dr. Mega Dhestiana, Sp.KJ., M.Sc – Pandemi Virus Corona (COVID-19) membuat panik masyarakat. Akibatnya, timbul kerugian di sektor ekonomi, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan. Saat ini, lebih dari sebelumnya, penting bagi sistem kesehatan dan organisasi perawatan kesehatan untuk menciptakan dan memastikan infrastruktur dan sumber daya guna mendukung dokter, perawat, dan anggota tim perawatan.

Munculnya stigma dan juga stereotipe negatif yang diarahkan oleh individu atau kelompok masyarakat terhadap tenaga kesehatan atau pasien COVID-19 berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat Virus Corona. Pemerintah dan institusi yang terkait kesehatan maupun pendidikan tenaga kesehatan, sebaiknya memberikan strategi praktis dalam mengelola sistem kesehatan untuk menjadi pertimbangan dalam mendukung dokter dan tim perawat selama COVID-19.

Bisa menjadi pertimbangan, setiap kegiatan yang melibatkan mahasiswa kedokteran atau profesi kesehatan lainnya, peserta harus menjadi bagian dari program yang diawasi oleh sekolah mereka sesuai dengan panduan dari Kemenkes, Kemendikbud, atau lembaga berwenang lainnya. Tempat kerja maupun tempat pendidikan bagi tenaga kesehatan, sebaiknya melakukan survei yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab stres, menilai tingkat stres, dan mengembangkan infrastruktur pendukung untuk mengelola stres bagi tenaga kesehatan.

Langkah-langkah yang diambil oleh lembaga kesehatan sebelum, selama, dan setelah krisis pandemi COVID-19 akan mengurangi trauma psikososial dan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi maupun mengelola stres yang dihadapi. Dokter, perawat, dan pekerja perawatan kesehatan lainnya yang mendapat dukungan selama masa stres akut, akan terlihat bagaimana cara mereka mengatasi keadaan dan apakah mereka pulih dari krisis. Termasuk, apakah mereka akan mengadopsi mekanisme koping yang tidak sehat dan menunjukkan tanda-tanda gangguan fisik akibat stres yang dialami (misalnya, kelelahan, insomnia, dysphoria); atau bahkan lebih buruk, penyakit stres kronis (misalnya, depresi, kecemasan, PTSD, penyalahgunaan zat).

Menjaga tenaga kesehatan secara efektif dapat mengurangi risiko mereka untuk tidak bekerja dengan baik saat melakukan pelayanan kesehatan. Rumah sakit maupun lembaga di bidang kesehatan yang berhasil melaksanakan sistem perlindungan keselamatan tenaga kerja, akan menjadi sebuah organisasi tangguh selama masa krisis.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan lembaga atau rumah sakit yang hanya fokus pada ketahanan individu; atau hanya memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan setelah krisis berkembang. Selain itu, organisasi yang tangguh perlu mengonfigurasi ulang prioritas kesejahteraan tenaga kesehatan dengan cepat agar dapat mengelola stres dalam situasi krisis.

Menyusun Rencana Dukungan

Krisis pada dasarnya suatu kondisi yang sangat memicu munculnya stres dalam kehidupan seseorang. Kondisi ini seringkali melibatkan kecemasan, ketidakpastian, dan intensitas kerja yang meningkat. Keadaan ini membutuhkan kelenturan, daya tahan, keseimbangan batin, dan profesionalisme dari tenaga kesehatan. Sebab, merekalah yang biasanya merasa terancam keselamatannya di masa pandemi.

Agar tenaga kesehatan berhasil mengelola tantangan-tantangan dan tetap melayani pasien selama masa pandemi, mereka membutuhkan dukungan dari rumah sakit maupun lembaga kesehatan terkait. Seberapa baik rumah sakit maupun lembaga merencanakan dan mendukung tenaga kerja selama krisis, akan memengaruhi kapasitas rumah sakit dalam perawatan pasien maupun dampak krisis terhadap tenaga kesehatan secara pribadi.

Stres jangka pendek berisiko menjadi gangguan pada kesehatan mental (misalnya gangguan stres pasca trauma) atau memicu gangguan stres dalam jangka panjang, tergantung pada infrastruktur, budaya, dan tindakan lembaga. Menyusun rencana guna memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan selama dan setelah krisis, akan membantu mereka tetap sehat sehingga senantiasa memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dari waktu ke waktu.

Lembaga kesehatan sebaiknya memiliki sistem manajemen insiden kesiapsiagaan darurat, seperti sistem komando insiden rumah sakit yang mencakup topik penting, di antaranya kemampuan perencanaan, respons, serta pemulihan untuk kondisi yang tidak direncanakan dan direncanakan. Termasuk menyusun rencana untuk mendukung kebutuhan fisik, emosional, dan psikososial tenaga kesehatan.

Yang tidak kalah penting bagi lembaga kesehatan adalah memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan sebelum keadaan darurat. Ini untuk mencegah tenaga kesehatan dan tim memasuki masa krisis dalam kondisi yang sudah kelelahan, kekurangan energi dan pikiran, serta burnout. Burnout merupakan istilah psikologis yang sering digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang berlebihan dan membebani tenaga dan kemampuan seseorang.

Pada banyak kasus, infrastruktur kesejahteraan yang ada sebelum krisis dapat dipakai sebagai kerangka kerja untuk membangun dan menerapkan sistem pendukung yang baru. Bisa juga dimodifikasi di tengah keadaan darurat atau pandemi.

Sumber Stres Saat Pandemi

Stres pada tenaga kesehatan, terutama pada masa pandemi dapat berasal dari salah satu atau beberapa dari empat sumber utama :

  • Ancaman terhadap kesehatan dan kehidupan pribadi / keluarga dari tenaga kesehatan.
  • Kehilangan kolega atau ancaman oleh pimpinan dan identitas profesional.
  • Konflik batin antara nilai-nilai dan aspirasi dan apa yang dapat mereka capai dalam pekerjaan mereka.
  • Kelelahan, hampir selalu merasa lelah karena pekerjaan dan kebutuhan tanpa henti, tanpa waktu untuk istirahat dan pemulihan.

Bagaimana seseorang bereaksi atau berespons terhadap stres bisa bervariasi. Dari reaksi sederhana, contohnya merasa mudah marah atau tertekan, mengalami ketegangan otot, atau sulit tidur; hingga gangguan stres serius, misalnya tidak merasa dirinya seperti seseorang yang normal, memiliki rasa bersalah yang berlebihan, rasa malu atau menyalahkan, merasa di luar kendali, mengalami dysthymia atau panik.

Jika tidak mendapat terapi dengan baik, reaksi stres akut dapat berkembang menjadi gangguan sosial atau pekerjaan yang persisten (menetap), yaitu depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, PTSD / gangguan stres pasca trauma, bahkan muncul ide bunuh diri. Perkembangan dari reaksi stres akut hingga gangguan stres pasca trauma, atau menjadi gangguan fisik kronis sebaiknya dapat dihindari.

Dukungan Institusional Proaktif

Dukungan institusional proaktif sebaiknya sudah dimulai sebelum krisis. “Pertolongan pertama pada stres” yang diberikan selama krisis dan “bantuan pemulihan” yang diberikan setelah krisis pada setiap tenaga kesehatan, akan meningkatkan kemungkinan individu dapat pulih dan menjalani kehidupan lebih baik.

Lembaga sebaiknya membuat kelompok yang bertugas mengidentifikasi kebutuhan tenaga kesehatan untuk dukungan fisik, logistik, dan psikososial yang nyata di tempat kerja dan di rumah selama krisis. Pastikan bahwa rencana yang dilakukan lembaga kesehatan mencakup dimensi logistik dasar, komunikasi, dukungan psikososial, dan kesehatan mental. Dalam membuat rencana untuk mendukung tenaga kesehatan, ketahuilah bahwa hambatan untuk mencari dan menerima bantuan mungkin lebih besar berasal dari mereka yang berada dalam profesi menyembuhkan (dokter).

Kebutuhan tenaga kesehatan selama masa pandemi ini meliputi :

  1. Keselamatan diri para tenaga kesehatan, seperti Alat Pelindung Diri (APD), tempat mandi di rumah sakit, perlengkapan mandi, layanan binatu, dan akses mendapat layanan kesehatan berkala yang ditanggung tempat kerja.
  2. Keamanan keluarga atau panduan yang jelas tentang bagaimana menghindari penularan infeksi atau kontaminasi anggota keluarga di rumah.
  3. Perawatan bagi anak mereka, seperti tersedianya tempat penitipan anak dengan biaya rendah atau tanpa biaya di tempat yang aman. Program hibah untuk mereka yang mengalami kesulitan keuangan, daftar rujukan untuk fasilitas pengasuhan anak atau perawatan lansia setempat.
  4. Transportasi dan parkir, atau memberikan transportasi gratis untuk karyawan dan tenaga kesehatan selama pandemi mengingat minimnya sarana trasnportasi selama pandemi; atau tempat parkir yang memadai bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri.
  5. Tersedianya makanan yang sehat dan air minum sesuai kebutuhan tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit.
  6. Penginapan, yaitu tempat tinggal sementara terdekat secara gratis atau disubsidi sesuai kebutuhan tenaga kesehatan.
  7. Komunikasi yang baik antara pimpinan lembaga kesehatan dengan tenaga kesehatan, terkait krisis yang dihadapi dan kebuthan saat pandemi berlangsung.
  8. Keamanan psikologis.
  9. Jaminan tidak akan mengalami konsekuensi profesional yang merugikan tenaga kesehatan (misalnya teguran, penurunan pangkat, atau kehilangan pekerjaan) saat berbicara mengenai kendala dan kebutuhan saat pandemi, (misalnya terkait kelengkapan APD dan keselamatan pribadi selama krisis).
  10. Dukungan kelompok, dilakukan pendampingan dan dukungan bagi tenaga kesehatan saat krisis, membuat grup terapi dengan menggunakan aplikasi melalui daring yang difasilitasi oleh lembaga kesehatan.
  11. Tim krisis kesehatan mental, memberikan dukungan telepon selama 24 jam dan dapat digunakan di situs untuk acara penting, seperti kematian karyawan.
  12. Layanan kesehatan mental, ahli kesehatan (dokter spesialis kedokteran jiwa / psikiater) ditugaskan untuk secara proaktif menjangkau kelompok yang berisiko saat pandemi.
  13. Layanan tele-psikiatri, yang menjamin kerahasian dalam mendapatkan layanan psikiatri virtual (daring).

Pimpinan atau manajer tim di lembaga kesehatan memastikan semua staf di rumah sakit terlindungi dari stres kronis dan kesehatan jiwa yang buruk selama masa pandemi. Ini membuat mereka memiliki kapasitas lebih baik untuk memenuhi perannya, baik sebagai tenaga kesehatan ataupun pendukung terkait di masyarakat.

Hal yang sebaiknya dilakukan pimpinan rumah sakit, yaitu :

o     Memonitor kesejahteraan staf dan tenaga kesehatan secara berkala dan suportif, dan memelihara lingkungan yang kondusif bagi staf dan tenaga kesehatan yang ingin menyampaikan keluhan kepada pimpinan mengenai keadaaan mental mereka memburuk.

o     Memastikan adanya komunikasi berkualitas dan informasi terbaru yang akurat bagi semua staf  dan  tenaga  kesehatan.  Hal  ini  dapat  membantu   memitigasi   kekhawatiran   petugas karena ketidakpastian dan untuk menangkal rasa kehilangan kendali.

o     Memastikan staf dan tenaga kesehtan dapat beristirahat sesuai kebutuhan. Istirahat merupakan hal penting bagi kesejahteraan fisik dan mental. Dan, memberikan kesempatan bagi petugas atau tenaga kesehtan untuk menjalankan kegiatan menjaga diri yang diperlukan.

o     Mengadakan forum singkat berkala di mana petugas dan tenaga kesehatan dapat menyampaikan kekhawatiran mereka, serta bertanya dan memberikan dorongan agar sesama kolega saling mendukung. Tentu dengan tetap menjaga kerahasiaan dan memperhatikan staf atau tenaga kesehatan yang mengalami kesulitan dalam kehidupan pribadinya, semisal pernah mengalami kesehatan jiwa yang berat atau kurang mendapat dukungan sosial (mungkin karena diasingkan masyarakat).

Lembaga kesehatan sangat perlu menawarkan kelompok dukungan kepada penyedia layanan kesehatan dan sesi individual bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Lembaga kesehatan memfasilitasi adanya grup dukungan bagi tenaga kesehatan untuk bertemu secara online dengan akses yang mudah. Jika ada kekhawatiran tentang privasi, dapat menggunakan aplikasi di ponsel yang dianggap aman.

Pertolongan Pertama Psikologis

Kelompok dukungan untuk petugas / tenaga kesehatan yang memerangi COVID-19 secara gratis, bertujuan memberikan sesi konseling individu. Pertolongan pertama psikologi (psychological first aid) bisa diberikan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih. Langkah sederhana yang dapat dilakukan, yaitu mendengarkan, memberikan saran atau nasehat, tapi tidak menggurui atau menghakimi.

Sebelum seseorang membantu kebutuhan psikologis orang lain, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mendukung kondisi psikologis dirinya sendiri dulu. Membahagiakan diri sendiri, sebelum membahagiakan orang lain. Pertolongan pertama psikologis ini merupakan bantuan secara psikologis yang paling mendasar bagi orang yang sedang mengalami pengalaman atau kejadian traumatis.

Pertolongan pertama psikologis merupakan rangkaian tindakan yang bertujuan untuk mengurangi tingkat stres seseorang setelah mengalami suatu hal yang traumatis, sehingga tidak muncul dampak negatif pada diri orang tersebut. Langkah-langkah pertolongan pertama psikologi, antara lain :

  1. Melihat. Memberikan perhatian terhadap keamanan dan mengamati kondisi orang yang baru terpapar kejadian traumatis, serta memberikan kebutuhan dasar yang diperlukan. Memperhatikan gejala dan tanda yang muncul pada orang tersebut, terkait kebutuhan pertolongan lebih lanjut.
  2. Mendengarkan. Melakukan komunikasi kepada orang yang membutuhkan bantuan psikologis. Bertanya secara baik dengan nada yang menentramkan tentang prioritas kebutuhan saat ini. Mendengarkan dengan saksama dan tulus, ketika mereka bercerita dan membantu untuk membuatnya lebih tenang.
  3. Merangkum dan menghubungkan. Membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar, membantu mereka menghadapi masalah sesuai dengan kapasitas dan keahlian kita. Bila memerlukan bantuan dan pertolongan psikologis, kita bisa memberikan akses kepada tenaga profesional.

Kita dapat membantu diri sendiri dan orang lain untuk melalui masa krisis saat pandemi COVID- 19, dengan tetap menunjukkan sikap jujur, dapat dipercaya, menghargai setiap keputusan yang diambil oleh orang lain, tidak menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta bersikap sesuai dengan adat dan budaya setempat. Penting bagi lembaga kesehatan dan tenaga kesehatan untuk saling melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mencegah atau menangani kondisi kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan saat pandemi COVID-19.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Shapiro DE, Duquette C, Abbott LM, Babineau T, Pearl A, Haidet P. Beyond Burnout : A Physician Wellness Hierarchy Designed to Prioritize Interventions at the Systems Level. The American Journal of Medicine. 2018.
  2. Shanafelt T, Trockel M, Ripp J, Murphy ML, Sandborg C, Bohman B. Building a Program on Well-Being : Key Design Considerations to Meet the Unique Needs of Each Organization. Academic Medicine : Journal of the Association of American Medical Colleges. 2019;94(2) : 156-161.
  3. Shanafelt T, Swensen SJ, Woody J, Levin J, Lillie J. Physician and Nurse Well-Being : Seven Things Hospital Boards Should Know. Journal of Healthcare Management / American College of Healthcare Executives. 2018;63(6):363-369.
  4. Kishore S RJ, Shanafelt T, Melnyk B, Rogers D, Brigham T, Busis N, Charney D, Cipriano P, Minor L, Rothman P, Spisso J, Kirch DG, Nasca T, Dzau V. Making The Case For The Chief Wellness Officer In America’s Health Systems : A Call To Action. Health Affairs Blog. 2018.

https://www.healthaffairs.org/do/10.1377/hblog20181025.308059/full/.

  1. Shanafelt TD, Noseworthy JH. Executive Leadership and Physician Well-being : Nine Organizational Strategies to Promote Engagement and Reduce Burnout. Mayo Clinic Proceedings. 2017;92(1) : 129-146.
  2. Noseworthy JH, Madara, J., Dosgrove, D., Edgeworth, M., Ellison, E., Krevans, S., Rothman, P., Sowers, K., Strongwater, S., Torchiana, D., Harrison, D. Physician Burnout is a Public Health Crisis : A Message to Our Fellow Health Care Ceos. Health Affairs Blog. 2017.

https://www.healthaffairs.org/do/10.1377/hblog20170328.059397/full/

  1. Shanafelt TD, Schein E, Minor LB, Trockel M, Schein P, Kirch D. Healing the Professional Culture of Medicine. Mayo Clinic Proceedings. 2019;94(8) : 1556-1566.
  2. Shanafelt T, Ripp J, Trockel M. Understanding and Addressing Sources of Anxiety Among Health Care Professionals During the COVID-19 Pandemic. Jama. 2020.
  3. Singer SJ. Successfully Implementing Safety Walkrounds : Secret Sauce More Than a Magic Bullet. BMJ Quality and Safety. 2018;27(4) : 251-253.
  4. Sexton JB, Adair KC, Leonard MW, et al. Providing Feedback Following Leadership Walkrounds is Associated With Better Patient Safety Culture, Higher Employee Engagement And Lower Burnout. BMJ Quality & Safety. 2018;27(4) : 261-270.
  5. Catatan Tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah COVID-19 Versi 1.0. Inter-Agency Standing Committee. Mphs.refgroup@gmail.com.