi diri sendiri, orang sekitar, dan kelompok. Para peneliti EI mempunyai posisi bahwa EI lebih penting daripada sekadar kecerdasan kognitif. Goleman sendiri membagi kemampuan-kemampuan emosional menjadi 5 (lima) kemampuan :

  1. Kesadaran Diri
  2. Kontrol Diri
  3. Kemampuan Sosial
  4. Empati
  5. Motivasi

Goleman berpendapat bahwa tanpa kelima kemampuan ini, orang yang memiliki IQ tinggi akan terhambat dalam kegiatan akademik serta pekerjaan.

Walaupun laku keras di kalangan umum, banyak ilmuwan dan praktisi psikologis yang tetep skeptis sama kecerdasan emosional. Yang paling mereka kritik adalah pengetesannya. Ilmuwan harus bekerja berdasarkan bukti. Jika seorang ilmuwan di bidang apapun bikin suatu hipotesis, harus didukung sama pengukuran yang akurat.

Spiritual Quotient / SQ / SI

Spiritual Intelligence (SI) atau kecerdasan spiritual pertama kali digagas oleh psikolog yang bernama Danah Zohar, pada tahun 1997. Konsep ini dapat dibilang baru dalam dunia psikologi, karena konsepnya saja dianggap belum matang. Banyak kritik terkait konsep SI ini, bahkan bukan soal pengukurannya atau nilainya, tapi terkait konsep dasarnya. SI ini dibuat untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memaknai kehidupannya, jadi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan agama maupun kerohanian dalam konsep awam.

Secara umum, ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil meraih prestasi dan kesuksesan, seringkali orang tersebut disergap oleh perasaan “kosong” dan hampa dalam celah batin kehidupannya. Hingga hampir-hampir diperbudak oleh uang serta tanpa tahu waktu dan mengerti dimana ia harus berpijak? Di sinilah kecerdasan spiritual atau yang biasa disebut SQ muncul untuk melengkapi IQ dan EQ yang ada di diri setiap orang. Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ, dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan fisik, psikis dan spiritual. Kemampuan-kemampuan yang menurut Zohar tergabung dalam konsep SI antara lain : spontanitas, visioner, rasa kemanusiaan, kemampuan untuk bertanya hal-hal yang bersifat mendalam seperti “Siapakah saya dalam dunia ini?”.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Jaeni Dahlan. 2019. Spiritual Quetient Menurut Danah Zohar, Ian marshal dan Ary ginanjar Agustian Serta Implikasinya Terhadap Dunia Pendidikan. Tesis IAIN Purwokerto.
  2. Ifa Hanifah M. 2008. Antara IQ, EQ dan SQ, Pelatihan  Nasional Guru Indonesia. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
  3. Nirwani Jumala. 2017. Memahami Tingkat Spiritual Manusia Dalam Mendeteksi Krisis Moral. Jurnal Ilmu Sosial Universitas Medan Area.
  4. Daniel Goleman. 1999. Working With Emosional Intelegence. London.
  5. Ivan Feriansah. 2018. Hubungan Tingkat Intelgensi Dengan Motivasi Belajar. Jurnal Psikologi UNS Surakarta.
  6. Peran IQ, EQ dan SQ Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Fakultas Psikologi UIN Malang.
  7. Richardson, K. & Norgate, S. NCBI. Does IQ Really Predict Job Performance? Applied Developmental Science.
  8. McGreal, S. Psychology Today. 2014. What Is An Intelligent Personality? Measuring Smarts.
  9. Cherry, K. Verywell Mind. 2018. Gardner’s Theory of Multiple Intelligences.