dr. Nur Dwita Larasati, M.Sc, Sp.DV – Kencing nanah merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.1 Bakteri ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan konjungtiva, sehingga pada laki-laki disebut Uretritis Gonoroe (UGO). Infeksi Gonoroe (GO) ditularkan melalui hubungan seksual atau dari ibu ke janin pada waktu persalinan. Diperkirakan lebih dari 150 juta kasus GO di dunia setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung menurun namun di negara lainnya cenderung meningkat. Perbedaan ini menunjukkan bervariasinya tingkat keberhasilan sistem dan pengendalian penyakit menular seksual.1 Di Indonesia pada tahun 2009 dilaporkan kasus GO ditemukan sebanyak 49% pada pekerja seks komersial.

Gambaran klinis dan perjalanan penyakit GO pada wanita dan pria berbeda.1,2 Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita dapat bersifat akut maupun kronis, gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapatkan kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang berobat jika sudah ada komplikasi. Pada pria keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas di sekitar ujung penis, disusul nyeri ketika buang air kecil dan keluar cairan kuning seperti nanah yang kadang disertai darah. Pada pemeriksaan tampak ujung penis kemerahan, bengkak dan keluar cairan kuning.1 Komplikasi yang sering ditemukan pada pria adalah epididmitis, orkitis, dan infertilitas. Sedangkan pada wanita adalah penyakit radang panggul, bartolinitis, dan infertilitas.2

Diagnosis GO mudah ditegakkan yaitu dari anamnesis adanya riwayat hubungan seksual yang tidak terproteksi atau perilaku hubungan seksual berisiko baik secara vaginal, anal, maupun oral; berganti-ganti pasangan; laki-laki seks laki-laki (LSL); atau biseksual. Dari pemeriksaan ditemukan keluarnya cairan seperti nanah dari penis dan ujung penis tampak kemerahan.2,3 Dari pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pengecatan gram pada spesimen cairan nanah atau dapat dilakukan kultur yaitu pembiakan bakteri GO, dan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan sensitivitas / resistensi antibiotik. Hal ini sangat bermanfaat bagi pasien yang telah mendapat penanganan namun tidak terjadi perbaikan kondisi secara optimal.

Penatalaksanaan dari GO yaitu diberikan antibiotik sefiksim 400 mg dosis tunggal atau sebagai alternatif dapat diberikan seftriakson 250 mg im dosis tunggal atau kanamisin 2 gr im dosis tunggal. Karena infeksi GO dan infeksi Chlamydia trachomatis hampir selalu bersamaan maka dalam pengobatan infeksi GO sebaiknya diberikan juga untuk pengobatan infeksi Chlamydia yaitu azitromisin 1 gr dosis tunggal atau doksisiklin 2×100 mg/hari selama 7 hari atau eritromisin 4×500 mg/hari selama 7 hari.4

Bila sudah terjadi komplikasi dapat diberikan sefiksim 400 mg/hari selama 5 hari atau levofloksasin 500 mg/hari selama 5 hari atau kanamisin 2 gr/hari im sealam 3 hari atau seftriakson 250 mg/hari im selama 3 hari.4

Pemberian edukasi juga diperlukan yaitu bila memungkinkan pasangan harus diterapi; dianjurkan untuk abstinensia sampai terbukti sembuh secara klinis dan laboratoris, bila tidak dapat menahan diri dianjurkan memakai kondom; kunjungan ulang ke dokter pada hari ke 7; dan konseling mengenai penyakit GO, cara penularan, komplikasi, penanganan.1, 3,4

 

Referensi :

  1. Daili SF. Gonoroe. Dalam : Daili SF, B. Makes WI, Zubeir F, dkk, Infeksi Menular Seksual. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI Jakarta,
  2. Holmes K, Mardh PA, Sprarling PF, et al. Sexually Transmited Disease. 2nd New York, Mc Graw Hill, 1990.
  3. Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual. Departemen Kesehatan Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2006.
  4. Panduan Praktik Klinis Spesialis Kulit dan Kelamin. PERDOSKI. 2017.