dr. Nur Dwita Larasati, M.Sc, Sp.KK – Penyakit Kusta atau Lepra atau Morbus Hansen, adalah penyakit infeksi kronis atau penyakit kulit menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium leprae yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, mata, otot, tulang kecuali susunan saraf pusat. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimptomatik, namun pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat.

Mycobakterium leprae pertama kali ditemukan 1873 yaitu kuman tahan asam, berbentuk batang, hidup di dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur dalam media buatan. Masa tunas kuman Kusta memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan kuman lain yaitu 2-5 tahun.

Data WHO menyebutkan Asia Tenggara menempati peringkat pertama penderita Kusta terbanyak di tahun 2015 (ditemukan 156.118 dari 210.758 kasus baru). Di dunia, Indonesia menduduki peringkat 3 jumlah penderita Lepra terbanyak setelah India dan Brazil.  Meskipun terjadi penurunan jumlah kasus yang terdaftar, namun jumlah deteksi kasus baru tidak berkurang.

Di Indonesia,12 propinsi (35,3%) termasuk wilayah yang dinyatakan belum eliminasi kusta.

Di Klaten sendiri masih ditemukan kasus baru Kusta, yaitu 31 kasus di tahun 2018 dan  28 kasus di tahun 2019. Tentunya menjadi kewajiban kita bersama untuk menanggulangi masalah kasus Kusta ini melalui deteksi dini, pengobatan dan mencegah kecacatan.

Sampai saat ini penyakit Kusta masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Masalah Kusta diperberat dengan kompleknya epidemiologi dan banyaknya penderita Kusta yang mendapat pengobatan ketika sudah dalam keadaan cacat sebagai akibat masih adanya stigma dan kurangnya pemahaman tentang penyakit Kusta di masyarakat sebagai akibat keterlambatan pengobatan tersebut akan terjadi penularan yang terus berjalan sehingga kasus baru banyak bermunculan. Mengingat kondisi tersebut diperlukan adanya sistem pemberantasan secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi penemuan penderita sedini mungkin, pengobatan yang tepat, rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial serta rehabilitasi karya mantan penderita Kusta.

Penyakit Kusta karena kecacatannya memberi stigma yang sangat besar di masyarakat sehingga pasien Kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja tetapi juga di jauhi atau dikucilkan oleh masyarakat. Cacat tubuh tersebut dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan dilakukan secara dini.

Cara penularan penyakit Kusta dapat ditularkan dari penderita Kusta tipe MB / Multi Basiler kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan pasti, belum diketahui tetapi sebagaian besar ahli berpendapat bahwa penyakit Kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit. Sumber penularan adalah penderita penyakit Kusta yang belum diobati, melalui kontak yang erat dan lama. Tetapi tidak semua orang bisa tertular karena 95% manusia di dunia ini mempunyai kekebalan alamiah. Sumber penularan hanya manusia satu-satunya sebagai sumber penularan meskipun kuman dapat hidup di Simpanse Aramdilo.

Tujuan utama program pemberantasan Kusta adalah memutus rantai penularan untuk menurunkan insidensi penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita serta mencegah timbulnya kecacatan. Pengobatan ditujukan untuk mematikan kuman Kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif sampai akhirnya hilang. Dengan hancurnya kuman maka sumber penularan dari penderita ke orang lain akan terputus. Penderita yang sudah dalam keadaan cacat permanen, pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih lanjut. Apabila penderita Kusta tidak meminum obat secara teratur maka kuman Kusta dapat menjadi aktif kembali sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan. Di sinilah pentingnya pengobatan dini dan teratur.

Untuk komplikasi dari penyakit Kusta yang paling banyak adalah kecacatan. Cacat Kusta terjadi karena gangguan saraf pada mata, tangan atau kaki. Semakin panjang waktu penundaan dari saat pertama ditemukan tanda dini hingga dimulainya pengobatan, maka mungkin besar risiko timbulnya kecacatan akibat terjadinya kerusakan saraf yang progresif. Dengan alasan inilah maka diagnosis dini dan pengobatan harusnya dapat mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang.

Tujuan pencegahan cacat pada Kusta antara lain :

  1. Mencegah timbulnya cacat (disability atau deformitas) pada saat diagnosis Kusta ditegakkan dan diobati.
  2. Mencegah agar cacat yang telah terjadi jangan menjadi lebih berat.
  3. Mencegah agar cacat tidak kambuh lagi.

Dapat dilakukan dengan penyuluhan, adaptasi sosial dan latihan.

Pencegahan cacat Kusta jauh lebih baik dan ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien sendiri dan keluarganya. Di samping itu perlu mengubah pandangan di masyarakat antara lain bahwa Kusta identik dengan deformitas atau kecacatan.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Job CK. Pathology of Leprosy. Dalam : Hasting RC, ed Leprosy. Edisi 2 Ediburg : Churchill Livingstone. 1994; 193-224.
  2. Rees RJW, Young DB. The Mocrobiology of Leprosy. Dalam : Hasting RC, ed Leprosy. Edisi 2 Ediburg : Churchill Livingstine. 1994; 49-83.
  3. Rachmat H. Program Pemberantasan Kusta di Indonesia. Dalam : Daili ES, Menaldi SL, Kusta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003.
  4. Departemen Kesehatan Repiblik Indonesia Ditjen PPM & PLP. Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta 1993.
  5. A Guide to Elimination Leprosy as Public Health Problem. Edisi 1. Geneva : WHO. 1995.
  6. WHO Study Group. Chemotherapy for Leprosy for Control Programmes. World Hlth Org Techn Rep Ser. 1982.
  7. Wisnu IM, Hadilukito G. Pencegahan Cacat Kusta. Dalam : Daili ES, Menaldi SL, Kusta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003.
  8. Cholis. Kecacatan pada Penderita Kusta. Naskah Penataran Puskesmas Kab. Malang. 1995.
  9. Bresna JW, Heerleens YF, Lakerveld HK. The International Classification of Impairments, Disabilities and Handicaps in Leprosy Control Projects. Lepr Rev. 1992; 63.
  10. Bryceson A, Pfaltzgraff RE. A Clinical Leprosy. Dalam Hasting RC, ed Leprosy. Edisi 2 Ediburg : Churchill Livingstone. 1994.
  11. Halim PW, Kurdi FN. Rehabilitasi Non Medik. Dalam : Daili ES, Menaldi SL, Kusta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003.