Tim Promkes RSST – Buta warna adalah kondisi di mana kualitas penglihatan terhadap warna berkurang, sehingga seseorang yang menderita penyakit ini akan berkurang kemampuannya untuk  membedakan warna tertentu (buta warna sebagian) atau bahkan seluruh warna (buta warna total). Buta warna biasanya lebih banyak mengenai pria dibandingkan wanita dan merupakan penyakit seumur hidup. Namun, penderita dapat melatih diri beradaptasi dengan kondisi ini, sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan normal. Dokter akan menentukan metode penanganan yang tepat dan sesuai dengan tipe buta warna yang diderita.

Penyebab Buta Warna

Pada seseorang yang menderita buta warna, sel pigmen tersebut mengalami kerusakan atau tidak berfungsi, sehingga mata tidak dapat mendeteksi warna-warna tertentu atau bahkan seluruh warna.

Kerusakan sel tersebut terjadi karena adanya kelainan gen yang diturunkan dari orang tua ke anak. Selain kelainan gen yang diturunkan, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan rusaknya sel, yaitu :

  • Menderita penyakit diabetes, glaukoma, atau multiple sclerosis.
  • Efek samping obat digoxin, ethambutol, phenytoin, chloroquine, dan sildenafil.
  • Terpapar zat kimia carbon disulfide yang dipakai dalam industri, rayon, dan styrene yang digunakan dalam industri plastik serta karet.
  • Kerusakaan atau cedera pada mata akibat kecelakaan.

Gejala dan Tipe Buta Warna

Gejala buta warna pada dasarnya terbagi menjadi 3 (tiga) tipe, yakni merah-hijau, biru kuning, dan total. Masing-masing tipe memiliki karakter gejala yang berbeda.

Buta warna merah-hijau

Beberapa karakter yang dapat dialami oleh penderita buta warna merah-hijau :

  • Warna kuning dan hijau terlihat memerah.
  • Oranye, merah, dan kuning terlihat seperti hijau.
  • Merah terlihat seperti hitam.
  • Merah terlihat kuning kecokelatan, dan hijau terlihat seperti warna krem.

Buta warna biru-kuning

Tipe ini juga termasuk buta warna parsial dan memiliki karakter berupa :

  • Biru terlihat kehijauan, serta sulit membedakan merah muda dengan kuning dan merah.
  • Biru terlihat seperti hijau, dan kuning terlihat seperti abu-abu atau ungu terang.

Buta warna total

Berbeda dengan kedua tipe di atas, seseorang yang menderita tipe buta warna total mengalami kesulitan membedakan semua warna. Bahkan beberapa penderitanya hanya dapat melihat warna putih, abu-abu, dan hitam.

Pemeriksaan Buta Warna

Dalam memeriksa buta warna, terdapat beberapa tipe tes buta warna yang digunakan oleh dokter, yakni :

  • Tes Ishihara. Tes Ishihara adalah yang paling sering digunakan. Dalam prosesnya, dokter akan meminta pasien mengenali angka atau huruf yang tertera secara samar pada gambar berupa titik-titik berwarna.
  • Tes penyusunan warna. Dalam tes ini, pasien harus menyusun warna yang berbeda sesuai dengan gradasi tingkat kepekatan warna.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari tahu penyebab buta warna.

Penanganan Buta Warna

Belum ada metode pengobatan yang dapat mengembalikan kemampuan pasien melihat warna sepenuhnya. Namun, pasien dapat melatih diri agar terbiasa dengan buta warna yang diderita dengan jalan :

  • Meminta bantuan kerabat atau keluarga saat mengalami situasi sulit yang berhubungan dengan warna, seperti ketika mencocokkan warna pakaian yang digunakan atau melihat apakah daging yang dimasak telah matang.
  • Menggunakan lampu yang terang di rumah agar membantu memperjelas warna yang ada.
  • Menggunakan teknologi pendukung yang tersedia, seperti aplikasi khusus yang dapat mendeteksi dan memberi tahu warna pada suatu objek.
  • Menggunakan lensa mata khusus. Lensa khusus ini dapat membantu pasien dalam mendeteksi warna tertentu. Namun, lensa ini tidak selalu cocok dan bekerja efektif di tiap orang.

Jika buta warna yang dialami merupakan dampak dari suatu penyakit atau efek samping obat, maka dokter akan melakukan penanganan yang bertujuan untuk mengatasi penyebabnya.

Referensi               :

  1. Kartika Keishatyanarsha, dkk. 2014. Patofisiologi dan Diagnosis Buta Warna. Jurnal Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta.
  2. Moh Fauzi Natsir. 2019. Alat Pendeteksi Spectrum Warna Bagi Penderita Buta Warna. Jurnal Paska Sarjana. STIMIK Handayani Makasar.
  3. Badawy, et al. 2018. Contact Lenses for Color Blindness. Advanced Healthcare Materials.
  4. Simunovic, MP. 2009. Colour Vision Deficiency. Eye, 24, pp. 747-755.
  5. NIH. 2015. National Eye Institute. Facts about Color Blindness.
  6. Janigian, RH. AAO. 2018. Color Blindness.
  7. NHS Choices UK. 2016. Health A-Z. Colour Vision Deficiency.
  8. Konkel, L. Everyday Health. 2016. Color Blindness.
  9. Charles, M. Healthline. 2016. What Causes Color Blindness?