dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Kejadian keracunan minyak pelumas atau yang biasa disebut oli adalah hal jarang terjadi, tetapi bukan tidak mungkin karena ketersediannya di rumah. Seperti berita yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, dimana terdapat satu keluarga yang mengalami keracunan seusai mengkonsumsi makanan yang secara tidak sengaja dimasak menggunakan oli.

Minyak pelumas atau oli merupakan zat yang digunakan sebagai pelumas kendaraan bermotor agar mesin dapat bertahan terhadap gesekan antar bagian mesin sehingga tidak menimbulkan keausan pada bagian tersebut. Selain itu, oli juga berfungsi sebagai pendingin, pelindung dari karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin.

Secara umum, oli termasuk dalam kelas besar senyawa yang disebut hidrokarbon. Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari karbon dan hidrogen. Mereka diklasifikasikan sebagai aromatik (siklik) atau alifatik (rantai lurus). Ini biasanya merupakan komponen utama dalam banyak jenis bahan bakar dan produk yang digunakan setiap hari. Mereka bisa berbentuk gas, cair, padat atau polimer.

Paparan hidrokarbon dapat terjadi dengan 3 (tiga) cara, yaitu konsumsi produk rumah tangga yang tidak disengaja oleh anak-anak. Kedua, pajanan kulit atau inhalasi akibat kerja dan terakhir, hidrokarbon rekresional yang disengaja oleh remaja.

Berdasarkan paparan di atas, zat ini dapat menyebabkan risiko kesehatan yang signifikan, tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu sifat senyawa, viskositas, tegangan permukaan, volatilitas, dan aditif. Volatilitas mengacu pada tingkat dimana hidrokarbon dapat menguap atau ada sebagai gas. Bahan kimia dengan volatilitas tinggi memiliki peningkatan risiko penyerapan paru dan dapat menyebabkan depresi Sistem Saraf Pusat (SSP). Viskositas mengacu pada kemampuan untuk menahan aliran. Viskositas rendah memungkinkan rendah memungkinkan penetrasi yang lebih dalam ke paru-paru. Tegangan permukaan merupakan kemampuan molekul untuk menempel di sepanjang permukaan cairan. Tegangan permukaan yang rendah memungkinkan senyawa menyebar dengan mudah ke area yang luas.

Seberapa umumkah keracunan oli?

Penulis belum mendapatkan angka kejadian keracunan oli secara khusus, tetapi ditemukan laporan paparan hidrokarbon secara umum (dari berbagai jenis sumber penyebab). Pada tahun 2019, sebanyak 29.151 orang dilaporkan mengalami keracunan hidrokarbon dengan 17 kasus kematian. Pada tahun 2016, American Association of Poison Control Center melaporkan adanya paparan hidrokarbon sebagai salah satu dari 25 agen paparan tersering dengan jumlah 29,796 paparan dengan 24 kematian. Selain itu, Lifshitz et al (2003) menyatakan bahwa pada tahun 1995-1999 terdapat 274 anak di Israel masuk rumah sakit karena keracunan hidrokarbon dengan 6,5% pasien mengalami kondisi berat dan dirawat di ICU. Meskipun begitu, dilaporkan tidak terdapat kematian.

Apa risiko yang terjadi jika keracunan oli?

Berdasarkan Poisoning & Drug Overdose oli termasuk viskositas tinggi, sehingga risiko terjadi aspirasi ke paru-paru dan keracunan sistemik rendah. Tetapi jika terjadi aspirasi paru atau keracunan sistemik dapat menyebabkan kematian jika tidak tertangani dengan tepat, karena secara umum, hidrokarbon dapat menyebabkan cedera langsung ke paru-paru.

Apakah gejala yang timbul akibat keracunan oli?

Pada kasus dimana oli tidak sengaja tertelan, maka dapat muncul beberapa gejala gangguan gastrointestinal seperti :

  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri perut
  • Diare
  • Perdarahan lambung

Jika tersedak dan terjadi aspirasi dapat muncul gejala seperti :

  • Batuk
  • Sesak
  • Kebiruan

Jika terkena kulit, temuan yang mungkin dapat ditemukan adalah :

  • Kemerahan
  • Blister / melepuh
  • Rasa terbakar
  • Iritasi kulit

Pemeriksaan apa yang akan dilakukan oleh dokter?

Untuk menegakkan diagnosis keracunan oli, pertama-tama dokter akan melakukan anamnesis atau tanya jawab terkait gejala dan keluhan yang dialami. Dokter juga akan menanyakan tentang bagaimana rute masuknya racun ke dalam tubuh (misalnya oral, dermal atau inhalasi), seberapa banyak cairan yang tertelan, dan riwayat sebelum timbulnya penyakit. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, tetapi berfokus pada jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi pasien. Dapat juga dilakukan pemeriksaan neurologis.

Jika diperlukan pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan ronsen dada (x-ray) dan oksimetri untuk mengetahui adanya aspirasi pneumonitis atau MRI untuk melihat risiko keracunan pada sistem saraf pusat.

Bagaimana penanganan keracunan oli?

  1. Tenangkan diri dan jangan panik.
  2. Jika oli mengenai kulit, segera cuci bagian yang terkena menggunakan air dan sabun. Lepaskan pakaian dan perhiasan yang terkontaminasi.
  3. Jika oli mengenai mata :

–      Posisikan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terpapar.

–      Aliri mata yang terpapar dengan air mengalir selama 15 menit.

–      Hindari kontaminasi bekas air cucian pada mata lainnya.

–      Jangan menggosok mata yang terkena paparan.

–      Segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

  1. Jika oli tertelan, segera bawa ke rumah sakit. Jangan mencoba untuk memuntahkan zat tersebut karena berpotensi menyebabkan aspirasi.

Bagaimana prognosis pada keracunan oli?

Secara umum, prognosis pasien bergantung pada seberapa banyak zat yang ditelan dan seberapa cepat pengobatan diterima. Semakin cepat bantuan medis diberikan, semakin besar kesempatan untuk pemulihan. Pada pasien tanpa aspirasi paru atau gejala lain akan diperbolehkan pulang setelah 4-6 jam pengawasan di rumah sakit. Pasien yang memiliki gejala aspirasi paru atau kegawatan yang lain akan mendapatkan terapi sesuai penyakitnya.

Apa aspek medikolegal yang perlu diperhatikan oleh dokter?

Medikolegal merupakan ilmu terapan dari ilmu kedokteran dan ilmu hukum. Pada kasus keracunan, perlu ditentukan apakah kejadian tersebut tergolong kasus kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan. Secara umum, kasus keracunan oli merupakan kasus kecelakaan yang tidak disengaja.

Bagaimana cara mencegah keracunan oli terjadi?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah keracunan oli terjadi, yaitu :

  1. Bahan yang mempunyai potensi bahaya seperti oli, bensin dan produk lainnya diletakkan di tempat yang tinggi dan jauh dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan.
  2. Simpan oli, bensin dan produk berbahaya lainnya tepat di wadah aslinya. Jika pada kondisi tertentu, harus dipindahkan ke wadah lain, maka berilah label dengan jelas pada wadah yang baru.
  3. Buang wadah bekas oli, bensin dan produk berbahaya lainnya segera setelah habis digunakan.
  4. Pahami penatalaksanaan awal pada keracunan dan bawalah segera pasien ke rumah sakit.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Curtis, J., Metheny, E., Sergent, S.R. 2021. Hydrocarbon Toxicity. StatPearls. Diakses 4 Mei 2021 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499883/.
  2. Kishore, S., Chandelia, S., Patharia, N., Swarnim. 2016. Severe Acute Respiratory Distress Syndrome Caused By Unintentional Sewing Machine Lubricant Ingestion : A Case Report. Indian J Crit Care Med. 20 (11) : 671-673.
  3. Aronson JK. 2016. Organic Solvents. In : Aronson JK, ed. Meyler’s Side Effects of Drugs. 16th ed. Waltham, MA: Elsevier. 385-389.
  4. Basuki, W. 2011. Biodegradasi Limbah Oli Bekas oleh Lycinibacillus Sphaericus TCP C 2.1. J. Tek.Ling. 12 (2) : 111-119.
  5. Arnoldi, D. 2009. Pemilihan Minyak Pelumas / Oli Kendaraan Bermotor. Jurnal Austenit. 1 (2): 26-30.
  6. Olson, K.R. 2007. Poisoning and Drug Overdoses, Fifth Edition, Mc. Graw Hill Lange.
  7. Lifshitz, M., Sofer, S., Gorodischer, R. 2003. Hydrocarbon Poisoning in Children : A 5- Year Retrospective Study. Wilderness and Environmental Medicine. 14 : 78-82.
  8. Brown, M.C. What You Should Know About Lubricant Toxicity. Internet. Diakses 5 Mei 2021 https://www.machinerylubrication.com/Read/30448/know-lubricant-toxicity.