Tim PKRS – Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) jatuh setiap tanggal 1 Desember. Tujuan perlu ditetapkannya peringatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dunia terhadap wabah AIDS yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS sendiri bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, antara lain tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dan peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2020 ini mengusung tema Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Solidaritas : 10 Tahun Menuju Akhir AIDS 2020. Dengan subtema Saya Berani, Saya Sehat :

  1. Berani tes HIV, status positif patuh minum ARV.
  2. HIV dapat dicegah dan dikendalikan.
  3. Virus tidak terdeteksi = tidak menularkan HIV.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan segala serangan penyakit.

Pada saat kekebalan tubuh kita mulai lemah, maka timbulah masalah kesehatan. Gejala yang umumnya timbul antara lain demam, batuk, atau diare terus menerus. Kumpulan gejala penyakit akibat lemahnya sistem kekabalan tubuh inilah yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Walaupun begitu, tertular HIV (atau menjadi HIV positif) bukan berarti langsung sakit. Seseorang bisa hidup dengan HIV di dalam tubuhnya bertahun-tahun lamanya tanpa merasa sakit atau mengalami gangguan. Kesehatan yang berat. Lamanya masa sehat ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menjalani pola hidup dalam menjaga kesehatan.

AIDS termasuk salah satu penyakit mematikan bagi manusia di seluruh dunia. Hingga saat ini, belum ada hasil uji klinis resmi dari otoritas berwenang mengenai penemuan obat atau vaksin untuk menyembuhkan AIDS.

Angka kasus penularan HIV/AIDS pun juga semakin meningkat. Sejalan dengan perkembangan HIV/AIDS di dunia, kejadian HIV/AIDS di Indonesia juga berkembang pesat. Kasus HIV/AIDS di Indonesia telah tersebar di 407 kabupaten/kota (80%) dari 507 Kabupaten/Kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Laporan Situasi Perkembangan HIV-AIDS dan PMS di Indonesia tahun 2017 untuk jumlah kumulatif AIDS menurut pekerjaan / status menunjukkan bahwa ibu rumah tangga dengan HIV/AIDS menempati urutan pertama dengan jumlah kasus AIDS terbanyak.

Salah satu alternatif dalam upaya menanggulangi problematik jumlah penderita yang terus meningkat adalah upaya pencegahan yang dilakukan semua pihak yang mengharuskan kita untuk tidak terlibat dalam lingkungan transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV.

HIV hidup di semua cairan tubuh, tetapi hanya bisa menular melalui cairan tubuh tertentu, yaitu :

  • Darah
  • Cairan bersama sperma (cairan semen)
  • Cairan vagina
  • ASI (Air Susu Ibu)

Kegiatan yang dapat menularkan HIV adalah :

  • Hubungan seks tidak aman dan berisiko.
  • Penggunaan jarum suntik / tindik / tato / yang tidak steril secara bergantian.
  • Tindakan medis yang memakai peralatan yang tidak steril, misalnya peralatan dokter gigi.
  • Penerimaan tranfusi darah yang mengandung HIV.
  • Ibu HIV-positif pada bayinya, waktu dalam kandungan, ketika melahirkan atau menyusui.

HIV tidak menular melalui :

  • Bersentuhan
  • Berciuman, bersalaman dan berpelukan
  • Peralatan makan dan minum bergantian
  • Terpapar batuk atau bersin
  • Penggunaan kamar mandi yang sama
  • Berenang di kolam renang yang sama
  • Gigitan nyamuk / serangga
  • Tinggal serumah bersama ODHA (Orang Dengan HIV)

Penularan HIV bisa kita cegah dengan ABCDE :

A || Abstinensia    : tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah

B || Be Faithfull     : setia pada suami / istri

C || Condom         : gunakan kondom saat berhubungan berisiko (bagi ODHA)

D || Don’t Drugs   : jangan menggunakan narkoba

E || Education       : mencari informasi yang benar tentang HIV

Selain upaya pencegahan, masyarakat juga diharapkan mampu menghilangkan stigma kepada ODHA. Stigma muncul karena tidak tahunya masyarakat tentang informasi HIV yang benar dan lengkap, khususnya dalam mekanisme penularan HIV, kelompok orang yang berisiko tertular HIV dan cara pencegahannya termasuk penggunaan kondom. Stigma terhadap ODHA menyebabkan orang yang memiliki gejala atau diduga menderita HIV enggan melakukan tes untuk mengetahui status HIV.

Karena masyarakat masih belum sepenuhnya memahami dan bersikap terbuka pada para penderita. Dengan kata lain, masyarakat sebenarnya juga tidak mendapatkan pemahaman dan informasi yang tepat terkait penyakit satu ini. Alhasil, orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) masih sering menerima perlakuan yang tidak semestinya, sehingga membuat banyak dari mereka menolak untuk membuka status terhadap pasangan atau sengaja mengubah perilaku untuk menghindari.

Petugas kesehatan merupakan komponen penting dalam pendekatan berbagai pelayanan kesehatan kepada orang dengan HIV/AIDS. Petugas kesehatan memiliki wewenang antara lain memberikan pelayanan kesehatan, melaksanakan deteksi dini, melakukan rujukan dan memberikan penyuluhan Infeksi Menular Seksual (IMS). Pentingnya mendeteksi dini HIV/AIDS dapat memudahkan, mempercepat diagnosis, dan menentukan penatalaksanaan kasus HIV selanjutnya. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus memiliki kemampuan dalam menganalisis suatu persoalan dan merumuskan formulasi tindakan perencanaan yang efektif. Terlebih lagi dalam pelayanan terhadap orang terifeksi HIV sehingga bisa melakukan langkah penanganan yang tepat dan tidak jatuh ke stadium lanjut.

Petugas kesehatan dan masyarakat harus berjalan beriringan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS…

Lakukan ABCDE dan STOP STIGMA… (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Klaten. Aku Bangga Aku Tahu “Informasi HIV dan AIDS Bagi Masyarakat”.
  2. Chahya Kharin Herbawani dan Dadan Erwandi. 2019. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dalam Jurnal Kesehatan Reproduksi, 10(2), 2019.
  3. 2012. Kebijakan Ketmenkes tentang HIV AIDS. Diunduh tanggal 6 Mei 2017.
  4. Yani Anggina; Yuniar Lestari; dan Zairil. 2018. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penanggulangan HIV/AIDS. Diambil dari http://jurnal.fk.unand.ac.id.