PKRS RSST – Zat besi berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Zat besi bekerja dengan meningkatkan kadar hemoglobin ke sel, jaringan, dan organ yang rusak, sehingga meningkatkan proses penyembuhan.

Kekurangan zat besi pada anak termasuk masalah kesehatan yang sering kita temui. Ini dapat terjadi pada banyak tingkatan, dari defisiensi ringan hingga anemia defisiensi besi, yakni anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Apabila tidak segera ditangani, anemia defisiensi besi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Tidak hanya itu, anemia defisiensi besi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh pada anak, sehingga lebih rentan terserang penyakit. Oleh karena itu masalah ini memerlukan cara penanganan dan pencegahan yang tepat.

Bagaimana Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi?

Dapat dilakukan antara lain dengan cara :

  1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan.

Mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup. Namun karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi besi. Makanan yang kaya zat besi termasuk daging, sayuran, dan biji-bijian seperti sereal yang diperkaya zat besi.

Memakan beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 – 80 % vitamin C akan rusak. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat, tannin.

Pastikan anak-anak mendapatkan cukup zat besi.

  1. Suplementasi zat besi.

Pemberian suplemen besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat.

Sementara itu, jika penanganan dengan suplemen tidak mampu mengatasi gejala yang dialami dengan cepat, umumnya pada anemia yang berat dengan Hb rendah, dokter merekomendasikan untuk transfusi sel darah merah. Konsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala anemia.

Apabila anemia defisiensi besi terlanjur terjadi dan disebabkan oleh perdarahan atau gangguan penyerapan zat besi, penanganan yang bisa dilakukan adalah melalui pemberian obat. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Julia Fitriany dan Amelia Intan Saputri. 2018. Anemia Defisiensi Besi. Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia. Jurnal Averrous Vol. 4 No. 2.
  2. Masrizal. 2007. Anemia Defisiensi Besi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II.
  3. Maria Abdulsalam, Albert Daniel. 2002. Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi. Subbagian Hematologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2.
  4. Demaeyer. 1995. Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Widya Mendika Jakarta.