Tim Promkes RSST – Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah dinyatakan oleh WHO sebagai pandemik dan Pemerintah Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menyatakan COVID-19 sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang wajib dilakukan upaya penanggulangan (Telaumbanua, 2020).

Dalam rangka upaya penanggulangan maka dilakukan penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Salah satu tindakan kekarantinaan kesehatan berupa Pembatasan Sosial (Social Distancing) (Nur Rohim Yunus, 2020).

Pembatasan sosial adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah. Pembatasan sosial ini dilakukan oleh semua orang di wilayah yang diduga terinfeksi penyakit. Pembatasan sosial dalam hal ini adalah jaga jarak fisik (physical distancing) (Ahyar, 2020).

Sebagai makhluk sosial kita memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain akan tetapi pada situasi pandemi COVID-19 terdapat beberapa hal yang membatasi cara kita melakukannya. Jaga jarak adalah menjadi salah satu protokol kesehatan yang harus kita jalankan demi kebaikan orang-orang terdekat kita. Tetapi… siapa bilang jaga jarak sama artinya dengan berhenti berkabar? Setelah membaca pesan ini, ayo hubungi kakek, nenek, saudara atau teman yang jauh dari kita atau bahkan tetangga kita yang sedang tidak bisa keluar rumah. Menjaga komunikasi kita dengan mereka akan membantu kita dalam menghadapi masa-masa penuh tantangan ini.

Sudah 1 (satu) tahun pandemi COVID-19 melanda. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama masa pandemi membuat seseorang sulit untuk bertemu satu sama lainnya. Karena masyarakat dianjurkan untuk tetap jaga jarak guna mencegah penyebaran COVID-19.

Pemerintah menekankan pentingnya menjaga jarak untuk mencegah penularan COVID-19. (Tim Kerja Kementerian Dalam Negeri, 2013).

Pemerintah juga menegaskan untuk menghindari kerumunan dan sering mencuci tangan dengan sabun. Jaga jarak dalam berkomunikasi sosial dengan siapapun. Hindari kerumunan, hindari tempat berkumpul karena ini memiliki risiko yang lebih besar bagi penularan COVID-19. Meski pemerintah sudah memberlakukan physical distancing, masih banyak masyarakat yang melanggar (Natalia et al., 2020).

Meski demikian menjaga jarak bukan berarti seseorang melakukan isolasi sosial. Sebagai makhluk sosial manusia juga perlu berinteraksi dengan yang lainnya. Tetapi kita harus cerdik agar tetap dapat bersosialisasi namun masih tetap menaati protokol kesehatan yang baik dan benar sesuai dengan arahan pemerintah.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi, namun tetap aman dari risiko penularan COVID-19 adalah dengan menggunakan gadget. Anda dapat melakukan panggilan telepon atau fitur video call untuk tetap menjalin komunikasi dengan teman atau keluarga terdekat.

Dengan menjaga komunikasi dengan keluarga, teman atau orang lain, kita bisa saling memberi kabar dan semangat sehingga kita tidak merasa kesepian, sedih atau terasing. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Kandari Nahira, Fadjriah Ohorella. 2020. Penyuluhan Physical Distancing Pada Anak di Panti Asuhan Al-Fakri. Universitas Megarezky Sulawesi Selatan Indonesia. Jurnal Abdimas Kesehatan Perintis. Hlm 37-38.
  2. Instagram : ditjenkesmas
  3. https://covid19.go.id/
  4. http://dinkes.salatiga.go.id/