dr. Adika Mianoki, Sp.S – Sejak pertama kali muncul di Wuhan, Cina di akhir bulan Desember tahun 2019, infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) atau Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemic selama berbulan-bulan. Karena cepatnya penambahan jumlah pasien COVID-19,  SARS-CoV-2 dinyatakan sebagai pathogen poten dengan berbagai manifestasi  klinis. Selain gejala pernapasan yang khas muncul pada COVID-19, penyakit  ini juga dilaporkan menyebabkan gangguan saraf pusat dan perifer pada  beberapa kasus.

Secara umum, gejala kelaianan saraf bisa melibatkan gangguan kelaianan saraf pusat dan gangguan saraf tepi atau saraf perifer. Temuan neurologis yang dilaporkan pada pasien COVID-19 berkisar dari keluhan klinis seperti nyeri kepala dan pusing berputar hingga  penyakit / sindrom neurologis spesifik seperti meningitis / encephalitis, penyakit serebrovaskular akut, sindrom Guillain-Barré, dan sindrom Miller Fisher.

Beberapa mekanisme infeksi virus SARS-COV2 yang menyebabkan kerusakan sistem saraf antara lain disebabkan karena hal-hal berikut : 

  • Virus SARS-CoV2 menginvasi langsung ke susunan saraf pusat malalui olfactory nerve karena terdapat banyak reseptor ACE-2 di susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan ensefalitis atau infeksi otak.
  • Adanya infeksi COVID-19 memicu proses inflamasi hebat di dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya kondisi hiperkoagulasi yang meningkatkan risiko stroke iskemik.
  • COVID-19 dapat merusak sel-sel jantung dan pembuluh darah yang memicu terbentukan trombus di jantung dan pembuluh darah atau gangguan katup / irama jantung yang bisa menyebabkan terjadinya stroke iskemik (emboli).
  • COVID-19 juga bisa memicu terjadinya trombositopenia dan koagulopati yang bisa meningkatkan risiko pendarahan termasuk di susunan saraf pusat.
  • COVID-19 juga bisa memberikan dampak jangka panjang pada sususan saraf pusat dengan gejala berupa gangguan kognitif ataupun gangguan memori yang bisa bertahan cukup lama atau bahkan menetap pasca pasien terinfeksi.

Gejala klinis kelianan saraf yang muncul dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  • Infeksi otak berupa encephalitis, meningitis, ataupun meningoencephalitis.
  • Penyakit cerebrovascular seperti stroke infark maupun stroke perdarahan.
  • Kejang
  • Penyakit neuromuscular seperti GBS ataupun Mille Fisher syndrom.
  • Gejala neurologis lain seperti nyeri kepala, dizzines, ataxia, gangguan penciuman, nyeri otot, dan lain-lain.

 

Dapat disimpulkan bahwa adanya keterlibatan masalah neurologis pada pasien COVID-19 cukup beragam. Diharapkan agar pasien dan setiap tenaga kesehatan yang merawat  pasien COVID 19 dengan manifestasi gangguan penyakit saraf untuk selalu waspada.