PKRS RSST – Indonesia masih dalam kondisi pandemi COVID-19. Kondisi ini menyebabkan dampak yang sangat besar hampir di semua aspek kehidupan salah satunya adalah dalam hal pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB).

Dampaknya apa?

Dengan adanya pandemi seperti sekarang ini menyebabkan terhambatnya akses untuk mendapatkan pelayanan KB sehingga dapat menyebabkan akseptor drop out KB atau putus kesertaan ber-KB. Jika kondisi ini tidak diantisipasi akan menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari di antaranya meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy). Oleh karenanya perlu diupayakan agar pelayanan KB tetap berjalan dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan dan pengendalian COVID-19.

Masa adaptasi kebiasaan baru dilaksanakan dengan memaksimalkan penerapan protokol pencegahan COVID-19 pada petugas, akseptor, keluarga serta masyarakat.

Panduan umum di masa pandemi, antara lain sebagai berikut :

Himbauan Pada Pasangan Usia Subur (PUS)

  • Sebaiknya PUS menunda dan atau merencanakan kehamilan dengan baik sampai kondisi pandemi COVID-19 berakhir dengan memperhatikan :
  1. Layak hamil
  2. Kemudahan akses mendapatkan pelayanan yang berkualitas
  • Perencanaan kehamilan dilakukan dengan memastikan bahwa memang sudah layak untuk hamil. Setelah memenuhi kriteria sebagai berikut :
  1. Usia PUS antara 20 – 35 tahun.
  2. Belum mempunyai anak atau memiliki anak tidak lebih dari 2.
  3. Jarak antar kehamilan tidak kurang dari 2 tahun.
  4. Memiliki status gizi normal yaitu IMT 18,5 – 25,0.
  5. Tidak KEK (lingkar lengan atas ≥ 23,5 cm).
  6. Tinggi Badan > 145 cm. Jika tinggi badan 145 cm ke bawah ingin hamil, pada saat persalinan harus dilakukan di Rumah Sakit.
  7. Tidak Anemia (Hb ≥ 12 g/dL).
  8. Tidak mempunyai riwayat dan atau sedang menderita penyakit kronis atau penyakit dalam kondisi terkontrol seperti Hipertensi, DM, Penyakit Jantung, Kanker, Masalah Kejiwaan, Asma, Penyakit Ginjal Kronis, Penyakit Auto Imun, (SLE, dan lain-lain).
  9. Tidak sedang menderita penyakit menular (seperti TB Paru, Malaria, IMS) atau penyakit dalam kondisi terkontrol / tersupresi (seperti : HIV, Hepatitis B).
  10. Tidak mempunyai riwayat obstetric yang buruk pada kehamilan sebelumnya, seperti : kematian janin dalam rahim, keguguran berulang, pre-eklamsi, perdarahan, seksio. Jika tetap ingin hamil, dilakukan di bawah pengawasan petugas kesehatan.
  11. Untuk calon pengantin sebaiknya calon pengantin perempuan dan calon pengantin laki-laki tidak sama-sama mempunyai penyakit atau pembawa sifat Thalassemia atau Hemofilia, karena akan berisiko melahirkan anak dengan Thalassemia atau Hemofilia.
  • Pastikan menggunakan alat atau obat kontrasepsi bagi PUS yang ingin menunda kehamilan atau tidak ingin hamil lagi. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Kementerian Kesehatan RI. 2020. Panduan Pelayanan Keluarga Berencana Dalam Masa Pandemi COVID-19 dan Adaptasi Kebiasaan Baru.
  2. Kementerian Kesehatan RI. 2020. Panduan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dalam Situasi Pandemi COVID-19.
  3. https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/
  4. https://www.ibi.or.id/