dr. Hastomo Agung Wibowo, Sp.OT – Frozen shoulder adalah suatu gejala berupa kaku yang disertai nyeri pada sendi bahu seseorang. Keadaan ini bisa terjadi baik tanpa ada riwayat sebelumnya ataupun dengan pencetus seperti benturan setelah terjatuh ataupun cidera pada saat berolahraga. Keluhan ini paling sering terjadi pada pasien dengan usia antara 40 dan 70 tahun. Sendi bahu yang terdiri atas kapsul sendi mengalami kondisi peradangan sehingga menyebabkan ruangan sendi menyempit sehingga menyebabkan terbatasnya gerakan sendi bahu, yang diperberat juga dengan nyeri.

Frozen shoulder dapat dibagi menjadi 2 (dua) kondisi yaitu primer dan sekunder. Dikatakan primer, jika penyebabnya tidak dapat diketahui. Contohnya pada pasien dengan riwayat Diabetes, atau pasien dengan gangguan kelenjar thyroid. Pada 15% kasus, didapatkan adanya riwayat trauma yang ringan pada sendi bahunya. Pada jenis sekunder, penyebabnya jelas. Contoh pasca terjadi trauma yang berat seperti benturan keras pada saat kecelakaan, ataupun setelah tindakan pembedahan pada area bahu. Atau bisa juga didapatkan pada pasien yang tidak menggerakkan sendi bahu dalam waktu yang lama akibat pasca serangan stroke. Banyak pendapat ahli yang menyebutkan bahwa kondisi ini akibat proses peradangan dari sendi bahu itu sendiri, namun beberapa juga menyebutkan bisa diakibatkan karena kondisi lainnya seperti kekakuan pada leher ataupun gangguan pada saraf.

Ada beberapa fase pada frozen shoulder. Yang pertama adalah fase nyeri. Nyeri bisa terjadi pada 2 hingga 9 bulan. Nyeri ini awalnya pada sendi bahu dan dapat berkembang ke area siku bahkan hingga area tangan. Nyeri ini bisa terjadi dalam keadaan diam, dan sangat memberat ketika tangan digerakkan, bahkan pada beberapa kondisi bisa terjadi gangguan tidur. Fase kedua adalah fase kekakuan. Fase ini terjadi biasanya pada 4 hingga 12 bulan. Sendi bahu menjadi bertambah kaku, terutama pada posisi ketika mencoba meletakkan tangan dibelakang punggung atau kepala. Pada kondisi lainnya kekakuan ini hingga menyebabkan sendi bahu sangat sulit untuk diangkat tanpa bantuan tangan lainnya. Fase ketiga adalah fase pemulihan. Fase ini dapat terjadi pada 5 hingga 26 bulan. Pada fase ini nyeri dan kaku mulai berkurang dan pasien mulai dapat menggerakan sendi bahunya lebih baik. Dari keseluruhan fase tersebut didapatkan waktu dari 12 hingga 42 bulan, dengan rata-rata keseluruhan fase adalah 30 bulan.

Apabila terjadi kondisi ini, dokter bisa melakukan pemeriksaan baik fisik maupun penunjang. Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan rontgen X-ray, ultrasonografi, CT Scan, hingga MRI sesuai dengan kecurigaan penyebab terjadinya keluhan ini.

Pengobatan yang bisa dilakukan adalah sesuai dengan hasil kelainan yang didapatkan dari resume keseluruhan pemeriksaan. Pada fase nyeri, obat-obatan pereda rasa nyeri dan anti inflamasi dapat diberikan. Bisa juga dikombinasikan dengan kompres ataupun elektroterapi pada area bahu, dan tindakan imobilisasi sementara. Fisioterapi yang dapat dilakukan contohnya adalah TENS (Transcutaneous Nerve Stimulation) ataupun dikombinasikan dengan akupuntur, untuk mengatasi nyeri. Jika sudah masuk ke fase kekakuan, fisioterapi spesifik berupa gerakan tertentu yang dilakukan secara rutin, untuk menjaga gerakan sendi bahu tetap pada struktur dan fungsi yang seharusnya. Justru pada fase ini dilakukan tindakan mobilisasi. Jika pada pemeriksaan didapatkan kondisi tertentu yang cukup berat, dan dengan tindakan konservatif tidak didapatkan perbaikan, maka dapat dilakukan tindakan operasi dengan tekhnik minimal invasif.

Pada kesimpulannya, frozen shoulder adalah suatu keluhan yang umum terjadi di masyarakat. Penyebabnya sangat bervariasi. Dengan penanganan yang tepat dengan para ahli medis, maka akan memberikan hasil yang sangat baik.