PKRS RSST – Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternum. Kanker serviks merupakan salah satu masalah utama kesehatan reproduksi pada perempuan di Indonesia. Di Indonesia kanker serviks menduduki urutan kedua dari 10 kanker terbanyak berdasar data dari Patologi Anatomi tahun 2010 dengan insidens sebesar 12,7%.

Di negara-negara berkembang, umumnya kanker serviks menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian pada wanita di usia subur. Menurut Organisasi Penanggulangan Kanker Dunia dan Badan Kesehatan Dunia, di perkirakan terjadi peningkatan kejadian kanker di dunia 300 persen pada tahun 2030.

Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini, jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 penduduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks. Kejadian kanker serviks akan sangat mempengaruhi hidup dari penderitanya dan keluarganya serta juga akan sangat mempengaruhi sektor pembiayaan kesehatan oleh pemerintah.

Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papillomavirus) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18. Adapun faktor risiko terjadinya kanker serviks antara lain : aktivitas seksual pada usia muda, berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, mempunyai anak banyak, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif), penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas.

Oleh sebab itu peningkatan upaya penanganan kanker serviks, terutama dalam bidang pencegahan dan deteksi dini sangat diperlukan oleh setiap pihak yang terlibat. Pelaksanaan program pencegahan kanker serviks membutuhkan monitoring dan evaluasi di setiap daerah, upaya terpadu harus dilaksanakan mulai dari tatanan bawah. Berdasarkan hasil penelitian Aprilianingrum, 2017, tenaga kesehatan merupakan sumber daya yang strategis untuk dapat menjalankan perannya sebagai pelaksana pelayanan kesehatan dengan optimal. Dalam kaitannya dengan pencegahan kanker serviks dari hasil penelitian Miftahil Fauza dkk, 2019 menunjukkan bahwa lebih separuh responden memiliki pengetahuan kurang baik (56,4%) mengenai kanker serviks dan deteksi dini kanker serviks metode IVA. Separuh responden tidak memperoleh informasi mengenai kanker serviks dan deteksi dini kanker serviks metode IVA (50%).

Pemeriksaan metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) merupakan salah satu metode deteksi dini / deteksi lesi pra kanker. Tatalaksana lesi pra kanker disesuaikan dengan fasilitas pelayanan kesehatan, sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia dan sarana prasarana yang ada. Pada tingkat pelayanan primer dengan sarana dan prasarana terbatas dapat dilakukan program skrining atau deteksi dini dengan tes IVA. Skrining dengan tes IVA dapat dilakukan dengan cara single visit approach atau see and treat program, yaitu bila didapatkan temuan IVA positif maka selanjutnya dapat dilakukan pengobatan sederhana dengan krioterapi oleh dokter umum atau bidan yang sudah terlatih.

Pada umumnya, lesi pra kanker belum memberikan gejala. Bila telah menjadi kanker invasif, gejala yang paling umum adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim) dan keputihan.

Tips mencegah kanker serviks (terutama di usia paruh baya) :

Langkah-langkah preventif dan proaktif dalam mengelola gaya hidup seimbang dan sehat akan mengurangi secara signifikan risiko kanker berdasarkan World Cancer Research Fund (WCRF) dan American Institute of Cancer Research (AICR.

  1. Mempertahankan berat badan sehat – hal ini dapat membantu menurunkan risiko berbagai kanker.
  2. Tetap fit – olahraga rutin 30 menit sehari berupa aktivitas fisik tingkat menengah.
  3. Tidak merokok – merokok mempunyai banyak hubungan terhadap berbagai tipe kanker.
  4. Targetkan makan 5 porsi buah atau sayur tiap hari – memilih makanan sehat dapat membantu mengurangi risiko kanker.
  5. Imunisasi – Hepatitis B dan Human Papillomavirus (HPV) dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker.
  6. Lakukan seks aman dan gunakan kondom. Salah satu taktik prevensi kanker efektif adalah menghindari perilaku berisiko yang dapat menyebabkan infeksi menular seksual, yang kemudian, dapat meningkatkan risiko kanker.
  7. Deteksi dini dengan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Pemeriksaan sendiri secara rutin dan penapisan untuk berbagai jenis kanker dapat meningkatkan peluang menemukan kanker secara dini, ketika pengobatan diharapkan lebih berhasil. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Iis Fadhillah, Wiwen Indita. 2019. Peran Petugas Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Kanker Serviks Melalui Peningkatan Cakupan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Kelurahan Campurejo Kecamatan Kota Kediri. Akademi Kebidanan Medika Wiyata Kediri.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Penatalaksanaan Kanker Serviks. 2020. Diambil dari http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKServiks.pdf.
  3. World Cancer Research Fund / American Institute for Cancer Research. Policy and Action for Cancer Prevention. In Food, Nutrition and Physical Activity : a Global Perspective. Washington DC : AICR, 2009. Diambil dari https://www.imsociety.org/manage/images/pdf/2ca813ad5e030deadcfb48666d0c528a.pdf.
  4. World Health Organization (WHO). Estimated Cervical Cancer Incidence Worldwide in 2013 & Human Papillovirus and Related Cancer in Indonesia. Diambil dari : http://www.ncc.online.ora/world.