dr. Nov Sugiyanto, Sp.A – Inisiasi Menyusui Dini atau lebih dikenal dengan IMD sebetulnya sudah ada semenjak dahulu. Hanya saja dulu baru berupa pemahaman bahwa dalam setengah jam bayi sudah harus menyusui. Saat ini, dengan ada penelitian yang telah dilakukan, IMD memperkenalkan sebuah teknik baru dimana sebaiknya bayi setelah lahir langsung melekat pada ibu. Bagian yang paling penting adalah perlekatan kulit bayi dengan ibu minimal 1 jam setelah kelahiran. Untuk tahapan awal, memang bayi tidak bisa langsung mencapai puting. Biasanya bayi akan mengulum jempolnya sehingga tangan bayi tidak perlu dibersihkan. Puting ibu juga tidak perlu dibersihkan karena mengandung bakteri yang baik untuk perkembangan usus bayi. Dengan melakukan IMD sebagai proses menyusui pertama, ibu akan mengeluarkan kolostrum yang merupakan susu awal yang berwarna kekuningan seperti kuning telur dan kental.

RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sendiri sudah melakukan IMD semenjak tahun lalu sehingga ibu tidak perlu lagi khawatir untuk ini. Tapi yang perlu diperhatikan bahwa untuk melakukan IMD, dokter dan perawat harus melihat kondisi ibu dan bayi pasca kelahiran. IMD bisa dilakukan apabila ibu dan bayi berada dalam kondisi yang sehat sehingga tidak ada kontra indikasi. Untuk ibu yang melakukan operasi caesar tetap bisa melakukan IMD, hanya saja apabila ibu kehabisan darah dan dalam kondisi yang lemah, IMD tidak perlu dilakukan. Ada beberapa tahapan yang harus dipersiapkan dalam proses IMD :

  1. Ibu disarankan untuk mengurangi atau tidak menggunakan obat kimiawi. Hal ini berguna untuk mencegah supaya ASI yang akan diminum bayi tidak tercampur dengan obat kimiawi.
  2. Setelah bayi lahir, secepatnya dikeringkan tanpa menghilangkan vernix (kulit putih) karena vernix akan membuat bayi merasa nyaman.
  3. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi. Bagian kepala bayi merupakan salah satu tempat keluar panas terbesar sehingga perlu diperhatikan. Apabila perlu, bayi dan ibu diselimuti.
  4. Bayi dibiarkan untuk mencari sendiri puting susu ibu dan tidak perlu dipaksakan. Pada dasarnya setiap bayi memiliki naluri kuat untuk mencari puting susu ibu.
  5. Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai.
  6. Setelah selesai menyusu awal. Bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K dan tetes mata.
  7. Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal. Rawat gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan menyusui.

Kegunaan IMD dan juga menyusui bagi ibu sangat banyak karena bagi ibu yang menyusui bisa terhindar dari kanker ovarium dan payudara. Selain itu proses involusi atau kembalinya rahim ke bentuk semula juga lebih akan menjadi lebih  cepat. Hal ini kotraksi di rahim sehingga membantu rahim kembali ke bentuk semula. IMD juga akan memperkecil faktor kematian bayi karena daya tahannya lebih besar dan juga perlekatan kulit yang menghangatkan.

Sungguh banyak manfaat ASI bagi kesehatan ibu dan bayi, selain mengandung imun atau daya tahan untuk bayi, ASI juga bisa membantu menjalin kasih sayang bayi dengan ibu, mencegah infeksi, mencegah diare pada anak serta mencegah alergi. ASI juga kaya akan gizi, mudah dicerna serta mampu membantu menunda kehamilan selanjutnya bagi ibu. Bagi ibu yang sibuk, proses menyusui bisa diakali dengan memerah ASI dan disimpan dalam kulkas atau freezer sehingga bisa bertahan cukup lama. Semoga penjelasan ini bisa membantu bagi kesehatan ibu dan bayi di masa yang akan datang.