PKRS RSST – Pandemi Virus Corona (COVID-19) yang melanda Indonesia banyak imbasnya dan menghantam multisektor. Mulai dari sektor perekonomian dan sektor kesehatan.

Ada persoalan genting lain seperti masalah kesehatan jiwa. Lembaga riset kebijakan publik The Indonesian Institute (TII) mengungkapkan, berdasarkan data swaperiksa yang dihimpun Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dari Bulan April – Agustus 2020, sebanyak 3.443 orang yang melakukan swaperiksa ternyata mengeluhkan masalah psikologis.

Sekitar 47,9 persen di antaranya memperlihatkan gejala kecemasan, diikuti 36,1 persen menunjukkan gejala depresi dan 16 persen lainnya menyampaikan permasalahan trauma psikologis. Dari seluruh data responden dari 34 provinsi tersebut, 85 persen di antaranya ialah perempuan.

Pada laporan swaperiksa PDSKJI per Mei 2020, dari keseluruhan responden yang menunjukkan gejala depresi, 49 persen di antaranya berpikir tentang kematian atau melukai diri sendiri.

Pandemi COVID-19 bukan hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga telah mengancam kesehatan mental banyak orang.

Bagaimana tidak, penyakit yang telah menyebabkan 1.404.542 korban jiwa di seluruh dunia hingga 26 November 2020 ini telah menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan masyarakat. Setiap menit, masyarakat selalu dihujani oleh berita dan informasi seputar COVID-19, baik melalui TV, media sosial, serta internet. Tidak heran jika banyak masyarakat mengalami gangguan mental seperti rasa kekhawatiran yang berlebihan di tengah pandemi COVID-19 ini. Beberapa gangguan mental yang kerap timbul, misalnya : mudah terbawa emosi, stres, cemas berlebihan, depresi, dan sebagainya. Kecemasan dan gangguan mental ini kemudian akan menimbulkan ketidakseimbangan di otak, yang pada akhirnya timbul menjadi gangguan psikis, atau disebut juga psikosomatik. Ketika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka ia bisa merasakan gejala seperti penyakit COVID-19, yakni merasa demam, pusing, atau sakit tenggorokan, padahal suhu tubuhnya normal.

Bagaimana mengelola kesehatan jiwa / mental di tengah pandemi?

  • Kurangi menonton, membaca atau mendengarkan berita yang membuat kecemasan meningkat. Carilah informasi dari sumber-sumber terpercaya dan utamakan membuat rencana praktis melindungi diri dan orang-orang terdekat. Usahakan mencari berita hanya 1-2 kali dalam satu hari dan pada waktu yang spesifik.
  • Mencari informasi terkait menjaga kesehatan mental di masa pandemi di berbagai sumber online juga suatu langkah yang positif (Banerjee, 2020). Pilihlah situs jaringan kesehatan mental yang valid dan terpercaya seperti Kementerian Kesehatan, WHO, biro konsultasi psikologi, atau sumber-sumber yang bersifat keagamaan / religius.
  • Beradaptasi dengan kondisi pandemi. Saat ini, belum ada perkiraan akurat tentang berapa lama situasi COVID-19 akan bertahan, jumlah orang di seluruh dunia yang akan terinfeksi, atau berapa lama hidup orang akan terganggu (Suicide Awareness Voices of Education, 2020; Zandifar & Badrfam, 2020). Karena kehidupan harus tetap berjalan, maka langkah awal yang dilakukan adalah penerimaan (acceptance). Penerimaan berarti memberi ruang kesadaran yang penuh kepada diri bahwa pandemi COVID-19 adalah sebuah kenyataan. Jika kita sudah menerima bahwa kondisi sekarang bukanlah kondisi normal, maka kita siap untuk beradaptasi. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Hestri Norhapifah. 2020. Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa Saat Pandemi COVID-19 di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Air Hitam, Samarinda, Kalimantan Timur. ITKES Wiyata Husada Samarinda. Diambil dari : http://jurnal.stikeswhs.ac.id/index.php/pengmas/article/view/156.
  1. Deshinta Vibriyanti. 2020. Kesehatan Mental Masyarakat : Mengelola Kecemasan di Tengah Pandemi COVID-19. Jurnal Kependudukan Indonesia, Edisi Khusus Demografi dan COVID-19, Halaman 69-74.
  2. Banerjee D. (2020). The COVID-19 Outbreak : Crucial Role The Psychiatrists Can Play. Asian J. Psychiatr. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2020.102014.
  3. Zandifar, A & Badrfam, R. (2020). Iranian Mental Health During The COVID-19 Epidemic. Asian Asian J Psychiatr. 51 (101990). https://doi.org/10.1016/j.ajp.2020.101990.
  1. https://covid19.go.id/.
  2. https://nasional.sindonews.com/read/157842/15/kesehatan-jiwa-di-masa-pandemi-banyak-orang-depresi-dan-cemas-1599548961.