Tim Promkes RSST – Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan yang tergolong dalam penyakit tidak menular. Dampak negatif dari kecelakaan lalu lintas seperti kerugian materi, kesakitan, dan kematian dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangan untuk meminimalisir kecelakaan lalu lintas seperti yang tercantum dalam peraturan Kepmenkes No. 1116 Tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.

Menurut Global Status Report on Road Safety (2013), sebanyak 1,24 juta korban meninggal tiap tahun di seluruh dunia dan 20-50 juta orang mengalami luka akibat kecelakaan lalu lintas. Data WHO menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak di dunia dengan rata-rata angka kematian 1000 anak dan remaja setiap harinya pada rentang usia 10-24 tahun. Kecelakaan lalu lintas di Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberkulosis berdasarkan penilaian oleh WHO.

Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Banyaknya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia seiring dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat. Peningkatan jumlah kendaraan jenis sepeda motor memiliki angka paling tinggi di antara jenis kendaraan bermotor lainnya.

Kecelakaan lalu lintas menurut Undang-undang No. 22 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 24 adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda. Lalu lintas merupakan pergerakan kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan.

Kecelakaan merupakan suatu kejadian tidak terjadi secara kebetulan melainkan disertai suatu penyebab yang dapat dicari tahu guna melakukan tindakan preventif. Kecelakaan dapat menimbulkan dampak ringan sampai berat baik berupa materi maupun non materi.

Kecelakaan memiliki tiga faktor penyebab utama yakni faktor manusia, kendaraan, dan lingkungan yang terbagi dalam tiga tahap pra, saat, dan pasca-kecelakaan. Faktor dalam tahap pra-kecelakaan guna mencegah terjadinya kecelakaan, faktor dalam tahap saat kecelakaan guna pencegahan cedera, dan faktor dalam tahap pasca-kecelakaan guna mempertahankan hidup. Pengetahuan, penggunaan jalur dan kecepatan berkendara merupakan komponen faktor perilaku yang tergolong faktor manusia tahap pra-kecelakaan.

Perilaku merupakan respons manusia (faktor internal) yang muncul akibat adanya stimulus yang berasal dari luar (faktor eksternal). perilaku terbagi dalam tiga domain yakni pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pengetahuan merupakan proses penginderaan yang dilakukan oleh seseorang terhadap suatu objek yang menghasilkan sebuah pemahaman (tahu) mengenai suatu objek tersebut.

Undang-undang No. 22 Tahun 2009 pasal 81 ayat 5 menyatakan bahwa seseorang mendapatkan SIM apabila telah memenuhi syarat lulus ujian teori, praktik, dan keterampilan melalui simulator. Ujian teori merupakan salah satu ujian terkait segala tata cara dan aturan berkendara yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendapatkan SIM. Tingkat pengetahuan mengenai peraturan terkait tata cara berkendara mempengaruhi tindakan seseorang saat berkendara.

Pengaruh pengetahuan berlalu lintas, merupakan sebuah pemahaman yang tentunya harus diketahui oleh setiap pengendara kendaraan. Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh bagi pengendara kendaraan dalam berlalu lintas dengan pengendara yang lainnya.

Undang-undang No. 22 Tahun 2009 pasal 108-109 merupakan peraturan yang terkait penggunaan jalur lalu lintas. Pengendara kendaraan baik bermotor maupun tidak yang melaju dengan kecepatan rendah harus menggunakan jalur jalan sebelah kiri. Jalur sebelah kanan hanya boleh digunakan ketika kendaraan mengubah arah, membelok kanan, mendahului kendaraan lain, serta melaju dengan kecepatan tinggi.

Batas kecepatan tertinggi pada setiap jalan telah ditetapkan secara nasional dan diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 2009 pasal 21. Peraturan Pemerintah RI No. 43 Tahun 1993 pasal 80 menyebutkan bahwa batasan kecepatan maksimum yang diizinkan untuk kendaraan bermotor di jalan kelas I, II, dan IIIA dalam sistem jaringan jalan primer untuk mobil penumpang, mobil bus, dan mobil barang, serta sepeda motor adalah 100 km/jam.

Kecepatan kendaraan saat melaju di jalan berbanding lurus dengan tingkat keparahan kecelakaan lalu lintas. Menurut WHO, rata-rata kenaikan kecepatan 1 km/jam menyebabkan kenaikan risiko keparahan kecelakaan lalu lintas sebesar 4-5%.

Rentang usia siswa SMP berada pada masa remaja tengah yang merupakan masa peralihan dari masa anak menuju dewasa. Masa remaja merupakan tahap di mana terjadi perubahan fisik dan psikis yang berpengaruh pada pola pikir, sikap, dan pola perilaku. Remaja juga memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku menyimpang karena berbagai hal yang disenangi akan dilakukan oleh remaja tanpa mempertimbangkan untung rugi.

Siswa SMP menjadi pengendara sepeda motor baik di lingkungan sekitar tempat tinggal maupun di lingkungan sekolah. Kepentingan pribadi merupakan salah satu alasan siswa SMP mengendarai sepeda motor di lingkungan rumah. Siswa SMP menjadi pengendara sepeda motor dengan atau tanpa sepengetahuan orang tua.

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu dampak negatif dari adanya tren gaya hidup remaja dalam bergaul yakni dengan menjadi pengendara sepeda motor bawah usia. Selain itu, pengaruh dari teman sepermainan yang banyak menjadi pengendara sepeda motor juga dapat mempengaruhi anak bawah usia 17 tahun untuk menjadi pengendara sepeda motor. Hal tersebut sesuai dengan teori konvergensi yang menyatakan bahwa terdapat peran yang sama besar antara lingkungan dan pembawaan yang dimiliki dalam menentukan perkembangan individu.

Pencegahan terhadap kecelakaan lalu lintas berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pengguna jalan termasuk pengendara sepeda motor terkait peraturan lalu lintas. Kejadian kecelakaan lalu lintas dapat disebabkan oleh ada tidaknya implementasi dari pengetahuan yang dimiliki oleh pengendara sepeda motor mengenai segala hal terkait peraturan lalu lintas dan tata cara berkendara.

Peluang terjadinya kecelakaan lalu lintas dapat meningkat akibat rendahnya pengetahuan seseorang dalam hal berkendara. Pengetahuan yang rendah terkait arti rambu lalu lintas, risiko bahaya apabila melanggar aturan lalu lintas, serta sanksi akibat pelanggaran lalu lintas memicu timbulnya perilaku pengendara untuk melanggar aturan lalu lintas. Pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara dapat menjadi awal penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Pemahaman yang kurang mengenai suatu konsep pengetahuan mengenai suatu peraturan dapat menimbulkan perilaku yang mencerminkan tidak taat pada peraturan. Terdapat pengaruh yang kuat antara pemahaman anak bawah usia terhadap ketaatan pada peraturan lalu lintas. Ketidaktaatan para pengguna jalan data menjadi faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang untuk melakukan upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas antara lain seperti kondisi kendaraan, sarana prasarana, dan faktor lingkungan baik fi sik maupun sosial. Pihak sekolah memberikan pendidikan lalu lintas mulai dari larangan mengendarai sepeda motor pada anak bawah usia serta peraturan lain terkait rambu lalu lintas dan tata cara berkendara. Pihak sekolah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk memperlancar proses pemberian pendidikan lalu lintas kepada siswa, namun hal tersebut belum dapat membentuk perilaku taat siswa terhadap peraturan lalu lintas. Kenyataan menunjukkan masih banyak ditemukan pelanggaran yakni anak bawah usia mengendarai sepeda motor dan terlibat pula dalam kejadian kecelakaan lalu lintas.

Dengan demikian diperlukan pemahaman akan pentingnya perilaku tertib dan disiplin dalam berlalu lintas bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya pada remaja yang masih memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak untuk mendisiplinkan akan pentingnya perilaku tertib dalam berlalu lintas. Sebagai contoh beberapa waktu lalu adanya pemberitaan korban kecelakaan yang telah merenggut nyawa di jalan tol di wilayah jawa timur yang menjadi perbincangan, dikarenakan adanya kelalaian dari pengemudi yang seharusnya tertib dan disiplin dalam berlalu lintas. Namun karena kelalaian dan perilaku yang kurang disiplin dan tertib berlalulintas dari pengemudi sehingga mengakibatkan menelan korban jiwa. Perilaku disiplin dan tertib lalu lintas tentunya sangat bermanfaat bagi kita semua, dengan harapan untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan, dan tentunya menjadi tanggung jawab kita bersama dalam berkendara.

Referensi        :

  1. Badan Intelijen Negara Republik Indonesia. 2014. Kecelakaan Lalu Lintas menjadi Pembunuh Terbesar Ketiga.
  2. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. 2014. Provinsi Jawa Timur dalam Angka 2013.
  3. Departemen Perhubungan. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.
  4. Depkes RI. 2001. Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja: Pegangan bagi Dokter Puskesmas. Jakarta : Depkes dan Depsos RI Dirjen Kesmas Depkes.
  5. Hidayati, A. 2015. Hubungan Jenis Kelamin dan Faktor Perilaku Pengendara Sepeda Motor dengan Kecelakaan Lalu Lintas di Kecamatan Wonokromo Surabaya pada Siswa SMP Tahun 2015. Skripsi. Surabaya : Universitas Airlangga.
  6. Kutsiyah, N. 2011. Pengaruh Perilaku Pengemudi Sepeda Motor dan Lingkungan terhadap Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas di Kabupaten Sidoarjo Tahun 2010. Skripsi. Surabaya : Universitas Airlangga.
  7. Mohan, D., Tiwari, G., Khayesi, M., Nafukho, F.M. 2006. Road Traffic Injury Prevention: Training Manual. India : WHO.
  8. Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  9. Notosiswoyo, M. 2014. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa SLTA dalam Pencegahan Kecelakaan Sepeda Motor di Kota Bekasi. Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol. 13 No. 1 Hal: 1-9.
  10. Permanawati, T., Sulistio, H., Wicaksono, A. 2010. Model Peluang Kecelakaan Sepeda Motor berdasarkan Karakteristik Pengendara. Jurnal Rekayasa Sipil, Vol. 4 No. 3 Hal: 185-194.
  11. Primulyati, A.N. 2011. Fenomena Pengendara Motor di Bawah Umur di Jalan Kesatriaan Kidul Kota Magelang. Skripsi. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
  12. Suma’mur. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta : CV. Sagung Seto.
  13. Utami, H.F.T., Pitoewas, B., Yanzi, H. 2015. Pengaruh Pengintegrasian Pendidikan Lalu Lintas ke dalam Mata Pelajaran PKn terhadap Perilaku. Jurnal Kultur Demokrasi, Vol. 3 No. 3 Hal: 1-13.
  14. Zulkarnain, Hasyim, A., Nurmalisa, Y. 2014. Pengaruh Pemahaman dan Sikap Anak terhadap Ketaatan pada Peraturan Lalu Lintas. Jurnal Kultur Demokrasi, Vol. 2 No. 5.
  15. Annisa Hidayati, Lucia Yovita Hendrati. Analisis Risiko Kecelakaan Lalu Lintas Berdasar Pengetahuan, Penggunaan Jalur, dan Kecepatan Berkendara.