Tim Promkes RSST – Sungguh sangat sayang sekali jika kita tidak menemukan hal yang bisa membuat kita tertawa. Dalam sebuah studi baru menunjukkan bahwa tertawa membuat kita lebih bahagia. Tubuh dan pikiran kita saling berhubungan. Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.

Itulah prinsip sebuah studi meta analisis di Amerika. Ilmuwan telah membuktikan kebenaran di balik kalimat “murah senyum bikin bahagia”, yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Menurut penelitian, tersenyum atau tertawa dapat merubah suasana hati kita meskipun kita merasa bahwa tidak ada yang bisa ditertawakan. Mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Kadang sulit memaksakan diri sendiri untuk tertawa.

Humor dalam segala situasi

Humor adalah kemampuan dan keinginan bereaksi terhadap sesuatu dengan santai dan ceria. Ada kalanya humor dianggap tidak pas dalam situasi-situasi tertentu Contohnya, situasi yang berkaitan dengan penyakit atau kematian. Namun dalam sebuah artikel menyatakan sebaliknya. Humor tetap bisa kita terapkan walau dalam keadaan sakit. Humor dapat membantu orang-orang yang bekerja di bidang perawatan paliatif agar mereka tidak kehilangan akal sehatnya, karena mereka hampir setiap hari dihadapi dengan kematian. Humor mencegah perasaan kelesuan dan berperan sebagai antioksidan untuk kesehatan otak kita. Selain itu, humor juga bisa menjadi mekanisme mengatasi rasa sedih bagi mereka yang menghadapi kematian.

Jika orang-orang yang menghadapi kematian masih bisa berusaha untuk mencari humor dalam hidup mereka, maka kita tentu bisa menerapkan humor kita saat terjebak dalam kemacetan.

Tertawa Hanya Butuh Latihan

Namun, tertawa juga butuh latihan. Sebagai langkah pertama, cobalah untuk merefleksikan diri. Tentu lebih mudah untuk menertawakan kejadian yang sudah lalu. Tapi kejadian sehari-hari yang kita alami juga bisa menjadi bahan tawa.

Latihan terapi tawa melibatkan gerakan fisik yang mempengaruhi kontraksi denyut jantung, laju pernafasan, gerakan tangan dan kaki pada tubuh memiliki efek yang hampir sama dengan orang yang melakukan olahraga (Beckman, Regier dan Young, 2007; Kataria, 1999). Pada saat tertawa, tubuh menghasilkan endorfin yang memberi efek pengurangan rasa sakit, menurunkan hormon stres, dan meningkatkan imunitas (Greenberg, 2002) sehingga dapat menurunkan kondisi stres yang dialami oleh subjek. Endorfin diproduksi dan dikeluarkan oleh pituitary gland, dilepaskan saat latihan fisik yang berkesinambungan serta pada saat tertawa. Pada beberapa penyakit yang diderita oleh pasien, salah satunya hipertensi, akan diberikan saran untuk melakukan latihan dan olahraga seperti berjalan, berlari, aerobik, berlatih tertawa, meditasi, dan semua latihan tersebut bertanggung jawab akan dilepasnya hormon endorfin. Hormon ini memberikan perasaan senang dan mood yang baik (Rokade, 2011).

Dengan demikian melakukan hal-hal tersebut, hidup kita tidak akan hanya lebih mudah, tetapi juga sedikit lebih bahagia, seperti hasil penelitian tersebut. Peran dalam terapi tawa menyumbang pengontrolan tekanan darah dan penurunan kondisi stres, sementara efek terhadap fisik yang langsung dirasakan adalah kondisi tubuh yang terasa segar, pegal-pegal dan pusing yang berkurang. Efek psikologispun dirasakan salah satunya dengan meningkatnya emosi positif seperti perasaan senang, perilaku yang lebih bersemangat, dan dapat mengurangi atau mengalihkan pikiran dari permasalahan. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Rokade, P. B. 2011. Release of Endomorphin Hormone and Its Effects on Our Body and Moods : a Review. International Conference on Chemical, Biological and Environment Sciences (ICCEBS’2011) Bangkok.
  2. www.p2ptm.kemkes.go.id