dr. Kanina Sista, Sp.F – Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan pemberitaan seorang artis yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Masalah kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi di masyarakat yang dapat menimpa siapa saja, sayangnya banyak kasus yang tidak terungkap sehingga menjadi fenomena gunung es. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu korban merasa kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya merupakan kekhilafan sementara, rasa cinta dan sayang kepada pasangan berusaha untuk memaklumi dan mencoba untuk mengerti perlakuan pasangannya, ketakutan akan ditinggalkan pasangannya, ataupun sebab lain seperti norma-norma tertentu yang diyakini oleh korban.

Selama ini kasus KDRT dianggap identik dengan kekerasan fisik seperti pemukulan dengan tangan atau benda, penamparan, dan lain-lain, ternyata KDRT tidak hanya berupa kekerasan fisik. Menurut Undang-undanga Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, KDRT merupakan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  1. Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik merupakan perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Kekerasan dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Kekerasan fisik yang ringan seperti mencubit atau menampar walaupun tampak ringan apabila dibandingkan dengan yang kita dengar dari televisi atau media sosial. Pada kekerasan fisik, tidak terdapat kata “lebih baik” atau “lebih buruk”, karena luka berat seperti kematian dapat dimulai dari tindakan seperti mendorong. Dan walaupun kekerasan fisik terjadi hanya satu atau dua kali, tetapi tetap harus diwaspadai karena dalam sebuah studi dinyatakan bahwa jika korban pernah mengalami kekerasan satu kali, kemungkinan besar akan terjadi lagi di hari kemudian.

  1. Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual juga dapat terjadi dalam lingkup rumah tangga yaitu berupa pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut atau dapat pula terjadi pemaksaan hubungan seksual dengan tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.

  1. Kekerasan Psikis

Kekerasan psikis merupakan perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Contoh kekerasan psikis adalah mengkritik, merendahkan, atau mengurangi kepercayaan diri korban, hal ini juga mencakup ancaman, penghinaan dan pengendalian perilaku. Dampak dari kekerasan psikis sangat jelas dan terukir dalam yang dapat menyebabkan dampak yang mungkin lebih besar dari kekerasan fisik.

  1. Penelantaran Rumah Tangga

Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Penelantaran dapat berupa penelantaran pendidikan, gizi ataupun emosional.

Penelantaran ini berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  1. Suami, isteri dan anak;
  2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
  3. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Orang yang bekerja membantu rumah tangga, dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.

Tanda Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Sebagian korban tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami KDRT. Bagi korban yang menyadari kekerasan terhadap dirinya, korban takut untuk melaporkan karena dewasa ini, kekerasan dalam rumah tangga pun terkadang masih dianggap tabu, sehingga tidak mudah bagi korban untuk menceritakan masalah yang dihadapinya. Hal ini menyebabkan orang lain di luar lingkup rumah tangga tersebut kesulitan untuk mengetahui atau membantu. Berikut adalah beberapa tanda KDRT yang dapat diidentifikasi :

  1. Korban mengalami kekerasan fisik.
  2. Korban memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan cidera yang dialaminya.
  3. Korban cenderung terlambat untuk berobat (luka tidak diobati).
  4. Korban berulang kali pergi ke rumah sakit akibat kekerasan fisik.
  5. Perubahan perilaku menjadi lebih pasif atau ketakutan berlebihan.
  6. Korban sering mencoba untuk bunuh diri.
  7. Korban sering menghindari kontak mata.
  8. Korban mengalami malnutrisi atau dehidrasi.
  9. Korban dibatasi dalam bersosialisasi.

Mengenal Perilaku Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  1. Dominan

Pelaku kekerasan merasa harus dominan dalam hubungan tersebut. Pelaku mungkin membuat keputusan yang harus / wajib dipatuhi tanpa pertanyaan. Pelaku mungkin dapat memperlakukan anda sebagai pelayan, anak kecil atau milik mereka.

  1. Penghinaan

Pelaku kekerasan akan melakukan segala hal yang dapat dilakukannya untuk dapat menurunkan harga diri korban. Jika korban merasa tidak berharga, maka korban akan merasa tidak ada orang lain yang menginginkan mereka sehingga korban tidak akan kabur dari pelaku.

  1. Isolasi

Pelaku sering kali memisahkan korban dengan dunia luar agar  meningkatkan ketergantungan korban terhadap pelaku.

  1. Mengintimidasi dan Mengancam

Pelaku kekerasan seringkali mengancam atau menakut-nakuti korban agar korban tunduk atau mengancam akan melakukan hal yang lebih mengerikan jika korban menceritakan atau melaporkan kepada orang lain.

  1. Penyangkalan

Pelaku mahir memberikan alasan untuk hal-hal yang telah dilakukannya, bahkan pelaku dapat menyalahkan bahwa hal tersebut dimulai oleh korban.

Karena banyaknya kasus yang tidak dilaporkan, apabila anda maupun orang terderkat anda mengalami KDRT, sebaiknya tidak diabaikan begitu saja. Kita harus mewaspadai berbagai bentuk KDRT seperti yang telah dipaparkan. Mari berperan dalam penghapusan KDRT sehingga dapat tercipta lingkungan yang nyaman dan damai.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1226/Menkes/SK/XII/2009 tentang Pedoman Penatalaksanaan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Rumah Sakit.
  3. Domestic Violence and Abuse. Helpguide.org. Diakses 19 Februari 2021.