PKRS RSST – Untuk kaum adam, masih ada nggak nih yang merokok di dalam rumah? Terus dibilangin bandel… Egh malah ada dong yang buang abu rokok di sembarang tempat.. Belum lagi asapnya yang ngebul di ruangan… Istri alhasil ngedumel… hihihi

Yuk bahas rokok dan asap rokok di dalam rumah, rumah tangga… Khususnya pada era pandemi seperti ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia menyatakan bahwa perokok lebih berisiko / lebih rentan terserang jantung dan penyakit pernapasan, dan akan lebih parah dampaknya jika terjangkit Virus Corona. Sama halnya dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang menyebutkan bahwa perilaku merokok dapat meningkatkan risiko infeksi Virus Corona atau COVID-19. Hayo perokok… gimana inih?

Buat yang nggak ngerokok, tapi ngirup asapnya gimana dong? Ini disebut dengan perokok pasif. Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok namun ada di sekitar orang yang merokok dan ikut menghisap asap rokok yang dihembuskan.

Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Dinyatakan lebih berbahaya terhadap perokok pasif daripada perokok aktif. Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif, 5 (lima) kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, 4 (empat) kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin. Jadi, seorang perokok pasif merupakan individu yang tidak memiliki kebiasaan merokok, tetapi harus menghirup asap rokok yang dihembuskan oleh orang sekitarnya yang merokok.

Meski tidak secara langsung merokok, perokok pasif bisa turut terkena dampak buruknya juga. Makin sering seseorang terpajan atau terpapar asap rokok, makin tinggi pula risiko gangguan kesehatan yang dialaminya.

Asap rokok sangatlah berbahaya, terutama jika ada anak / balita di rumah. Anak / balita yang terpapar asap rokok berisiko mengalami gangguan saluran nafas. Bukan hanya kesehatan pada anak perokok pasif yang terganggu, kemampuan akademik anak juga bisa lebih rendah dibandingkan anak yang tidak terpapar asap rokok. Selain itu, anak yang dibesarkan oleh orang tua yang merokok cenderung menjadi perokok saat mereka besar nanti. Jadilah contoh yang baik bagi anak, dengan berhenti merokok. Selain baik untuk kesehatan anak, berhenti merokok juga mendatangkan manfaat bagi kesehatan diri sendiri. Please… Jangan racuni keluarga dengan asap rokok.

Yuk yang masih merokok, boleh banget belajar untuk berhenti merokok… (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Rita Kartika Sari, Siti Thomas Zulaikhah, Livana PH. Perbedaan Pengetahuan Perokok Aktif dan Perokok Pasif tentang Bahaya Rokok. Kendal : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan. 2019.
  2. Elsy Putri Parwati, Muhammad Ali Sodik. Pengaruh Merokok pada Perokok Aktif dan Perokok Pasif Terhadap Kadar Trigliserida.
  3. Septian Emma Dwi Jatmika, M.Kes & Muchsin Maulana, S.KM., M.PH. Tingginya Paparan Asap Rokok di Dalam Rumah pada Balita. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan.
  4. Isnaini, M. U., Zulfiri R., & Misrawati. 2012. Pengaruh Kebiasaan Merokok di Dalam Rumah Terhadap Kejadian ISPA pada Balita. (online) jurnal.umnes.ac.id.
  5. who.int/indonesia
  6. https://www.instagram.com/p2ptmkemenkesri/
  7. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/awas-racun-rokok-yang-menempel-di-perabotan-dan-bahayanya