Lucia Ida Ayu Kristiana, S.Farm.Apt – Apa itu Kepatuhan Minum Obat? Kepatuhan pengobatan adalah tingkat kesediaan serta sejauh mana upaya dan perilaku seorang pasien dalam mematuhi instruksi, aturan atau anjuran medis yang diberikan oleh seorang dokter atau profesional kesehatan lainnya untuk menunjang kesembuhan pasien tersebut.

Kepatuhan merupakan perilaku yang tidak mudah untuk dijalankan, karena untuk mencapai kesembuhan dari suatu penyakit diperlukan kepatuhan atau keteraturan berobat bagi setiap pasien. Pasien dianggap patuh dalam pengobatan adalah yang menyelesaikan proses pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus.

Kepatuhan pengobatan merupakan perilaku pasien secara luas yaitu termasuk di dalamnya melaksanakan pengobatan, mengikuti diet dan mengubah gaya hidup. Agar seseorang patuh diperlukan komitmen dan partisipasi semua petugas sistem pelayanan kesehatan. Ketidakpatuhan berobat merupakan suatu problematika yang membutuhkan strategi inovatif yang berbeda, tergantung ketersediaan sumber di lingkungan tersebut dan kerja sama serta dukungan petugas kesehatan, konselor, masyarakat dan anggota keluarga.

Kepatuhan minum obat berhubungan dengan aturan minum obat yang tertulis pada etiket obat. Kepatuhan tersebut harus sesuai dengan informasi mengenai cara penggunaan obat, yang meliputi waktu dan berapa kali obat tersebut digunakan dalam sehari. Seperti contoh untuk obat dengan aturan pakai 3 x sehari 1 tablet, berarti obat diminum setiap 8 jam dari waktu minum pertama kali. Jika pasien minum obat jam 6 pagi maka selanjutnya pasien minum pukul 14.00 / jam 2 siang serta selanjutnya diminum pada pukul 22.00 / jam 10 malam.

Untuk pemakaian 2 x sehari berarti diminum setiap 12 jam. Jika minum obat pertama jam 6 pagi, maka untuk selanjutnya diminum pukul 18.00 / jam 6 sore.

Untuk aturan obat 1 x sehari, bila obat diminum pagi, misalnya jam 6, maka untuk selanjutnya obat juga harus diminum teratur setiap jam 6 pagi.

Untuk beberapa obat, terdapat aturan pakai yang diharuskan untuk diminum sebelum atau sesudah makan. Aturan ini menunjukkan bahwa obat diminum 1 jam atau 30 menit sebelum makan atau 1 – 2 jam setelah makan. Hal ini ditujukan agar obat dapat memberikan efek secara maksimal. Seperti contoh obat captopril disarankan untuk diminum 1 jam sebelum makan karena akan meningkatkan penyerapan obat. Ada juga beberapa antibiotik yang harus diminum dengan susu atau tanpa susu. Seperti, antibiotik ciprofloksasin disarankan diminum menggunakan air putih dan tidak menggunakan susu. Hal ini untuk menghidari terjadinya penurunan penyerapan antibiotik ke dalam tubuh.  Ada juga antibiotik yang disarankan untuk diminum menggunakan susu, seperti griseofulvin untuk meningkatkan penyerapan obat di dalam tubuh. Obat jenis antibiotik harus dikonsumsi sampai habis dan harus dengan resep dokter.

Selain obat yang diminum, terdapat juga obat yang cara penggunaannya dihisap ataupun ditempel. Untuk penggunaan obat seperti turbuhaler (dihisap), untuk pasien yang kurang jelas dalam pemakaiannya dapat menanyakan kepada apoteker, karena biasanya terdapat beberapa pasien yang salah dalam penggunaannya seperti aturan pakai ataupun penggunaan alat tersebut. Selain itu, setelah penggunaan alat tersebut pasien diharapkan berkumur menggunakan air hangat agar terhindar dari efek samping obat tersebut yaitu sariawan. Contoh lain obat yang digunakan dengan cara menempalkan pada kulit adalah fenthanyl patch. Untuk obat seperti ini, disarankan penempelan diletakkan pada bagian tubuh yang tidak terdapat bulu atau rambut. Bila ada, maka dapat dilakukanan pencukuran terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar obat dapat masuk kedalam tubuh tanpa terhalang oleh rambut atau bulu. Itulah beberapa contoh obat dalam penggunaannya menggunakan intruksi khusus yang ditujukan untuk meningkatkan efektifitas dan menurunkan efek samping obat. Jika terdapat informasi yang kurang jelas dapat ditanyakan kepada apoteker praktek di apotek atau pelayanan kesehatan terdekat. Yang terpenting sebelum menggunakan obat yaitu periksa terlebih dahulu tanggal kadaluarsa obat pada kemasan obat sebelum digunakan.

Beberapa informasi aturan minum obat yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Obat diminum sampai habis sesuai jadwal dan aturan pakai, contoh : antibiotik.
  2. Obat diminum jika perlu, contoh : obat penurun panas.
  3. Obat dikunyah terlebih dahulu, contoh : tablet kunyah antasida.
  4. Obat ditaruh di bawah lidah, contoh : obat jantung (isosorbid dinitrat).
  5. Obat dikocok dahulu, contoh : suspensi (antasida / obat maag) dan emulsi (multivitamin + minyak ikan).
  6. Obat dalam bentuk tablet / kapsul sebaiknya diminum dengan segelas air putih.
  7. Obat tertentu dapat dipengaruhi oleh makanan / minuman. Tidak semua obat harus diminum sesudah makan, juga terkadang ada obat yang tidak boleh diminum bersamaan dengan obat lain. Contoh : captopril (diminum waktu perut kosong, yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan), metoklopramid (untuk antimual-muntah, diminum 1 jam sebelum makan), griseofulvin (diminum bersama makanan berlemak), tetrasiklin (tidak boleh diminum bersama susu atau antasida / obat maag).
  8. Obat tertentu dapat mempengaruhi kerja obat lain, sehingga tidak boleh diberikan bersamaan, contoh : omeprazole dengan clopidogrel.

Saat sakit siapa sih yang tidak ingin sembuh? Pasti kita semua ingin sehat kan? Nah, namun sayangnya kebanyakan kita yang ingin sehat, tidak sebanding dengan usaha yang kita lakukan. Kita ingin sehat, tapi minum obat sembarangan. Kita ingin sembuh, tapi minum obat kita lalaikan. Kita ingin segera pulih, tapi obat dihentikan tanpa pertanyaan. Nah, kalau begitu apakah hal tersebut diperbolehkan? Kalau penyakit seperti demam, sekali saja minum parasetamol, lalu sembuh, obat tersebut bisa saja langsung kita hentikan. Tapi tidak untuk penyakit kronis (seperti contohnya hipertensi dan diabetes) dan penyakit infeksi bakteri (misalnya TB). Bagi yang memiliki penyakit kronis, seperti hipertensi, saat minum obat tidak teratur, maka tekanan darahnya takkan terkontrol. Dan jika diabetes, gula darahnya juga tidak terkontrol jika tidak patuh minum obat.

Jika tekanan darah dan gula darah naik – turun selalu, maka berisiko terjadi komplikasi penyakit yang lebih parah. Nah, jika kita terkena penyakit akibat bakteri, lalu kita tidak teratur minum obatnya, sembuh sedikit lalu dihentikan, sakit lagi minum lagi obatnya, nah ini tidak boleh. Antibiotik yang kita minum akan resisten. Tidak akan efektif lagi melawan bakteri penyebab penyakit itu.

Apalagi jika obat TB yang resisten, maka bakteri sudah semakin kebal dan harus diganti lagi dengan antibiotik pilihan lain. Ini tentu sangat berbahaya.

Maka dari itu, jika kita kurang mengerti tentang obat, hal tersebut dapat diatasi dengan bertanya pada apoteker di layanan kesehatan terdekat.

Ketahuilah, jika kita tahu tentang “obat yang kita minum dan tujuannya untuk apa”, maka kepatuhan kita meminum obat akan meningkat dan akan berakibat pada proses penyembuhan yang semakin cepat.