drg. Lydia Astari, Sp.Ort – Kebiasaan buruk oral pada anak didefinisikan sebagai pengulangan stereotipik fungsi sistem mastikasi, yang berbeda secara kualitatif dan kuantitatif dari fungsi fisiologisnya. Kebiasaan buruk biasanya berlangsung secara diam-diam sehingga membuat anak tidak sadar bahwa ia sering melakukan hal tersebut. Awalnya kebiasaan dilakukan dalam keadaan sadar, tetapi pengulangan membuat turunnya kesadaran dan respon motorik. Akhirnya kebiasaan terbentuk sepenuhnya dan menjadi bagian dari rutinitas pikiran sehingga lebih susah menghilangkan kebiasaan buruk tersebut (Goenharto dkk., 2016).

Beberapa etiologi dari kebiasaan buruk anak, yaitu : 1) Anatomi; proses penelanan yang tidak normal terjadi karena anatomi dari lidah yang ukurannya tidak normal pada rongga mulut sedangkan rongga mulut yang kecil sehingga menyebabkan anterior open bite, 2) Patologis; kebiasaan buruk rongga mulut bisa juga disebabkan karena kondisi struktur rongga mulut tertentu seperti tonsilitis dan hipertrofi nasal inferior, 3) Emosi; anak yang sedih atau kecewa akan mengisap jari untuk memberikan rasa aman, 4) Meniru; anak suka memperhatikan dan meniru orang tua, teman dan saudaranya seperti berbicara dan lainnya (Singh, 2007).

Maloklusi gigi merupakan kondisi gigitan yang menyimpang dari keadaan normal, yaitu terdapat ketidakteraturan gigi atau posisi lengkung gigi berada di luar rentang normal. Maloklusi sebenarnya bukan suatu penyakit tetapi bila tidak dirawat dapat menimbulkan gangguan fungsi pengunyahan, penelanan, bicara, dan keserasian wajah, yang berakibat pada ganguan fisik maupun mental (Laguhi VA, 2014; Wahyuningsih dkk., 2014).

Kebiasaan oral normal dilakukan pada usia 2-4 tahun. Kebiasaan oral dapat dikategorikan perlu dikhawatirkan apabila berlanjut sampai usia gigi bercampur (7-12 tahun) karena mengindikasikan bahwa anak akan memperlihatkan maloklusi gigi ke depannya (Goenharto dkk., 2016). Berbagai kebiasaan buruk oral penyebab maloklusi yang sering terjadi pada anak adalah sebagai berikut :

  • Bernafas Melalui Mulut

Stuani dkk., (2006) menyatakan bahwa anak yang memiliki gangguan pada rongga hidung akan bernafas melalui mulut. Kebiasaan bernafas melalui mulut dapat menyebabkan maloklusi gigi seperti gigi atas depan maju atau berjejal. Bernafas melalui mulut dapat menurunkan posisi rahang bawah dan lidah sehingga memperpanjang kepala, membuat tinggi wajah bertambah, gigi-gigi belakang mengalami erupsi berlebih, menghasilkan pertambahan ketinggian tulang rahang bawah, gigitan gigi depan terbuka, gigi atas maju, dan penambahan tekanan pada area pipi dari otot akibat konstriksi lengkung rahang atas.

  • Kebiasaan Menghisap Ibu Jari

Menurut Profitt dkk. (2018), kebiasaan menghisap ibu jari dapat menjadi maloklusi akibat kombinasi tekanan secara langsung dari ibu jari yang dapat mengubah pola tekanan pipi dan bibir. Tekanan pipi dari sudut mulut yang merupakan tekanan terbesar terhadap gigi belakang rahang atas meningkat akibat kontraksi otot selama menghisap dan di saat bersamaan mengakibatkan lengkung rahang atas menjadi berbentuk V. Menurut Dionne (2001) dan Stuani dkk., (2006), kebiasaan menghisap ibu jari biasanya mulai muncul pada anak usia 1-2 tahun. Apabila terus terjadi sampai usia 5 tahun dapat menghasilkan abnormalitas dari posisi gigi. Pada saat melakukan menghisap jari, terjadi perubahan tekanan/gaya pada rongga mulut. Selama menghisap, lidah tertekan ke bawah oleh jari sehingga terpisah dari langit-langit. Otot-otot di sekitar mulut mengalami kontraksi dan secara berkelanjutan menghasilkan rahang atas menyempit dan gigi-gigi depan atas menjadi maju.

  • Kebiasaan Menjulurkan Lidah

Menjulurkan lidah adalah bagian dari proses pencernaan, yang membuat posisi lidah menekan ke depan, samping atau di antara gigi selama pencernaan. Kebiasaan menjulurkan lidah menunjukkan pergerakan berlawaan terhadap arah pertumbuhan gigi selama pencernaan dan pada waktu istirahat. Kebiasaan ini dapat menjadi bad habit apabila lidah mendorong gigi atas dan bawah sehingga terjadi gigitan gigi depan terbuka. Gejala umum kebiasaan menjulurkan lidah adalah gigi atas maju atau gigitan gigi depan terbuka, bicara tidak jelas, bernafas melalui mulut, menjilat bibir sebelum menelan makanan, dan wajah menyeringai saat menelan (Jusuf, 2005).

  • Kebiasaan Mengigit Kuku

Kebiasaan buruk menggigit-gigit kuku terjadi di mana posisi gigi seri atas dan bawah menerima tekanan dari kuku. Kebiasaan mengigit kuku biasanya terjadi pada anak-anak yang sebelumnya memiliki kebiasaan mengigit jari. Penyebab kebiasaan ini adalah adalah stres, meniru anggota keluarga lain, keturunan, perpindahan kebiasaan dari menghisap jari. Kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan atrisi (menipisnya lapisan email) gigi-gigi bawah (Proffit dkk, 2018).

  • Bruxism (Kerot)

Kerot adalah kebiasaan buruk mengertakkan / menggoreskan gigi-gigi rahang atas dengan bawah, yang dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Kebiasaan ini biasanya dilakukan pada malam hari saat tidur dan tidak disadari. Kerot lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Kebiasaan ini dapat menyebabkan abrasi (terkikisnya lapisan gigi) baik gigi susu maupun dewasa, pada rahang atas dan bawah. Apabila permukaan gigi tergerus, gigi akan terasa nyeri. Kebiasaan kerot dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal, gigi patah dan kelainan sendi temporomandibula (Proffit dkk, 2018).

  • Kebiasaan Bertopang Dagu atau Menekan Dagu

Proffit dkk, (2018) menyatakan bahwa kebiasaan bertopang dagu atau menekan dagu yang dilakukan terus menerus dapat menyebabkan diskus sendi temporomandibula mengalami kerusakan atau dislokasi ke depan kondil tulang rahang bawah. Dalam kasus seperti ini, membuka mulut dapat menyebabkan kondil bergerak ke depan dan menekan diskus di depannya. Apabila ini terjadi terus-menerus, kondil dapat bertabrakan dengan tulang menghasilkan bunyi clicking dan nyeri sendi temporomandibula serta perubahan posisi rahang bawah menjadi maju (nyakil).

  • Kebiasaan Menghisap dan/atau Mengigit Bibir

Kebiasaan menghisap bibir adalah suatu kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar maupun saat sadar. Kebiasaan ini masih tergolong normal apabila terjadi pada usia sampai 3 tahun. Beberapa peneliti melaporkan bawa manifestasi dari menghisap bibir adalah gigi atas maju, hubungan geraham yang tidak normal, gigitan gigi depan terbuka, dan gigitan silang pada gigi bagian belakang. Menghisap bibir biasanya sebagai kompensasi dari posisi gigi atas yang maju dan kesulitan menutup bibir saat menelan (Yuniasih dan Soenawan, 2006). Mengigigit bibir dan memposisikannya dijepit dalam gigi bawah akan membuat gigi bawah condong ke arah lidah dan gigi atas semakin maju, peradangan pada bibir, dan terjadi gigitan gigi depan terbuka (Astuti dan Ratna, 2007).

Berbagai kebiasaan buruk oral yang terjadi pada anak-anak dapat menimbulkan maloklusi gigi. Maloklusi gigi dapat membuat anak menjadi malu dan kurang percaya diri. Ortodontis adalah dokter gigi spesialis yang mengawasi pertumbuhan dan perkembangan susunan gigi, relasi rahang, dan penampilan wajah serta menangani kebiasaaan buruk oral pada anak. Anak dapat memulai perawatan maloklusi gigi pada usia gigi bercampur dan apabila tidak berhasil, dapat dilakukan koreksi ortodonti saat usia gigi permanen.

Referensi                    :

  1. Astuti L, Ratna S. 2007. Pemakaian Lip Bumper Pada Anak-anak Dengan Kebiasaan Jelek Menggigit Bibir Bawah dan Menghisap Ibu Jari. Dental Journal Kedokteran Gigi FKG-UHT. Vol 1 no 2.
  2. Dionne W. 2001. Little thumbs. Los Angeles : Pelican Publishing Company.
  3. Goenharto AS, Rusdiana E, Nurlaili Y. 2016. Tatalaksana Mengatasi Kebiasaan Buruk Menghisap Jari (Management of Finger Sucking). Jurnal Persatuan Dokter Gigi Indonesia. 65(2):49.
  4. Jusuf L. 2005. Kebiasaan Menjulurkan Lidah dan Penanggulangannya. Medan : Universitas Sumatra Utara.
  5. Laguhi VA, Anindita PS, Gunawan PN. 2014. Gambaran Maloklusi dengan Menggunakan HMAR pada Pasien di RSGM Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal E-Gigi (Eg);2(2):1-2.
  6. Singh G. Textbook of Orthodontics. 2nd Ed. 2007. New Delhi : Jaypee Brothers Medical Publisher (P) Ltd. 165-7, 584-9.
  7. Stuani AS, Maria BBS, Maria Da CPS, Mirian ANM. 2006. Anterior Open Bite Chephalometric Evaluation of Dental Pattern. Braz Dent J. 17(1): 68-70.
  8. Proffit RW, Fields WH, Sarver MD, Contemporary Orthodontics, 6th Ed. 2018. California : Elselvier.
  9. Wahyuningsih S, Hardjono S, Suparwitri S. 2014. Perawatan Maloklusi Angle Klas I Dengan Gigi Depan Crowding Berat dan Cross Bite Menggunakan Teknik Begg Pada Pasien Dengan Kebersihan Mulut Buruk. Majalah Kedokteran Gigi UGM. 21(2): 204-5.
  10. Yuniasih EN, Soenawan H. 2006. Menghilangkan Kebiasaan Menghisap Bibir Dengan Alat Bumper. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Edisi Khusus KPPIKG XIV.