PKRS RSST – Masih di tengah pandemi COVID-19. Angka kasus semakin meningkat dari hari ke hari. Begitu juga angka kasus / kejadian pada anak-anak. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang disampaikan pada webinar nasional menyambut Hari Anak Nasional bertajuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19 bahwa per 20 Juli 2020 tercatat 2.712 anak terkonfirmasi positif COVID-19 dan 51 anak meninggal. Sebanyak 70% kasus anak yang meninggal berada pada rentang usia kurang dari 6 tahun.

Berbagai upaya untuk mengendalikan pandemi COVID-19 sendiri menimbulkan dampak signifikan di sektor ekonomi, kegiatan sehari-hari, dan seluruh aspek kehidupan pada anak. Dampak tersebut bisa jadi melekat seumur hidup pada sebagian anak. Meskipun risiko kesehatan akibat infeksi COVID-19 pada anak lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua, terdapat 80 juta anak di Indonesia (sekitar 30% dari seluruh populasi) yang berpotensi mengalami dampak serius akibat beragam dampak sekunder yang timbul baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental anak. UNICEF menghimbau pemerintah agar menyadari bahwa “anak-anak adalah korban yang tidak terlihat” mengingat adanya dampak jangka pendek dan panjang terhadap kesehatan, kesejahteraan, perkembangan, dan masa depan anak.

Beberapa dampak pandemi terhadap anak :

  • Kesehatan Anak

Kesehatan di sini meliputi kesehatan fisik dan kesehatan mental. Tetap patuhi dan laksanakan protokol kesehatan, mulai dari ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan, tidak mengajak anak ke tempat keramaian dan terapkan social distancing, serta selalu kenakan masker.

Kesehatan mental anak yang muncul di antaranya depresi, kehilangan mood, mudah tersinggung, insomnia, kemarahan, dan kelelahan secara emosi. Sebagaian anak memiliki risiko untuk mengalami masalah kesehatan mental lebih tinggi dibandingkan anak-anak lain, di antaranya yaitu anak-anak dari keluarga sosial ekonomi menengah ke bawah yang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi, anak-anak yang mengalami kejadian buruk sebelum pandemi, anak-anak yang sudah mengalami problem kesehatan mental sebelum pandemi, serta anak-anak yang mendapatkan penganiayaan atau pengabaian oleh orang tua.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental anak oleh orang tua dalam lingkup keluarga di antaranya : 1)  Perhatikan apa yang anak-anak lihat dan dengar dari televisi, radio atau berita online; 2)  Pastikan bahwa orang tua tetap membuat rutinitas untuk anak; 3)  Bantu anak mencari alternatif aktivitas; 4)  Menjadi teman bermain; 5)  Bantu anak untuk dapat tetap berhubungan dengan teman yang mereka sayangi meskipun secara online; dan 6)  Menjadi contoh yang baik bagi anak.

  • Krisis Pembelajaran

Indonesia telah menutup semua sekolah sejak awal bulan Maret sehingga 60 juta siswa tidak dapat bersekolah. Sekolah-sekolah diminta memfasilitasi pembelajaran dari rumah menggunakan sejumlah platform digital milik pemerintah dan swasta yang memberikan konten secara gratis dan peluang pembelajaran daring dan dari jarak jauh di seluruh daerah.

Meskipun nyaris 47 juta rumah tangga (66%) memiliki akses internet, pembelajaran jarak jauh secara daring masih menyimpan tantangan. Lamanya waktu belajar yang hilang dapat membuat banyak siswa sulit menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai tingkatan kelas yang diharapkan. Situasi ini dapat menimbulkan risiko terhadap pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia.

  • Kemiskinan Anak

Kehilangan pendapatan rumah tangga yang terjadi secara tiba-tiba menimbulkan ketidakstabilan situasi ekonomi keluarga dan dapat berujung pada kemiskinan. Pendapatan dan konsumsi keluarga miskin dan rentan yang memiliki anggota keluarga anak-anak akan berkurang karena tabungan yang tidak memadai. Penelitian terbaru yang dilakukan United Nations University-World Institute for Development Economics Research (UNU-WIDER) menyatakan bahwa kemerosotan ekonomi akibat pandemi dapat meningkatkan level kemiskinan dunia hingga mencakup setengah miliar orang atau 8% dari populasi dunia. Proyeksi Bappenas menunjukkan bahwa kemungkinan penduduk Indonesia jatuh miskin naik menjadi 55%, dengan sekitar 27% calon kelas menengah diperkirakan mengalami ketidakamanan pendapatan yang menghawatirkan.

Kemiskinan mempengaruhi kesejahteraan anak, seperti akses ke makanan dan gizi, kesehatan, pendidikan, perumahan, air dan sanitasi, serta perlindungan anak.

Pemerintah terus berupaya untuk mengatasi segala permasalahan yang timbul akibat pandemi ini. Sebagai upaya preventif, pemerintah berupaya menanggulangi dampak pandemi COVID-19, khususnya untuk kesehatan mental, dengan menyusun pedoman dukungan kesehatan jiwa dan psikososial pada pandemi COVID-19.

Akan tetapi di sini masyarakat tetap memegang peranan utama. Hanya dengan bekerja samalah kita dapat memastikan semua anak sehat, aman, dan tetap dapat belajar.

Tetap patuhi protokol kesehatan, pastikan anak-anak tetap terus belajar di tengah pandemi, alokasikan dana untuk anak, serta berikan dukungan kesehatan mental dan psikososial pada anak. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2020. Dalam webinar nasional menyambut Hari Anak Nasional bertajuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19.
  2. Ilham Akhsanu Ridlo. 2020. Pandemi COVID-19 dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia. Departemen Administrasi  dan  Kebijakan  Kesehatan,  Fakultas  Kesehatan  Masyarakat  Universitas Airlangga.
  3. UNICEF Indonesia. 2020. COVID-19 dan Anak-Anak di Indonesia. Diambil dari https://www.unicef.org/indonesia.
  4. https://puspensos.kemsos.go.id/